Dewa Yang Maha Kuasa

Dewa Yang Maha Kuasa
Bab 33


__ADS_3

Pengemis kecil itu menukik kebawah tak terkendali.


"Kamu berani sekali menampar pantat aku!" Setelah berdiri dia memarahi Fai sambil memegang pantatnya.


Dari kecil hinga sekarang tidak ada yang berani menampar pantat nya apa lagi dia dalam posisi malu.


Pengemis kecil itu adalah Luwi.


Dia awalnya pengemis rendahan, tetapi ketika dia di kejar-kejar karena mencuri makanan di sebuah pasar, dia tanpa sengaja berlari memasuki hutan.


Siapa yang tidak di sangka adalah, ketika dia di kepung dan situasi menjadi genting dia nekat terjun dan terjatuh ke jurang dalam.


Setelah terjun dia mencium tanah dan Luwi menjadi cedera.


Tulang pungung patah dan tulang kaki patah, sehinga dia tak sadarkan diri dan pingsan.


Tapi setelah beberapa menit berlalu ada sebuah pandangan ajaib muncul.


Darah yang mengalir dari tubuh Luwi yang akibat luka, tiba-tiba mengenai sebuah tulang hewan misterius.


Ketika darah itu mengenai tulang misterius tiba-tiba tulang itu berubah menjadi cahaya dan memasuki tubuh Luwi.


Setelah memasuki tubuh Luwi, cedera yang semula parah, tiba-tiba sembuh dengan kecepatan di lihat dengan mata telanjang.


Nafas Luwi yang hampir terputus karena sekarat, tiba-tiba menjadi teratur nafasnya.


Setelah kejadian itu, dia mempunyai kekuatan yang luar biasa dan dari orang biasa, sekarang memiliki kekuatan dengan Lv6.


Dengan umur enam atau delapan tahun, tapi sudah memiliki kekuatan Lv6, seberapa jeniuskah itu?


Sayang nya dia bertemu Fai yang mempunyai tubuh BUG sistem, jadi kenakalannya akan runtuh di hadapanya dan di lecehkan sampai malu.


"Bocah bau berani memarahi aku lagi, apakah kamu ingin mendapatkan pemukulan lagi!" Fai mengepal kan tangahnya sambil meneriaki Luwi.


Kemudian Fai terbang lagi sedikit di cepatkan.


Tapi Luwi seperti Anjig selalu membuntuti, sehinga mulut Fai berkedut.


Kemudian Fai berhenti.


"Hey bisakah kamu berhenti mengukuti aku." Fai berkata dengan dahi penuh garis hitam.


"Serahkan sebagai uang kamu dulu" Luwi tanpa takut berkata.


Kemudian dengan engan Fai menyerah kan kepingan uang sebagian kepada Luwi.


Walau dia menyerahkan sebagainya kepada Luwi tetapi hatinya berdarah tidak tulus.


Setelah menyerahkan kepingan uang dia bergegas dan terbang.


Tapi diam-diam Luwi masih mengikutinya.


Fai diam-diam marah di hatinya, dan ingin sekali menampar pantat bocah itu, untuk melampiaskan kemarahanya.


Apa yang bocah dia mau?


Fai tahu bahwa bocah itu masih mengikutinya, dengan diam-diam dia membuat sihir tumbuhan mencoba menjerat Luwi.


"Sikat!"


Luwi tidak beraksi, tiba-tiba ada sebuah pohon yang tiba-tiba memukulnya.


Dia terjatuh dan menabrak pohon-pohon.

__ADS_1


Luwi setelah menyatu dengan tulang misterius kekuatannya menakutkan, dan tanpa kelelahan.


"Hei berhenti kamu!"


Luwi meneriaki, suara itu mengelegar seperti Naga.


Fai yang mendengarkan sebenarnya, terkejut, tetapi dia masih terbang menjauh.


Luwi marah teriakan itu tidak berguna, dia meraih batu dan melemparkan ke arah Fai.


Batu itu sebesar semangka.


"Sikat!"


Fai masih mudah menghindari.


Fai berputar-putar menghindari tembakan itu, dan dia melihat kepala Nori penuh dengan burung karena pusing.


Fai terbang turun dan berhenti. Lalu dia menungu pengemis menghampirinya.


Luwi melihat bahwa Fai berhenti dan gembira bergegas mendekati Fai.


"Hei apakah kamu tidak mendengarkannya, aku bilang kamu berhenti!" Luwi menginjak tanah dengan marah.


"Bocah bau apa yang kamu inginkan? aku tidak melecehkan kamu dan aku sudah memberikan kepingan uang kepada kamu!" Fai benar marah dan tangannya gatal seseolah ingin menampar pantatnya lagi.


"Apa kamu bilang aku bocah bau!" Luwi memarahi balik dia tidak terima dengan julukan 'Bau' itu.


"Iya kamu bocah bau! kakek kamu bau, bah!! Seluruh keluargamu bau!" Fai menujuk Luwi dengan marah.


Paru-paru Luwi hampir meledak dia terengah-engah karena marah.


Setelah itu dia menekan amarahnya kemudian memandang Fai dan berkata. "Kamu mempunyai sedikit ketrampilan, ayo kita membuat geng dan aku menjadi ketuanya dan kamu menjadi bawahan pertama aku."


Memikirkan ini tiba-tiba kepala Fai menjadi besar dia heran dengan isi kepala bocah bau itu.


Apakah dia mempunyai IQ rendah?


"Aku menolaknya, aku tidak tertarik!" Fai mengelengkan kepala tanpa daya.


Kemudian setelah itu, fai meningalkan dia lagi.


"Berhenti! kamu tidak boleh menolaknya!" Luwi memaksa.


"Nak kamu begitu memaksa!" Fai tidak bisa berkata-kata, menghadapi bocah yang tidak masuk akal tiba dia tidak bisa berkata apa-apa.


"Jika kamu menolak." Luwi matanya menyipit, tetapi dengan umur enam atau delapan tahun, penampilan itu lucu.


"Yah aku menolak jadi apa!" Fai bercanda.


"Jika kamu menolak maka pukulan yang akan menundukan kamu!" Luwi berkata dengan banga.


"Sikat!"


Luwi sudah di depan Fai karena tubuh yang kecil dan lucu, dan tubuh Fai yang perkasa dan tingi, maka dari itu Luwi melompat mebuat tendangan.


Fai menyingkirkan Nori di belakangnya, kemudian tangan kanan Fai menangkap kaki Luwi.


Setelah menangkap Fai membuang dan melemparkan ke depan seperti sampah yang sepele.


Fai bergegas maju dengan berlari pelan menghampiri Luwi.


Luwi membuat tembakan dengan mulutnya mengeluarkan dan meludahkan Api.

__ADS_1


Tangan Fai melambai ke depan dan menahan api itu dengan telapak tangannya.


"Kamu terkena api, kethanan api +6."


"Terkena api, ketahanan api +10."


"Ketahanan api +30."


"Hei! Kamu mendapatkan bakat api, level saat ini Lv1."


Bunyi 'Bip' berdering lagi di benaknya.


Setelah beberapa saat Fai sudah tiba di dekat Luwi kemdian Fai meraih Luwi, tapi dia menghindari dan melompat ke atas sambil membuat tembakan api dari tangannya.


Fai juga membuat tembakan api dari tangannya.


Kemudian api dan api bertabrakan, sehinga api itu menyebar ke samping tanpa sengaja hampir melukai Nori.


"Adik kamu tidak apa-apa!" Fai berkata kepada Nori.


Nori menganguk dengan serius tetapi dari matanya dia melihat ke kaguman dari pertempuran ini, seseolah dia yang sedang melakukan nya.


"Humpp!" Luwi mendengus tidak senang dan berkata lagi. :"Kamu ternyata pengendali api, tapi jadi apa? aku adalah pengendali darah api Unicron, dengan bantuan ini sekarang aku sudah berada Lv6." Luwi berkata percaya diri tetapi penampilan ini lucu.


"Jika aku kalah, maka aku menyetujui menjadi bawahan kamu. Tapi jika kamu kalah maka secara paksa kamu menjadi pelayan budak aku."


Fai mengangkat dagunya sambil berpikir dia berkata lagi. "Ngomong-ngomong aku kekurangan pelayan untuk memasak dan mencuci."


"Itu tidak mungkin aku kalah kepa.."


Luwi berbicara banga tapi sebelum hendak selesai berbicara ada tembakan api lagi mengarahnya.


Dia melompat ke atas, tapi Fai membuat tembakan dengan sihir es sehinga dia terkejut.


"Ini.. Sihir es." Tapi Luwi masih mengelengkan kepalnya dan masih banga, tetapi suasana banga itu sekejap menghilang di ganti kan mata yang melotot ketakutan, karena Fai membuat tembakan listrik.


Luwi menghindar dengan ngeri takut terkena guntur itu.


Fai sudah memperdiksi ketia dia meghindar, Fai mengunakan langkah bayangan dan sudah tiba di depan Luwi.


"Sangat cepat!" Luwi kaget dan ada sedikit rasa takut.


Kemudian setelah Fai di depan Luwi dia menepuk pungungnya.


Luwi terjatuh tersungkur tapi tiba-tiba Fai menankapnya dengan posisi tengkurap, di pangkuan Fai dia berteriak.


"Kamu..kamu... apa yang lakukan?" Luwi mencoba melepaskan, tapi kekuatan Fai melebihi Luwi.


Dan pada saat ini tiba tiba..


"Tampar!" Fai menampar pantatnya


"Kamu menampar pantatku lagi!"


"Tampar!"


"Kamu."


"Tampar!"


"Brengsek!"


"Tampar!"

__ADS_1


Sudah tak terhitung beberapa kali Fai menamparnya, di siai Luwi dia menjerit seperti Babi dan memerah karena malu.


__ADS_2