
Tiba-tiba Fai cemberut kepada Zaro, dia mengira bahwa dirinya adalah manusia rendahan yang tidak bisa mengikat ayam.
Anda ingin berpura-pura di paksa di hadapan semua orang, supaya mengangap anda itu keren dan merendahkan dia?
Seperti dalam perenungan Fai bahwa Zaro ini seperti badut yang mengonggong dengan sangat keras dan begitu mencolok. Fai tidak ingin repot-repot untuk mengotori tangan ini dengan menyentuh badut yang bawel.
Kemudian Fai memandang kepada Zaro. Lalu berkata sambil mengejek. "Kamu benar-benar tak tahu malu, Kamu hanya mengeretak anak misikin!"
"Kamu..! Zaro malu, dilihat dari faktanya, dia berani berurusan dengan Fai karena dia tidak memiliki kekuatan. Tapi dia bersikeras dan berakata lagi.
"Kamu harusnya menyadari hal itu, kamu tidak ingin terluka maka menyingkirlah dengan pintar."
"Kamu diam!..Aku menyukai dia tidak ada hubungan dengan mu!" Bella berkata dengan gunung yang naik turun karena marah. Setelah itu, dia menarik Fai untuk meningalkan Zaro. Fai juga tidak repot-reopot dengan tangan kiri di tarik Bella terus tangan kanan dia, menarik Elia.
Fai melewati Zaro yang sedang marah. Sebelum melewati Fai berkata dengan licik tapi tidak keras dengan itu Fai berkata seperti ini. :"Kamu dasar badut."
Tiba-tiba Zaro jelek seperti memakan lalat dia juga berteriak dengan marah. "Fai kamu bajingan yang hanya bersembunyi di belakang wanita!"
Suara itu sangat keras sehinga memicu para tamu untuk ikut menghina.
"Nak dasar tak tahu malu!"
"Beraninya kamu bersembunyi di belakang wanita!"
"Jika itu aku, aku sudah memutuskan dan menyerah untuk menjadi menantu!"
Mata Fai mengernyit, bahwa metode Zaro cukup licik sehinga bisa menghasut selusin tamu.
Sementara itu, Aludra juga panik karena apa yang dia lihat bahwa Fai itu manusia biasa. Tapi apakah ada manusia biasa yang di hina di depan banyak orang masih tetap tenang tanpa panik? Jika itu orang lain mungkin sudah lemas lututnya hinga kencing di celana.
Tapi Fai masih kokoh, seperti tidak ada sesuatu terjadi apa-apa bahkan, dia melihat dari orang tua Fai dia tidak memiliki jejak kepanikan ketika anaknya di hina bahkan dia masih memunum teh dengan nikmat.
Tiba-tiba dia teringat apa yang di katakan Mulan bahwa juara pertama dan sekaligus yang mengalahkan Grey juga orang yang bernama Fai.
Ini tidak mungkin apakah itu dia? Di suatu saat Aludra sangat ingin tahu.
Di sisi Fai sedikit memandang ke arah Para penonton. Dengan itu, Fai berkata dengan tenang sambil mengunakan hipnotis. "Kalian semua sunguh berisik, telinga aku sunguh sakit."
Suara Fai seperti angin musim semi dan tidak terlalu keras tapi dengan pendengaran orang di dunia ini mestinya akan mendengarkan apa yang di katakan Fai.
Setelah Fai mengeluarkan suara tiba-tiba mulut para tamu langsung tidak bisa berbicara, itu seperti di penjara bagi mulutnya. Para tamu panik karena tidak bisa mengeluarkan suara sedikit pun tanpa sebab yang jelas.
Fai berehenti sebentar, sehinga Elia dan Bella juga ikut berhenti. Fai menoleh ke bajingan Zaro dan berkata.
"Kamu paling terbaik untuk berpura-pura di paksa. Dan menurut aku kamu hanyalah bajingan bebek yang selalu berkokok tanpa henti!"
Zaro di marahi oleh Fai sehinga dia kesal, dia menatap ganas ke arah Fai. Setelah itu dia memunculkan senjata sejenis tongkat berwarna kuning dan di hiasi permata perak yang sangat bagus.
__ADS_1
Setelah mengeluarkan tongkat Zaro menatap ganas ke arah Fai tanganya sudah mengepal erat sangat gatal sehinga dia ingin memukul Fai berkeping-keping.
Ahirnya kesabaran tak sabar.
"Bajingan sialan berani sekali kamu lancang hah!" Zaro berlari bergegas ke arah Fai.
"Sikat!"
Fai yang melihatnya mencibir dia tenang dan tidak takut, setelah itu dia menyingkirkan Elia dan Bella dari sisinya.
"Kamu mingir dulu, aku akan mebereskan badut bastard ini." Kata Fai dengan lembut kepada kedua wanitanya.
"Humm!" Kedua wanita mengaguk setuju dan dia melompat sedikit untuk mendekati Nuwa.
Fai menatap Zaro yang berlari mengarahnya, sementara itu Zaro sudah dekat di hadapan Fai. Kemudian tangan yang me megang tongkat itu, langsung menusuk ke dada Fai.
Fai masih tenang di matanya serangan Zaro lambat dan penuh cacad. Tongkat itu menusuk dada Fai, tapi dia minggir ke kiri dan tangan Fai meraih tongkat itu dengan tangan kosong.
Setelah menangkap tongkat itu kaki kanan Fai sikunya menendang perut Zaro.
"Puf!" Zaro meludahkan darah dan terpental sedikit sekitar tujuh meter dan mendarat di meja penuh makanan.
Kemudian Zaro mencoba bangun, setelah itu dia memandang ke arah Fai sambi menyeka darah di mulutnya dan berkata dengan sedikit menyeringai.
"Hahahah ternyata aku meremehkan mu, bagus sangat bagus."
"Brengsek hei hentikan!" Zhentie mencoba bergegas ke depan untuk menghentikan mereka berkelahi, tapi tiba-tiba dia di hadang oleh Agust.
"Ini adalah urusan dengan anak muda, kita yang tua tidak perlu ikut campur." Kata yang lembut itu hanyalah alasan bagi Agust.
"Kamu!" Zhenite cemberut dia memfitnah Aguts di dalam hatinya bahwa dia sangat berselingkuh dan curang kepada dirinya dan itu sangat licik sekali.
Tanpa daya Zhenite berhenti untuk bergegas ke depan, dia hanya menonton. Sebetulnya dia tidak kawatir sama sekali dia percaya bahwa Zaro di mata Fai hanyalah badut viguran yang sebentar.
Di sisi pertempuran.
Zaro melompat dan sedikit terbang dia mencoba menebas Fai dengan tongkat itu. Ketika tongkat itu sudah dekat di kepala Fai tiba-tiba tongkat itu bercahaya seperti lampu Neon dan berwarna kuning.
Melihat bahwa Fai tidak bergerak dia senang dan menyeringai bahwa operasi ini seratus persen Fai akan kalah dan dia akan memenangkan pertarungan ini. Dia sangat bahagia tapi bahagianya hanya sebentar.
Karena ketika tombak itu bercahaya kuning dan hendak menebas Fai, dia melihat dengan mata telanjang bahwa tangan Fai yang kecil dan lemas langung memegang tongkat itu.
Dia terkejut sampai lupa menyerang.
Anda tahu ketika tongkat itu bercahaya, otomatis cahaya itu sangat panas dan jika tongkat itu menyerang untuk menebas pohon besar, maka akan terpotong oleh cahaya kuning itu. Cahaya kuning itu sangat panas dan tajam.
Tapi Fai memegang cahaya tongkat panas itu tanpa merasa panas dan Zaro melihat tangan Fai bahkan tidak terpotong.
__ADS_1
Di samping Fai setelah tangan kanan memegang tongkat yang bercahaya kuning panas itu, kemudian tangan kiri Fai ngangur. Tangan kiri Fai membentuk tapak dan menghantam dada Zaro dengan ada fukultasi elmen angin.
Sekali lagi Zaro terbang lebih jauh, dia belum sempat berdiri, tapi Fai melangakahkan kakinya dengan lemas. Walau berjalan dengan lemas Fai sudah tiba di samping Zaro.
Kaki kanan Fai menginjak ke dada Zaro dengan sedikit demi sedikit di tekankan ke tanah.
"Berengsek lepaskan...!" Zaro berteriak dan menatap ke arah Fai dengan ganas.
Tapi Fai seseolah tidak mendengarkan dia masih menekan dada Zaro sedikit demi sedikit ke bawah. Sementara itu, Zaro yang di tekan dadanya merasa akan patah tulangnya dan sesak nafas.
"Fai lepaskan jika kamu melepaskan dan membiarkan aku pergi maka aku akan melupakan keluh kesah di antara kalian!" Zaro sangat panik.
Tapi Fai tidak berbicara dia memandang Zaro dengan senyum iblis dan masih menekan kakinya ke dada dia.
Nyonya Nay, melihat bahwa putranya dalam bahaya sekali lagi dia panik dan menyuruh Agust untuk bergegas kedepan.
Agust bergegas ke depan tapi di hentikan oleh Zhenite. Dia berkata bahwa ini adalah masalah anak muda dan orang tua tidak perlu ikut, sehinga wajah Agust sangat jelek di pandang.
Sementara itu, Fai menekan dada Zaro sampai mulut dia mengeluarkan darah dia sangat sesak dan susah untuk berbicara. Melihat ini, ahirnya Fai membuat suara dengan menghina. "Kamu adalah badut yang menjijikan aku tidak perlu mengotori tangan aku untuk menampar kamu."
Setelah itu Fai menendang Zaro ke samping, Zaro yang terkena tendangan itu ahirnya tak sadarkan diri.
Fai mengabaikan dan berjalan pelan untuk menghampiri Bella dan Elia.
Agust kemudian berlari ke arah Zaro. Dia memeriksa putranya bahwa di bagian dada tulang itu rusak parah dia takut jika kaki Fai di tekan lebih keras akan menghancurkan paru-parunya.
Dia sangat marah kepada Fai karena anaknya di permalukan olehnya.
"Bajingan bau, bocah kamu meminta pelajaran.!" Stelah meneriaki Agust melompat dan menyerang ke arah Fai.
Di samping itu, Fai masih berjalan pelan tanpa menoleh ke belakang. Ketika tangan Agust sudah sampai di belakang Fai dia akan mencabik tubuh Fai, tapi Fai menghindar dan memutar untuk menghadap ke arah Agust.
Setelah saling berhadapan Fai membuat tamparan di wajah Agust.
"Tampar!"
Pipi Agust terkena tamparan sehinga ada gigi yang copot dan terjatuh.
Aludri yang menonton sangat serius dia melihat bahwa Fai menampar Agust hanya mengunakan kekuatan Fisik tapi tamparan tangan yang tipis itu begitu menakutkan.
Fai menoleh Ke Aludra dengan pose merayu dan memasang senyum menawan.
Aludra di tatap Fai dengan senyum entah kenapa malu dan jantungnya juga seperti rusa berlari, sehinga tanpa sadar dia memalingkan wajahnya.
Emma di samping linglung kepalanya penuh tanda tanya.
Fai berhenti merayu, dan memandang mengarah ke Agust.
__ADS_1