Dewa Yang Maha Kuasa

Dewa Yang Maha Kuasa
Bab 37


__ADS_3

Kota Aksu walau tidak sebaar kota-kota di negara bagian lainya, tapi dengan keindahan dengan di kelilingi hutan dan gunung, itu membuat kota ini di lihat dari kejauhan itu menjadi mengagumkan.


Walau begitu masih ada sedikit tabu, pro dan kontra, di tengah kota ini jalan jalam bersih dan sedikit terawat.


Tapi jika anda melihat lebih dalam, akan terkejut. Karena kota itu tempat berkerumunya manusia tingkat bangsawan dan tingkat rendah.


Ketika anda berjalan di kota Aksu dengan menyamping, anda akan melihat betapa kelam kota itu.


Wilayah kumuh, pengemis dan masih banyak lagi.


Di pingiran kota Aksu ini, melihat ada sebuah reruntuhan rumah.


Dan di wilayah kumuh terdapat rentuntuhan rumah, itu ada beberapa orang kelompok yang bisa di hitung dengan mata.


Orang itu ber lima.


Dan di sekumpulan orang itu ada wanita paruh baya, yang sedang cemas dan panik.


Wanita paruh baya itu menangis sedih dengan pelan, di samping dia ada beberapa gadis yang sedang menenangkan wanita itu.


"Bagai mana ini, kenapa dia belum kembali." Nuwa panik setengah mati.


Setelah kematian Suaminya dia hanya meningalkan kedua harta karun baginya yaitu Nori dan Fai.


Jika terjadi sesuatu terhadap kedua anaknya dia, pada ahirnya tidak akan semangat dalam hidup.


"Tenang saja dia pasti kembali." Bella mencoba menenangkan ke gelisahan Nuwa.


Tina dan lainnya mengangukan kepalanya setuju.


"Tuan pasti tidak akan kalah karena dia sangat kuat."


Bella dan lainya begitu banyak berbicara, untuk menenang kan Nuwa.


Dan pada ahirnya Nuwa menghela nafas, tapi dia dalam hati masih panik.


Menurut apa yang di katakan gadis itu, bahwa Fai kuat jadi dia hanya menelan secara mentah-mentah.


Tapi..


Geng itu berkelompok dan pastinya tidak semudah membalikan telapak tangan.


Apakah Fai bisa membawa Nori?


Setelah dalam perenungan Nuwa mengepalkan tangannya dia berharap dapat membawa dengan hidup-hidup secara utuh.


Tepat ketika suasana sedang dalam kenpanikan Nuwa dan lainnya melihat retakan ruang di depan matanya.


Semua orang menjadi serius.


Semua orang melihat retakan celah ruang yang terbuka dan mengeluarkan beberapa tiga sosok.


Dua lain nya memiliki tubuh kecil dan itu seperti sekitar enam atau delapan tahun, terus yang satunya dia memiliki tampilan dengan wajah pahatan yang sempurna dan tatapannya seperti pedang.

__ADS_1


ke tiga orang itu adalah Nori, Luwi dan Fai.


"Aku kembali." Fai memandang mereka dengan lembut.


Tapi, mereka raut wajahnya masih terpana dan belum sempat mencerna terkejutannya yang ada di depannya.


Dan pada ahirnya yang bereaksi duluan adalah Nuwa dia berlari ke arah Fai.


"Kamu ahirnya kembali nak... aku menghawatirkan kamu." Nuwa sangat gembira suasana dia seperti Rolerkoster begitu naik turun.


"Tenang ibu, aku sudah kembali dan membawa adik dengan utuh." Fai berkata mencoba menenangkan sambil menepuk-nepuk pungungnya.


Nuwa masih menangis mengomel-ngomel.


Ketika beberapa menit, ahirnya suasana hati Nuwa mereda dan kemudian menganguk ke dua anaknya.


"Ini tidak bermimpi, ini benar ahirnya kamu kembali dengan utuh."


Lalu dia memandang bocah kecil yang di bawa Fai baru saja.


"Nak siapa dia? Begitu banyak bocah di sini apakah kamu akan merawat dan menjadi anak-anaknya?"


Nuwa membuat sebuah lelucon, Fai juga menangapi dengan menyentuh hidungnya dan tidak berdaya.


Kemudian Nuwa baru sadar, walau ada gadis kecil di samping itu juga ada beberapa wanita cantik di sisi Fai.


Tiba-tiba dia berpikir di hatinya.


Apakah Fai akan memperkenalkan calon istri?


"Oh perkenalkan dia adalah para sahabat dan wanita aku." Fai menujuk semua dan memperkenalkan dengan cara terang-terangan.


"Puff!"


Mereka bertiga tidak bisa tersedak, apakah Fai menjadi berkulit tebal?


"Kamu!" Tina melototi dengan wajah tersipu, tapi tidak bisa membantah.


Elia juga tidak kalah merah wajahnya. Tapi dia tidak berkata.


Hanya Bella yang bisa menahan perkataan tak tahu malau Fai.


Setelah beberapa saat, pada ahirnya Fai menceritkan keseluruhan bagai mana menyelamatkan Nori dan pembantai an geng serigala angin.


Nuwa setelah mendengarkan keseluruhan apa yang di katakan Fai ahirnya lega.


Tapi Bella dan lainnya tercengang dia sunguh terpana.


Apakah Fai begitu menakutakan? Dia membantai resimen itu sendirian.


Belum lagi bakat yang tadi dia perlihatkan yaitu Fai bisa merobek ruang?


Anda tahu bakat ruang atau merobek ruang itu sangat langka di benua ini, itu pun pernah ada orang yang mempunyai bakat itu, di zaman dulu dan tidak pernah muncul lagi.

__ADS_1


Tapi sekarang Bella melihat dengan kepala telanjang, Fai mengunakan bakat untuk merobek ruang.


Tiba-tiba ke ingintahuan nya menjadi lebih tingi, terhadap Fai.


Setelah beberapa waktu, karena rumah Fai mengalami runtuh, maka dari itu dia mencari rumah yang baru dan pastinya harus layak huni.


Setelah beberapa waktu pada ahirnya Fai membeli rumah baru, tapi itu letaknya sudah berjauhan dengan wilayah kumuh.


Rumah itu besar seperti istana, dengan beberapa lusin kamar, setidaknya bisa menampung banyak orang.


Setelah itu, Fai pergi ke dapur.


"Hey kemana kamu?" Bella bertanya ingin tahu.


"Aku memasak hidangan buat para tamu." Fai berkata dengan lugas.


"Boleh kah aku membantu?" Bella berkata langsung.


"Itu tidak perlu, kamu hanya duduk manis bersama Ibu dan lainya, karena kamu tamu, maka pantasnya aku yang membuat hidangan." Fai menolak langsung tanpa berpikir panjang.


Ahirnya Bella tidak memaksakan lagi.


Setelah ke dapur, Fai mengeluarkan monster kelinci di bersihkan di olah dan di masak.


Dia juga tidak lupa mengunakan sihir pencipta untuk membuat dua jenis bumbu masakan yang ada kehidupan sebelumnya di bumi.


Fai sedang memasak dan tiba-tiba bau harum mengema di ruangan itu.


"Ini.!" Mereka mencium bau pertama kali yang aneh tapi bau itu sangat harum, sehinga tanpa sadar membangkitka rasa lapar.


Fai juga tidak lupa menciptakan Bir Shoju, berapa lusin.


Setelah hidangan selesai dia mennyerahkan hidangan itu, kepada semua orang-orang.


Ketika makanan itu, di sajikan di para meja, mereka menatap dengan mata cerah.


Nori dan Luwi tidak tahan langsung meraih daging kelinci itu.


"Melahap!"


Nori dan Luwi melahap makanan dengan rakus.


Melty juga ahirnya mengikuti.


"Wow! Makanan yang di buat Tuan selalu mengugah rasa lapar aku.


Tina, Elia juga memakan dengan mata cerah.


Bella ketika menyantap sedikit mengerutkan kening. Rasa ini sunguh nikmat, tapi dia merasa aneh.


Karena dia pecinta makanan dan sudah tak terhitung mencicipi berbagai makanan, tapi kali ini melihat ber bagai makanan dengan rupa yang sama, tapi sesdikit aneh.


Rasa setiap makanan itu berbeda-beda sehinga dia meras aneh.

__ADS_1


Tapi walau aneh hidangan ini sunguh menikmatinya.


__ADS_2