Dewa Yang Maha Kuasa

Dewa Yang Maha Kuasa
Aku Tidak Tertarik


__ADS_3

Bab 181 Aku Tidak Tertarik


Melihat Fai mengabaikan dirinya, rasanya sama sekali tidak nyaman. Bahkam dia menatap terus menerus kepergian Fai, dalam pandangannya, dia hanyalah manusia biasa. Tapi apakah ada manusia biasa yang memiliki karismatik yang sangat mematikan, setiap langkah seperti dewa yang sedang menginjak-injak alam semesta.


Sementara itu, Anya melihat bahwa Fai sedang pergi ke tempat makan. Kebetulan dirinya juga belum makan, akhirnya dia mengikuti.


Long Fai dia pergi ke tempat makan karena, dia tahu bahwa Callin sedang berada di situ.


Fai yang sudah di kantin, melihat Callin sedang duduk sambil makan sangat nyaman. Fai tersenyum dan berkata: "Bolehkah aku duduk di sampingmu?"


"Itu terserah kamu, yang penting jangan mengambil makanan aku." Kata Callin dia makan sangat lahap dan rakus.


"Kamu makanlah yang banyak, sehingga gunung kamu juga ikut berkembang." Kata Fai dia menatap Callin sambil terkekeh.


"Kamu... Uhuk.. Uhukk.!" Callin tersedak, dia berkata lagi: "Kamu apakah kamu sangat menyukai Gungung..!"


"Kamu seharusnya berkata kepada diri sendiri, sebagai wanita apakah gunung itu penting?" Fai malah bercanda.


"Cukup." Callin ingin memukul Fai karena sangat vulgar. Kemudian dia berkata lagi: "Ada apa kamu datang ke sini?"


"Aku hanya ingin melihat, sebentar lagi pertandingan akan di mulai." Ucap Fai.


"Kenapa? Apakah kamu memikirkan? Bukankah kamu tak terkalahkan?" Jawab Callin sambil menggerutu.


"Bukan masalah itu, tapi aku hanya ingin melihat ke indahan. Namun tidak ada yang menarik bagi aku, makanya aku datang menemui kamu." Fai menjawab.


Ketika Fai sedang berbincang, kebetulan ada tiga perwakilan murid dari akademi lain yang datang ke kantin untuk makan.

__ADS_1


"Yo..di sini sungguh bagus tempatnya, dan kecantikan bertebaran. Aku ingin sekali berkencan dengan kecantikan yang berada akademi ini." Pemuda itu berkata. Kemudian dia tanpa sengaja melihat Anya yang sedang duduk sendirian sambil memandang kosong ke arah Fai.


Pemuda itu bernama Evans, dia berasal dari akademi di kota percill. Evans yang di cap Playboy, langsung menghampiri Anya.


"Hei cantik, bolehkah aku duduk di sini." Senyuman Evans sangat sopan. Namun dia masih di abaikan. Tapi masih bersikeras. "Halo nama aku Criss Evans mohon salam kenal."


Anya yang sedang suasana buruk, karena sedang kesal kepada Fai, dia bertambah buruk suasananya karena ada pemuda penggangu. Dia berkata: "Aku tidak tertarik nama kamu, sebaiknya kamu menyingkirlah dari sini jika tidak jangan salahkan aku tidak sopan."


Evans tidak takut dia malah berkata lagi: "Oh sungguh wanita yang galak, aku sangat takut. Tapi, aku sungguh tertarik dengan kecantikan kamu."


Di sisi Fai, dia dan Callin kebetulan melihat perseteruan antara Anya dan Evans. Kemudian Fai berkata: "Walau Anya memilki bakat yang menakutkan, Evans juga memiliki bakat kontrol tubuh. Dia bisa mengendalikan lawan tubuh sesuka hati, sehingga ini adalah ke untunganya. Dan Anya mengalami kerugian."


"Kamu betul, walau bakat Evans tidak terlalu tinggi seperti Anya, setidaknya bakat Evans merepotkan. Apalagi dia juga mempunyai bakat satu lagi yaitu, bisa melihat masa depan tiga detik sebelum lawan menyerang." Kata Callin dia menambahkan.


"Kamu benar, tapi Anya sangat sombong, dia ingin semua orang menghargai dan memujanya. Ketika aku mengabaikan dia marah. Apakah kamu tahu, dia datang ke kantin hanya membuntuti aku.. Pff dasar wanita." Kata Fai dia tersenyum mengejek.


Di sisi Anya dia semakin emosi langsung menggunakan bakat api untuk menyerang Evans. Namun sebelum menyerang, Evans sudah siap, dia langsung menghindar dan dia menggunakan bakatnya untuk mengendalikan tubuh Anya.


Akhirnya Anya menangis. Dia baru pertama kali menangis.


Fai yang melihat tiba-tiba Anya menangis, akhirnya melirik dan dia entah kenapa setelah melihat Anya menangis menjadi dermawan.


Pada saat ini, Fai, meninju ke udara seketika ada retakan ruang yang membuka dan tinju Fai langsung memasuki ruang kosong sudah tiba di samping pipi Evans.


Evans yang tertawa akhirnya dia kaget karena tiba-tiba ada retakan ruang yang muncul dan keluar kepalan langsung memukul pipinya.


"Bom!"

__ADS_1


Evans terkena pukulan dia langsung terpental sehingga tidak sadarkan diri.


Tatapan Anya luar biasa kepada Fai. Tiba-tiba, tanpa di ketahui, Anya bahagia karena Fai menyelamatkan dirinya dan sebenarnya dia tidak mengabaikan dirinya.


"Fai..ternyata kamu sangat keren..!" Diam-diam Anya kagum dalam hati dia memuji Fai.


Namun Fai mengetahui isi pikiran Anya, dia telah menyesal karena telah membantu untuk menghajar Evans.


Kemudian Fai berkata kepada Callin: "Ayo kita pergi sudah makan banyak kita pergi ke arena petarung. Persiapan akan di mulai."


"Baiklah ayo kita pergi." Jawab Callin dia menuruti.


Ketika Fai sedang berjalan, seperti biasanya dia berjalan melewati tanpa memandang Anya. Anya yang ingin berkata terimakasih, sekarang dia mengurungkan niatnya.


"Fai kamu tunggu..!" Seru Anya kepada Fai.


"Ada apa?" Long Fai memalingkan wajah ke arah Anya. Walau dia sudah tahu namun Fai tidak perlu berterus terang.


"Kenapa kamu memandang aku seseolah tidak ada, kamu selalu mengabaikan aku kenpa..? Apakah aku tidak secantik di mata kamu? Mata kamu tidak pernah memandang sedikit sekali ke arah aku kenpa..?" Anya menjelaskan ke Fai dalam sekali tarikan nafas.


"Jika kamu bertanya, kepada aku kenapa? Coba kamu tanyakan kepada diri kamu sendiri, kamu selalu memandang remeh semua orang baik wanita dan pria seseolah kamu menganggap orang itu tidak ada, kenapa? Jika kamu tanya kenapa aku begini, maka jawabannya sama peris alasan kamu memandang rendah semua orang."


"Jika kamu menganggap semua orang tidak penting, maka jawaban aku juga. Di mata aku, kamu tidaklah penting."


Setelah itu, Fai berjalan lagi dan dia melangkahi Evans yang belum sadarkan diri.


"kamu Fai berani membuat aku malu di depan semua siswa, maka aku akan membayar kamu di arena petarung. Walau aku tadi tidak bisa berbuat apa-apa, tapi jika aku melawan kamu, aku yakin akan menang." Anya memandang Fai yang semakin jauh sosoknya hilang.

__ADS_1


Di bandingkan Evans, dia masih bisa melawan hukum ruang, dia cukup ahli dalam menebak posisi orang yang menggunakan hukum ruang.


Setelah itu, Anya juga pergi dan wajahnya kembali tanpa expresi seperti biasanya.


__ADS_2