Dewa Yang Maha Kuasa

Dewa Yang Maha Kuasa
Menampar Pantat


__ADS_3

Walau penampilan gadis kecil dan imut, tapi sifatnya tidak bagus Fai tidak menyukainya.


Gadis itu memesan bebrapa hidangan.


Setiap makan dia selalu menyisihkan makananya.


"Restoran bagus tetapi rasa makanan nya tidak menarik."


"Lihat ayam ini sunguh tidak enak susah sekali untuk di telan!"


"Lihat lah kacang ini! Keras seperti batu!"


Dia mengomel-ngomel tapi Fai melihat bahwa bocah kecil itu berbohong.


Fai yang sedang makan, mengabaikan sekali lagi dia menyantap makanan dengan nikmat.


Menurut nya makanan ini enak walau di bandingakan dengan skill koki Fai itu beda jauh.


Setelah mengomel bocah itu meningalakan Restoran itu, tanpa membayar.


"Ini brengsek bocah tengik..! Kamu belum membayarnya..!" Salah satu pelayan memarahinya.


Dan ada salah satu penjaga kedai itu menghampiri bocah itu.


Tapi ketika dia menghentikan bocah itu dan sudah memegan pundanya tiba-tiba bocah itu memutar tubuhnya dan menendang perut penjaga.


"Bom!"


Penjaga itu terpental menjauh dia marah tapi tidak bisa melawan.


Salah satu penjaga lainya juga mencoba menyerang, tetapi dengan mudah pengemis kecil itu menghindari serangan nya dengan mudah.


Pengemis itu melompat dan merain piring sisa yang dia makan, kemudian dia melemparakan kepada kepala penjaga restoran.


"Dentang!"


"Brengsek bocah bau, tidak bisakah membayar makanan jika memesan hidangan ini!" Penjaga dan pelayan berteriak memarahi.


"Dentang!"


Salah satu penjaga kepalanya terkena piring sehinga dia berdarah di kepalanya.


Salah satu penjaga sudah ada yang menghindar, tetapi piring itu terbang dengan tanpa pamrih bergegas menuju meja tempat hidangan Fai.


"Sikat!"


"Sikat!"


Piring itu terbang dan mengenai hidangan Fai. Mulut Fai berkedut ingin memukuli bocah kecil yang bau itu.


Tetapi Fai tidak mengambil tindakan karena dia bisa melihat bahwa bocah imut itu yang di sebut pengemis tetapi bukan pengemis.


Dengan baju compang-camping, tetapi kulit dan wajah batu giok itu masih bersih sehinga Fai menyimpulkan bahwa dia berpura-pura.


Fai meraih tangan Nori dan menjauh kerumunan pertempuran dan mendekati orang-orang yang sedang melihat pertunjukan.

__ADS_1


"Aku dengar pengemis itu sering mendatangi kedai ini?" Para tamu, yang hendak makan tetapi tidak jadi ada perkelahian.


"Stt.. diam jangan membuat pengemis itu mendengarkan?" Orang itu berbicara memarahi dengan nada rendah. Setelah itu dia berkata lagi dengan nada memberitahu. "Lihat walau penjaga kedai ini sudah memasuki Lv4, tapi di depan bocah itu, runtuh dan lemah!"


"Tapi kenapa dia selalu membuat onar di kedai ini?"


Orang yang melihat pertunjukan itu tidak bisa bertanya-tanya.


Para hadirin yang sedang melihat pertempuran itu, ada yang terkejut, terkagum. Tapi kebanyakan para kerumunan melihat bocah itu dengan marah.


Kenapa marah? Karena sifat arogantnya itu, sehinga para kerumunan sedikit membenci Pengemis itu, dan para kerumunan memihak kedai dan ada sedikit bela sungkawa.


Setiap hari bocah itu membuat onar entah bebrapa piring, gelas yang dia pecahkan?


Restoran kedai itu jelas mempunyai kerugian banyak.


..


Setelah beberapa saat pengemis kecil itu berhasil mengalahkan para pelayan dan penjaga.


Karena dia sudah menjadi Perajurit Lv6, para penjaga dan pelayan bukan lawannya.


Pengemis itu, yang telah menghajar para penjaga di restorant, kemudian pergi meningalkan tempat ini.


Setelah itu, dia memandang Fai dan berkata.


"Kamu dasar pengecut! Walau kamu tampan tapi apa?"


Pengemis itu tiba-tiba memarahi Fai.


Tapi Fai masih menahan berpura-pura takut.


Setelah itu pengemis kecil, pergi meningalkan tempat ini.


"Kakak kenapa kamu tidak membuat pukulan? buat pelajaran?"


Mengelengkan kepalanya Fai berkata: "Dia masih anak kecil akan tidak sopan untuk memukul, dan mungkin saja dia berpura-pura menjadi pengemis."


"Dan aku juga tidak ingin membuat masalah menjadi rumit. Jika aku bergegas membuat pelajaran, mungkin latar belakang dia akan mengroyokinya."


Karena Fai tidak suka hal yang merepotkan, dia lebih menjadi rendah hati.


kemudian salah satu pelayan kedai menghampirinya.


"Tuan maafkan atas peristiwa ini, sebagai konpisasi, maka kami tidak akan menagih makanan ini." Pelayan itu meminta maaf dengan tulus.


Tetapi Fai langsung menyodorkan uang itu dan berkata dengan baik. "Ambilah jika tidak ada pemasukan, maka kedai ini akan tutup, uang ini untuk membeli keperluan piring yang sudah rusak."


"Terima kasih Tuan!" Pelayan itu tidak sopan dan langsung menerima sejumplah uang.


Fai dan Nori pergi meningalkan kedai restoran.


Fai meningalkan kedai itu bersama Nori, di persimpangan jalan yang rame dan tidak rame, tiba-tiba ada bocah yang mengikuti mereka berdua.


Orang yang mengikuti adalah pengemis nakal yang tadi di kedai restoran.

__ADS_1


Dengan umur enam atau tujuh, dia sudah mencapai Lv6 itu patut di bangakan.


Karena itulah dia menjadi sedikit nakal dan menjadi arogan.


Dia mengikuti tapi diam-diam Fai mengetahuinya.


Sudah beberapa ratus meter tiba-tiba Fai mengrenyit karena dia ketika merasa di ikuti bocah itu, dia sengaja berjalan ber belak-belok.


Tapi yang tidak Fai duga dia mengikuti terus seperti Lem pranko.


"Apakah kamu sudah selsesai mengikutinya, bocah bau?" Fai memarahi.


"Yah tidak aku sangaka, aku di temukan."


Dan benar saja pengemis kecil yang nakal itu keluar dengan mengangkat bahu dan memandang Fai seseolah melihat daging yang gemuk.


Sorot mata pengemis itu membuat Fai merinding.


"Kenapa kamu mengikuti aku?" Fai tidak bisa bertanya kepadanya.


"Tidak kusangka dengan ketampanan kamu juga memiliki sedikit uang, jadi?" Pengemis kecil itu memandang Fai.


"Jadi?" Fai melototi seseolah ingin tahu.


"Serahkan sebagian uang kamu! jika tidak kamu tidak seperti para pelayan tadi."


Mulut Fai berkedut, apakah anda memaksa sebagai pengemis.


"Aku menolak, ayo adik kita pulang," Fai merain tangan Nori dan terbang.


"Hei tungu brengsek..!" Pengemis itu memarahi dan mengikuti dan terbang.


"Dia terbang?" Fai bertanya-tanya.


Jika seseorang sudah memasuki di atas Lv5 para prajurit bisa terbang.


"Hei kenapa kamu mengikuit aku, kita tidak pernah melecehkan kamu!" Fai berteriak memarahi.


Pengemis itu marah, dia tidak pernah ada yang berani menolak jika dia berbicara tapi orang di depanya menolak dan pergi sehinga dia marah.


Dia juga pergi dan terbang bergegas menghampiri Fai, kemudian dia menusuk perut Fai, dan tusukan itu mengunakan tangan.


Walau tangan itu seperti biasa dan tanpa pamrih, tapi ketajaman seperti pedang.


Ketika tangan itu menusuk Fai tiba-tiba dia tertegun dan merasakan tulang jari itu hampir patah.


Fai merasa ada yang mengelitik dengan linglung dia menoleh melihat pengemis itu sudah di sampingnya.


Tapi Fai melihat dia menusuk pungung sebelah kiri dan tatapan raut wajahnya seperti linglung.


Fai sebenarnya marah dan meraih tangan dia, kemudian setelah meraih tangannya, sehinga dia sedikit tersungkur.


"Tampar!"


Fai menampar Pantat pengemis itu, dan dia terjatuh menukik kebawah.

__ADS_1


__ADS_2