Dewa Yang Maha Kuasa

Dewa Yang Maha Kuasa
Aludra Ingin Tahu.


__ADS_3

Di alua istana tempat Tina dan Zhenite berada.


Zhenite sedang menyeruput teh itu dengan pelan-pelan sambil menikmati pahitnya rasa teh ini. Dan di samping Zhinte juga ada tetua bangsawan yang sedang duduk bersama dengan dirinya.


"Nak! Pangil Bella untuk keluar menemui tamu!" Zhenite berteriak sambil duduk dia memerintahkan Tina untuk memangil ibunya supaya menjamu tamu.


"Baik kakek." Tina lesu tak berdaya, ahirnya mengaguk dengan patuh.


"Ibu cepat keluar! Sudah banyak orang yang berkunjung akan tidak sopan jika kamu tidak menjamu!" Tina berteriak dan menungu di depan pintu.


"Ahh iya ini akan selesai ganti baju nak!" Bella buru-buru berkata dan berhenti memandangi gunung itu di cermin.


Kemudian dia berjalan dengan cepat karena tanpa bra gunung itu sedikit turun ke bawah dan terombang-ambing.


Ketika Bella sedang berjalan, sebenarnya merasakan rasa berat karena membawa kedua gunung yang lebih besar seperti semangka. Tapi dia tidak berkecil hati, karena faktanya bahwa walau berat, demi mempunyai gunung yang besar itu tidak masalah. Bahkan Bella sekarang menjadi ketagihan dia berniat untuk meminta kepada Fai untuk di perbesar lagi gunungnya.


Bella membuka pintunya dan langsung bergegas melangkah kedepan dia tidak tahu bahwa di depan pintu ada Tina yang sedang menungu.


"Ahh!" Kedua orang itu tabrakan, di samping Tina begitu dia tertabrak tanpa bereaksi langsung ingin memarahi ibunya bahwa dia terlalu lama menungu. Tapi ketika hendak memarahi ibunya, tiba-tiba mata Tina melotot hampir mengeluarkan matanya. Dia melotot bahwa sekarang ibunya mempunyai gunung yang sangat besar tidak hanya besar tapi ini sangat besar.


"Ibu gunung kamu besar sekali!" Tina berseru dan dia membandingkan dengan ukuran kepala sendiri dengan gunung ibunya, itu tidak bisa di bandingkan.


Singkatnya gunung itu sangat besar.


Kemudian tangan Tina memegang kedua gunung milik Bella dan dia merasakan kelembutan, kenyal seperti spon.


"Uhh.. Apa yang sedang kamu lakukan nak dasar tak tahu malu!" Bella menyingkirkan kedua tangan Tina dengan nada ambigu, untungnya kedua tonjolan itu sudah Bella jepit dengan penjepit rambut kuno jika tidak dia kawatir gunung itu ketika di tekan akan mengeluarkan terus air susunya.


"Ibu aku heran kenapa setelah berlalu nya waktu gunung kamu bertambah besar?" Tina ingin tahu.


"Aku tidak tahu nak ketika bangun tidur, gunung ku bertambah besar." Bella bicara omong kosong.


Tina tidak berbicara dia tidak tahu apakah ibunya berbohong atau tidak.


Kemudian mereka berdua pergi ke aula untuk menjamu tamu. Dan begitu ketika Bella datang para tamu langsung merasakan darahnya mendidih. Para tamu melihat bahwa Janda Bella sekarang menjadi terlalu cantik dan tambah menawan, bukan hanya itu saja para hadirin yang ada di situ, melihat bahwa gunung Bella menjadi cantik dan besar, sehinga banyak orang yang ingin membelai gunung itu.


"Ya ampun, apakah dia adalah Bella sunguh cantik nya sekarang dia?" Para tamu berseru.


"Ya tuhan jika aku mempunyai wanita seperti dia, setidaknya aku akan mati dengan bahagia. Para tamu lainya juga berbicara.


Banyak orang-orang memuji penampilan Bella sehinga dia menjadi senang dan semangat bahagia.


Setelah Bella sudah tiba di aula dia di perintahkan untuk duduk di sebelah ayahnya. Tapi sebelum duduk dia melihat ada wanita yang sangat cantik dan wajah itu sangat familiar. Bella tidak jadi duduk dan berjalan menghampirinya.


Wanita yang sangat cantik adalah gurunya yaitu Aludra.

__ADS_1


Auldra melihat bahwa muridnya datang untuk menghampirinya sehinga dia memandang Bella dengan senyum lembut. Tapi mata Aludri lebih tertarik dengan gunung yang sangat besar itu. Gunung itu sangat besar, ketika dia melihat Bella sedang berjalan gunung itu bergetar dan terombang ambing dengan sempurna dan menawan.


Aludra merasa iri. Dia ingat dulu ketika masih mengajar Bella, bahwa Bella ingin mempunyai gunung yang besar seperti dirinya sehinga karena dia adalah murid satunya yang dia ajarkan, Aludri mengasih dia teknik memijat ganung.


Awal belajar gunung Bella sedikit mengembang, tapi sekarang? Sudah beberapa tahun dia tidak melihat muridnya. Tapi setelah melihat sekarang ketika dia melihat muridnya mempunyai gunung yang lebih besar dari miliknya menjadi tersaingi. Apa murid ini mempunyai teknik yang cangih?


Itulah apa yang di pikirkan Aludra.


"Selamat, Bella telah melihat guru." Bella berkata hormat kepada Aludri. Setelah itu juga dia mengangukan kepalanya kepada Emma dengan senyum.


"Sudah tiga puluh tahun lebih kamu bocah, sekarang tambah cantik dan setelah menjanda ahirnya dapat penganti hati."


"Selamat kamu telah melupakan mantan suami kamu dan ahirnya dapat mencari pria lain." Aludra tersenyum, tapi matanya secara tidak sengaja atau sengaja melihat terus di area gunung yang sangat besar itu, bahkan dia melihat dari gaun itu yang ketat, gunung itu menempel ke baju hinga sesak dan ingin keluar dari gaun itu, dan secara samar dia juga melihat tonjolan pucuk gunung di gaun yang Bella pakai.


Bella tersenyum tapi dia melihat bahwa gurunya selalu memandang gunung yang sangat besar milik sendiri sehinga dia banga dan dia mencoba berpose menegakan dadanya untuk memamerkan gunung itu kepada Aludra. Di samping itu masalah apakah dia sudah melupakah mantan suami yang meningal pada empat puluh tahun lebih, dia tidak memikirkannya sekarang. Entah kenapa semenjak kenal Fai dia dalam isi otaknya hanya memikirkan bahwa gunung yang besar ini, menginginkan di belai oleh tangan Fai setiap hari dan dia juga ingin setiap hari adik laki-laki Fai di masukan lobang pantatnya.


Bella ingin kenikmatan itu!


Tiba-tiba tangah Aludra menekan keras gunung agung milik Bella dia memastikan apakah ini asli atau hanya bantal yang sengaja di selipkan di bagian dada karena Aludri tidak percaya bahwa ada gunung yang sangat besar.


"Oww!" Bella terkejut dan merasakan sengatan kesemutan dan geli yang ada di bagian gunung itu, dan dia juga merasakan air susu yang sangat penuh di dalam gunung itu akan terciprat keluar karena tangan Aludri yang menekan gunung itu. Tapi untungya dia menjepit tonjolan itu sehinga air susu yang penuh di dalam gunung itu tidak bisa keluar.


"Ini asli!" Aludra bodoh ternyata gunung ini asli. Kemudia Aludri berbisik kepada Bella. "Murid apakah kamu memilki teknik pijat yang lebih cangih sehinga gunung itu menjadi sangat besar?"


Setelah itu Bella tersenyum sambil memejamkan matanya bahwa guru ini memuji gunung sendiri sehinga membuat senang dan menjawab perkataan guru. "Sayangnya tidak, saya hanya mengunakan teknik yang guru berikan pas waktu lalu."


Hanya bercanda.


Jika Bella berkata jujur kepada gurunya bahwa dia sekarang menjadi wanita ganas mesum, sangat cabul dan menjadi penyembah slakangann Pria untuk meremas gunung dan memuaskan kenikmatan dirinya, mungkin dia akan di tampar oleh gurunya hinga mati.


Aludra melihat raut wajah Bella bahwa itu berbohong sehinga dia mencoba mengunakan bakat telepati untuk membaca pikiranya, tapi sekali lagi dia terkejut bahwa pikiran Bella sekarang tidak bisa di baca.


"Ini aneh...!" Aludra berkata kepada diri sendiri.


Sementara itu, Bella merasa bahwa wajah guru tidak beres sehinga dia tidak bisa bertanya. "Oh guru ada apa? Kenapa wajah guru memasang wajah jelek?"


"Tidak apa-apa lupakan." Dia baru mengalami kedua kali ini tidak bisa membaca pikiran orang lain. Yang pertama dia tidak bisa membaca pikiran pemuda tampan yang dia lihat ketika dia berpapasan di pasar waktu itu.


Dan yang kedua dia tidak bisa membaca pikiran murid sendiri, sehinga dia bertanya-tanya apakah bakat telepati aku rusak.


Tentunya dia tidak bisa membaca kepada Bella adalah karena pengaturan dari Fai sendiri. Ketika Fai berpasan dengan Aludri dia membaca pikiran bahwa guru Aludri dialah guru bagi Bella.


Sehinga setiap keluarga Fai, dan wanita Fai, bahkan para pengikutnya juga mempunyai dan dibekali pertahanan yang bagus.


Apakah anda bercanda?

__ADS_1


Fai mempunyai kedua wanita yang mesum dan orentasi yang sangat menyimpang jika Fai tidak mempunyai pertahanan absolute mungkin aib wanitanya akan tersebar sehinga malu.


Sementara itu Aludri mencari topik lain. "Murid kenapa kamu tidak memakai Bra? Apakah kamu tidak malu tonjolan gunung itu terlihat."


"Umm sayangnya semua Bra aku sudah tak muat hehe!" Bella berkata jujur dia sudah tidak mempunyai bra yang pas untuk gunung sendiri karena terlalu besar.


Bella dan Gurunya sedang berbincang. Tapi tiba-tiba ada suara gaduh.


"Oi Zhenite dimana calaon tunangan kamu kenapa dia tak kujung datang!" Para tamu bertanya dengan tidak sabar.


"Iya aku sudah tidak sabar, siapa yang akan melamar anak mu!"


Salah satu tamu juga ikut berbicara.


Dengan satu yang berbicara dan menjadi dua dan tiga, ahirnya juga para tamu heboh menanyakan di mana pria yang akan melamar Bella.


Tapi ketika ruangan itu sedang heboh, ada tamu yang berteriak.


"Diam! Bangsawan Michel Lowren datang!"


Para hadirin semuanya terdiam dan tanpa sadar dia menoleh tempat koridor pintu. Para tamu melihat ada pria paruh baya dengan umur sekitar umur enam puluh tahun. Dan di samping pria itu ada wanita yang angun dengan mengunakan baju putih dan di bagian dada itu ada sedikit gunung yang menjulang. Tapi bukan hanya itu saja di depan wanita dan pria paruh baya ada gadis dengan umur lima atau enam belas tahun yang sedang berjalan dengan banga.


Gadis itu mengunakan baju pesta dengan warna biru transparan dan dia juga mempunyai rambut biru yang sangat indah.


Gadis ini yang tak lain adalah Mika Lowren, Dan Pria paruh baya dan wanita angun itu adalah orang tua Mika yang bernama, Michel dan Nael Anzhi.


Michel menghampiri Zhenite dan menepuk bahunya sambil tertawa lebar. "Oi bajengan sudah lama tidak mendengar kabar, sekali membawa kabar akan begitu menghebohkan!"


Zhenite tak berdaya dia sebenarnya sedari dulu sudah memaksa anaknya Bella untuk mencari pria untuk melengkapi separuh hati, tapi dia menolak dengan engan bahwa alsan Bella tidak mau adalah dia tidak menemukan pria yang menarik.


Kemudian Zhenite memandang Nael dan berkata dengan hormat. "Sudah lama tidak melihat kamu, ternyata tambah cantik saja nyonya Nael."


"Terimakasih aku melihat kamu juga masih bersahaja." Nael juga membalas dengan lembut, kemudian dia memandang Mika untuk menyambut Zhenite.


Mika patuh dan membuat salam. "Mika telah melihat paman."


"Oh apkah ini anak kamu, sunguh cantik." Zhenite menganguk diam-diam, dia sudah lama tidak melihat anak dari Michel dan setelah tumbuh dewasa dia baru melihat.


Sementara itu Tina yang sedang duduk sendiri yang sedang menyeruput teh tidak bicara karena belum kenal. Tapi ketika dia sedang meminum dengan nikmat tiba-tiba Zhenite menepuk pungunnya dan alhasil Tina kaget sampai air yang ada di mulut keluar menyembur.


"Oh apakah ini cucu kamu?" Nael memuji bahwa Tina cukup cantik.


Mereka bertiga sedang tertawa bahagia sampai pada itu ketika para tamu sudah tenang dan melupakan kehebohan tadi, akibat bangsawan Michel datang yang penuh gaya yang menyilaukan, tiba-tiba ada yang berteriak lagi.


"Oh tidak ada bangsawan yang datang lagi!"

__ADS_1


__ADS_2