
Setelah menebas, dia mendekati Rigrit.
"Tidak aku sangka malam yang gelap ini, akan ada penyusup." Kata Nori.
Kedua orang itu saling memandang sekitarnya, untuk memastikan tidak ada mayat hidup yang tiba-tiba muncul.
"Tuan kecil, kita harus waspada aku akan menyerang ketua yang sedang bersembunyi." Kata Rigrit dengan serius.
"Ok berhati-hati lah!" Nori berteriak dengan pendengaran yang sangat tajam dia bisa ber reaksi ketika ada suara yang menyerang.
Setelah membuat izin, Rigrit melemparkan belati itu ke arah ruang kosong, kecepatan belati itu sangat cepet dan melesat.
Belati itu menembak ruang kosong di lantai, tapi dia tahu bahwa Zaro sedang bersembunyi di situ, dan belati itu melesat dan langsung tengelam kegelapan.
"Brengsek! Aku ketemu!" Zaro tidak bisa menampar mulutnya dia tidak menyangka persembunyianya akan cepat terungkap.
Zaro langsung keluar dari kegelapan, dengan melomoat kaki nya menempel di dinding, setelah menempel dia melompat ke arah Rigrit, dan tidak lupa dia membawa tongkat itu untuk menebas Rigrit.
"Dentang!"
Belati Rigrit mencoba menahan tebasan tongkat milik Zaro. Awalnya, dia bisa menghalau dan akibat halau an itu kedua senjata memunculkan percikan kembang api.
Tapi tiba-tiba belati itu terpotong menjadi dua bagian karena tongkat yang di miliki Zaro mengeluarkan cahaya kuning seperti neon.
Setelah tahu bahwa belati itu terpotong, Rigrit memutar seperti gangsing untuk mendekati Zaro dari sisi kiri. Setelah itu tangan kanan Rigrit mencekram pergelangan tangan Zaro yang sedang memegang tongkat, setelah mencekram dia menarik Zaro, dia menedang dengan siku kaki ke arah dada Zaro.
"Bang!"
Zaro terkena serangan di dadanya mundur beberapa langkah, dengan itu dia melotot ke arah Rigrit dan berkata. :"Bajingan sialan!"
Setelah meneriakai, Zaro mengayunkan dan melempar tongkatnya ke arah Rigrit.
Rigrit di samping itu, bereaksi dengan menghindar, tapi setelah berhasil menghindar tiba-tiba Zaro sudah tiba di depannya dengan itu Zaro yang kekutanya sudah di perkuat langsung mengepal tinju nya langsung menyerang perut Rigrit.
"Awas hati-hati!" Nori meneriaki dan membuat peringatan.
"Puf!"
Rigrit terlempar dan menabrak dinding hingga dinding itu, roboh dan berlubang. Nuwa dan lainya yang sedang memejamkan matanya karena berpura-pura tidur, langsung bangun dan semuanya langsung bergegas ke arah Rigrit.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa?" Nuwa menghampiri Rigrit yang sedang terkapar dan dia juga melihat dari mulut indah milik Rigrit yang penuh darah.
Dia berdiri dan sambil duduk, Rigrit mengusap darahnya sambil menatap Zaro dengan ganas, lalu berkata. "Aku tidak apa apa!"
Melihat bahwa situasi tidak baik, Zaro ahirnya membuat keputusan untuk melarikan diri. Karena dia yakin jika dia tetap naif dan terus melawan maka dia akan menemukan kematian.
Zaro ahirnya memerintahkan selusin mayat hidup untuk menyerbu mereka setelah itu, dia tengelam dalam kegelapan melarikan diri.
"Hey kamu tidak bisa melarikan diri!" Nori berteriak, Setelah itu dia berkata kepada Ibunya. :"Ibu..! Aku akan mengejar penjahat itu!"
"Tapi! Biar ibu saja yang mengejar!" Kata Nuwa dengan cepat. Dia tidak ingin terjadi sesuatu terhadap anaknya.
Nori mengelengkan kepalanya terus berkata lagi denga n serius. "Tidak ibu jangan kawatir aku sudah mempunyai tubuh Vampir di atas Lv3, aku tidak kawatir dengan luka! Mohon ibu biar aku yang mengambil tindakan, dan ibu yang menjaga di sini dan merawat Rigrit."
Nuwa ahirnya setuju, dia memutuskan untuk Nori yang mengejar dan berkata. "Ok nak, kamu berhati-hati lah!"
"Terimakasih Ibu..!" Dengan itu dia di pungung nya menumbuhkan sayap kelalawar dan terbang. Baginya setelah mendapatkan penciuman hewan rubah yang di berikan oleh Fai dia tidak akan kesusahan untuk mengejar Zaro.
Setelah menumbuka sayapnya dia keluar lewat jendela dan terbang..
Sementara itu, Zaro yang berlari dalam kegelapan dia ahirnya sudah di dekat gang-gang yang sempit dan petang.
Tapi ketika dia sedang terbang tiba-tiba dari depan ada cahaya yang berkedip sangat cepat dan itu mencoba menyerang dirinya, sehinga dia mengutuk keras di dalam hatinya, bahwa bajingan siapa lagi yang berani menyerang nya.
Dia menghindari dengan panik. Tapi dia melihat ada anak kecil sekitar umur enam atau tujuh tahun sedang terbang mengarah dirinya dan itu sangat cepat. Anak kecil itu terbang mengunakan seperti sayap dan di tangan kanannya dia membawa pedang yang sangat bagus.
"Tidak baik!"
Zaro menghindari bahwa bocah itu terbang sangat cepat, dan sudah di depan nya dia juga melihat pedang itu akan menebas dirinya.
Tebasan itu sangat cepat tapi Zaro bereaksi dengan menahan mengunakan tongkat milikinya. Walau dia menahan, kekuatan tebasan itu sunguh kuat sehinga dia tidak kuat dan terpental jatuh turun ke bawah.
Zaro meluncur ke bawah dan jatuh terguling-gulins seperti salto dan ahirnya berhenti setelah menabrak gerobak kosong.
"Batuk!"
"Batuk!"
"Batuk!"
__ADS_1
Zaro batuk keras sambil memegang dadanya akibat terjatuh keras sehinga sesak. Dia menoleh ke atas melihat bentuk wajah bocah itu.
Dia melihat di kegelapan malam bocah itu mataya menyala merah dan menatap marah ke arah dirinya. Dia seperti pernah melihat bocah itu, Zaro mencoba mengingat-ingat.
Setelah dalam perenungan dia kaget hinga ingin pingsan dia sudah tahu siapa bocah itu, bocah itu adalah adik Fai yang hendak dia bunuh.
Dia tidak menyangka ternyata bocah itu juga memiliki kekuatan dahsyat. Zaro mencoba menyerang dengan suara geramaan tubuhnya berubah sedikit kekar dan kukunya bertambah panjang dan runcing, matanya juga berubah menjadi menyala.
"Sikat!"
Zaro melompat setelah terjatuh, lompatan itu sangat cepan dan dia sudah ada di sisi Nori. Setelah mendekati Nori, dia menedang perut kecilnya sangat keras.
"Bom!"
Nori meluncur kebwah dan menabrak tanah, Nori mencoba berdiri tapi tiba-tiba ada tangan yang penuh cakar sudah di dekatnya, dan itu tangan yang penuh cakar mencoba menebas tangan kanan Nori.
Tangan Zaro menebas tangan kanan Nori yang sedang membawa pedang. Tapi, tebasan itu sekali lagi gagal, tangan kanan gagal menebas, kemudian tangan kiri itu yang ngangur langsung menebas tangan kanan Nori.
"Sikat!"
Tangan kanan Nori, terkena tebasan oleh cakar Zaro sehinga terpotong dan tangan Nori hanya tingal bagian kiri saja yang utuh.
"Tangan aku putus!"
Karena menjadi buntung Nori marah langsung menyerang mengunakan tangan kirinya. Tangan kiri itu memunculkan cakar yang tajam.
Nori menyerang tubuh Zaro, terkadang serangan itu lolos dia mengunakan kakinya untuk menendang Zaro.
Ketika tendangan itu berhasil, tapi sekali lagi ketika kaki kecil itu menyentuh perut Zaro, tiba-tiba kedua tangan Zaro memegang kaki itu. Setelah memegang dia membanting ke kiri dan kekanan sehinga tanah menjadi rusak.
Setelah membantinga dia Zaro menendang dengan keras di area perut Nori, sehinga Nori, terpental dengan lemas dan terjatuh.
Nori tidak panik dia menatap ganas ke arah Zaro, dia menatap Zaro tapi, tiba-tiba sosok Zaro menghilang dan sudah ada di depan dirinya.
Kemudian setelah dekat Zaro mengayun tangannya yeng penuh kuku panjang, kuku panjang itu langsung menusuk mata kiri Nori dengan kejam.
Darah itu menciprat di area semua tanah.
Setelah menusuk mata bagian kiri, tangan Zaro menebas tangan kiri Nori sehinga terputus lagi.
__ADS_1