
Bab 187 Pertarungan Hidup Dan Mati
Fai melihat bahwa peserta lain tidak ada yang mau maju, dan dia juga melihat Callin sudah tak sadarkan diri karena terkapar di luar pembatas petarung.
“Oh siall jagoan aku kalah..!’’
‘‘Ini gara-gara Arthur... ! Hey kamu seharusnya mengalah dengan wanita...! Seharusnya kamu tidak melukai wanita itu..’’
‘‘Dasar pengecut! Kamu hanya menggertak wanita saja ahhhh siall!’’
“Jika aku jadi kamu, aku akan mengalah demi wanita..’’
Arthur yang mendengakan celotehan para penduduk, mulutnya berkedut. ‘‘Siall... apakah penonton tidak mengetahui apa itu pertarungan!’’
‘‘Jika dalam pertarungan maka ada yang kalah dan menang. Terlepas dari itu wanita atau pria itu tidak masalah.’’ Arthur cemberut dan menatap ke arah wasit kemudian berkata lagi: “Wasit.. kamu harap bunyikan peluit itu. Aku sudah menenangkan pertempuran.’’
Wasit kembali tersadar dan membunyikan peluitnya.
"Pritttt!"
Kemudian wasit berkata: “Karena Callin kalah, maka hanya satu lagi yang tersisa yaitu perwakilan dari akademi sihir falas.’’
“Perwakilan itu, bernama Fai. Ayo Fai kamu majulah..’’
Suara teriakan wasit begitu menggema dan keras.
Fai juga tersenyum dan melangkah maju sambil terbang sangat tenang dan layaknya bulu yang terbang di terpa oleh angin.
Namun sebelum bertanding, Fai menghampiri Callin dan mengulurkan tangannya sambil mengunakan bakat penyembuh.
Pada saat ini, tangan Fai bersinar hijau transparan dan sinar hijau itu, memasuki ke tubuh Callin.
"Uhhhh!"
Callin mengerang sangat bahagia karena bakat penyembuh itu.
Di sisi penonton semuanya pada berdiskusi.
__ADS_1
“Lihat pemuda yang satu rekan dengan wanita Callin sedang menyembuhkan Callin yang sedang tergeletak.’’
“Hmm aku juga melihat dan apakah kamu tahu, pemuda itu sangat tampan. Jika aku dulu di masaa muda memiliki wajah seperti itu, mungkin aku mempunyai banyak istri hehehe.”
“Kamu sangat bermimpi.. jika kamu tampan tapi tidak ada kekuatan apa gunanya wajah tampan itu.’’
“Kamu benar, kekuatan adalah segalanya.”
Para penonton semuanya berdiskusi. Dan kebanyakan penonton pria dan wanita sangat mendukung gerakan Fai yang sedang menolong Callin.
Setelah mengeram bahagia, Callin akhirnya membuka dan berkata sambil terkejut: ‘‘Aku.. aku.. apakah aku kalah?”
“Betul, kamu sudah kalah semenjak dua tahun yang lalu.’’ Fai berkata sambil bercanda.
“Kamu sudah seperti biasa!’’ Callin bangun dan dia menatap ke arah Fai lagi: “Sekarang giliran kamu untuk maju. Kalahkan dia sehingga dia kehilangan muka!’’
“Baiklah, aku akan melawan Arthur terlebih dahulu.’’ Kata Fai ringan.
Setalah berkata, Fai terbang lagi dan mendekati arena petarung: “Sekarang saatnya kamu menghadapi aku lagi dan ini adalah kesempatan kamu untuk melihat aku lagi. Karena hari esok yang akan mendatang, kamu akan pergi ke dunia Yama.’’
Arthur muram dan berkata kepada wasit: “Wasit... aku akan melakukan pertarungan hidup dan mati dengan Fai...’’
“Wasit, aku sungguh-sungguh karena ini adalah pilihan aku sendiri.’’ Arthur berani karena dia sudah mendapatkan bakat kelahiran kembali jika anda mati, maka anda akan terlahir kembali seribu tahun setelah anda mati.
Wasit ragu-ragu kemudian dia berkata membuat ijin kepada raja Falas. ‘‘Tuan raja, ini pemuda bernama Arthur ingin melawan Fai dengan hidup dan mati? Bagai mana tanggapan yang mulia raja?”
Raja Falas mengerutkan keningnya. Dan dia memandang ke arah Arthur seraya berkata: “Apakah kamu membuat keputusan yang sangat beresiko? Aku sarankan kamu, bahwa menghargai hidup, lebih penting dari pada ego. Pikirkan baik-baik.’’
Arthur membalas sambil sedikit berteriak: “Yakinlah sang raja, aku sudah membulatkan tekad’’
Zesshi yang melihat keputusan Arthur jika itu dulu, mungkin akan marah dan memprotes. Tapi setelah dia mengenal Fai bahkan dia tidak repot-repot untuk memikirkan kehidupan bagi Arthur itu sendiri.
Sementara itu, Alisha dan Aludra yang sedang menonton hanya duduk sangat tenang bahkan Aludra sudah mengetahuinya setelah Alisha berkata soal Arthur.
“Aku sudah pastikan bahwa Arthur akan mati.’’ Kata Aludra sengat serius.
“Itu sudah pasti dia akan mati.” Kata Alisha ringan. Namun setelah mata itu melirik Arthur ada jejak kekesalan.
__ADS_1
“Baiklah, lebih cepat mati lebih baik juga kan.’’ Ujar Aludra.
Sementara itu, Numan tidak tahu jenis apa perseteruan antara Fai dan Arthur. Sehingga dia hanya mengerutkan keningnya.
“Mungkin aku akan berkata kepada Fai setelah pertempuran sudah selesai.” Kata Numan dia sambil melihat pertarungan sangat serius dan tenang.
Raja Falas, setelah melihat keras kepala sifat Arthur dia tidak bisa berkata apa-apa. Kemudian dia menatap ke arah Arthur dan berkata: “Baiklah jika kamu masih bersikeras maka aku, tidak akan melarang kamu untuk mengajukan pertandingan hidup dan mati.’’
‘‘Namun aku berharap kamu menang dalam pertandingan ini dan tidak mengalami kerugian yang akan mengakibatkan hal buruk kepada kamu.’’
“Baiklah aku akan berhasil, dan berhati-hati.’’ Arthur menatap ke arah raja Falas dengan hormat.
Kemudian, dia menatap ke arah Fai dan tersenyum dengan raut wajah yang sangat tidak sedap di pandang. Terus dia berkata seperti ini: ‘‘Fai apakah kamu berani bertanggung hidup dan mati?”
Fai menggelengkan kepalanya dan tersenyum lalu berkata seperti ini: ‘‘Seharusnya aku yang berkata demikian kepada kamu. Apakah kamu berani bertarung hidup dan mati dengan aku.”
Arthur mendengar kata-kata dari Fai Yan di lontarkan tadi, membuat dia murung dan marah. Lalu, dia memandang ke arah wasit dan berkata seperti ini: ‘‘Wasit... cepat hidupkanlah Pluit itu, aku ingin melawan Fai secepatnya.’’
Kata-kata yang di ucapkan Arthur sangat marah. Namun di mata itu dia tidak lepas melirik kearah Fai terus menerus.
“Hahaha!’’ Fai tertawa melihat cara Arthur yang sangat lucu seperti badut yang melompat tembok.
“Kamu masih bisa tertawa. Tapi telah, setelah pertarungan ini kamu akan tidak bisa tertawa seperti ini.” Arthur langsung menggunakan bakat dunia pedang. Seketika dari langit keluar ribuan pedang yang sangat berkedip seperti bintang yang bersinar terang dan sangat mengagumkan.
Fai melihat bakat itu, dia sama sekali tidak tertarik dengan bakat dunia pedang yang di lakukan oleh Arthur. Malahan dia menunggu sangat tenang seseolah tidak terpengaruh oleh sesuatu yang di lakukan oleh Arthur.
Kemudian Fai berkata seperti ini: “Lebih baik kamu keluarkan kekuatan yang besar untuk menyerang aku. Jika kekuatan yang luar biasa kamu keluarkan untuk menyerang aku bahkan tidak bisa melukai aku.’’
Arthur sangat muram dan cepat marah. Arthur kemudian berkata kepada Fai dengan suara yang sedikit keras. “Ok Kamu terlalu meremehkan segala kekuatan yang aku arahkan kepada kamu.”
“Fai berhati-hatilah jika tidak maka nyawa kamu akan melayang..!”
Setelah itu Arthur sosoknya menghilang dan sudah muncul di depan Fai dan tangan itu, langsung menebas pedang ke arah Fai sangat cepat.
"Hiyaaa!"
“Fai mati kamu...!”
__ADS_1
"Dentang!"