Dewa Yang Maha Kuasa

Dewa Yang Maha Kuasa
Kacau


__ADS_3

Bab 151 Kacau


Fai ahirnya tahu, bahwa dia adalan Arthur, yang mencoba melecehkan Alisha di waktu itu. Bahkan dia ahirnya tahu bahwa Arthur adalah protagonis dengan jari emas sistem.


Fai, setelah membaca pikran Arthur dia tersenyum lucu diam-diam, karena dia tahu bahwa, alasan dia mencoba mendekati Alisha adalah, karena tugas sistem, jika tugas ini gagal maka adik laki-laki Arthur akan menyusut menjadi kecil.


Tapi, sitem Arthur salah menargetkan seseorang, karane orang yang di targetkan adalah dia sudah mempunyai kekasih.


Namun saat ini dia tidak naif langsung membunun Arthur dia berpura-pura tidak mengenali.


Di samping Arthur, dia melihat darah yang bersimbah di tanah sehingga dia berkata kepada Elena. "Apakah darah ini, adalah darah musuh, jika kamu mengalahkan di mana musuhnya?"


Elena menggelengkan kepalanya sambil memandang Fai, lalu berkata. :"Tidak, bukan aku yang mengalahkan, tapi, pemuda itu yang sedang pergi."


Elena merasa kesal karena di abaikan oleh pemuda tampan. Bahkan dirinya yang terkenal dengan kecantikan atas, berhasil merebut hati Arthur di peringkat pertama.


Singkatnya dari selusin wanita Arthur, dia adalah wanita pertamanya. Namun ketika dia melihat pemuda tampan lagi, bahkan ketampanannya melebihi Arthur, pemuda itu seperti meremehkan dirinya sehingga entah kenapa kesal.


Dan benar saja, apa yang di harapkan Fai terjadi, wanita itu adalah wanita tidak punya otak, dan ini adalah versi lain dari Elona.


Untuk menghindari masalah yang rumit, dengan cepat Fai pergi. Namun tiba-tiba, Arthur berteriak. "Hei.. Kamu berhenti dulu..!"


Mendengarkan itu, Fai cemberut. Dengan tenang dia memalingkan wajahnya dan berkata. "Kawan apakah ada sesuatu?"

__ADS_1


Arthur begitu melihat wajah Fai langsung berseru, dan cemburu. Dia merasa ketampanannya tersaingi. Tapi, walau begitu dia harus menyembunyikan jejak cemburu itu, dengan tenang dia berkata seperti ini. "Terimakasih karena telah menyelamatkan wanita ini, jika kamu berkenang, bolehkah aku ingin tahu nama kamu."


Diam-diam Fai lucu jika dia tahu bahwa dirinya Fai apakah dia akan menghina dirinya? Namun Fai mencoba dulu, dengan itu dia berkata jujur kepada Arthur. "Nama aku Fai, ada apa? Maaf aku sedang sibuk, kebetulan ibu aku sedang berkunjung."


Fai berjalan lagi. Namun, Arthur curiga setelah kata-kata 'Fai' yang telah di dengar oleh pemuda itu, sehingga dia langsung berkata. "Kamu Fai?"


Dan betul saja, ahirnya, Arthur curiga, dengan senyum iblis di dalam hati, ahirnya dia menoleh lagi dan berpura-pura bingung. :"Ada apa? Apakah kamu mengenal aku?"


Namun Arthur buru-buru menjawab. "Tidak aku, aku hanya bertanya saja, dan aku ingin berkata lagi, apakah kamu mengenali orang yang bernama Alisha Lemann?" Jika tebakan Arthur benar, bahwa Fai yang ada di depannya adalah suami Alisha, maka akan masuk akal, karena dia mempunyai paras yang sangat tampan.


Tapi, tampan adalah tampan, jika tidak mempunyai kekuatan, maka ketampanan itu tidak berguna. Maka dari itu, dirinya yang mempunyai sistem di benaknya, dia yakin bahwa lambatnya hari, Alisha akan menemyerah di pangkuan dirinya.


Arthur sudah yakin hal itu!


"Aku mengenali, ketika itu, aku menolong dia dari tertimpa batu." Kata Arthur, namun Fai tiba-tiba berkata.


"Oh apakah seperti itu, tapi wanita aku mengatakan hal yang berbeda, dia berkata bahwa kamu hendak melecehkan?"


"Hahaha, aku meminta maaf atas hal itu, namun aku tidak tahan karena dia sungguh wanita yang anggun." Arthur berkata secara terus terang, karena dia tidak bisa berbohong.


"Oh jadi itu kamu, kamu adalah Arthur yang di ceritkan Alisha kepada aku, tapi maaf kamu tidak bisa merebut wanita aku, jika kamu berani maka pastikan kamu akan tidak akan hidup bahagia, bahkan mungkin saja dengan kelakuan kamu, kepada wanita aku, aku ingin berdoa kepada Dewa bahwa aku ingin kamu menjadi kasim." kata Fai dia berkata seperti biasa tanpa jejak apapun.


"Ancaman kamu, aku tidak takut, bahkan jika kamu mencegah, aku akan menunggu dengan perlahan." Kata Arthur, baginya ancaman Fai hanyalah musim semi.

__ADS_1


Kemudian Fai mengelengkan kepalanya, dan berkata kepada Elena. "Hei wanita bodoh, lihat perilaku kekasih kamu, sungguh tak tahu malu."


Kata-kata 'Bodoh' Menusuk hati Elena dan dengan tak terima, dia berkata. "Apa magsud kamu bahwa aku bodoh, atas dasar apa kamu berkata seperti itu hah!"


Raut wajah Elena sangat jelek, namun Fai mengabaikan dan dia berkata lagi. "Jika kamu tidak bodoh lalu apa? Hanya karena dia tampan, kamu merelakan kesucian karena alasan tidak logis dari pria bodoh itu, pria bodoh dan wanita bodoh, berpasangan sangat serasi. Bahkan kamu tidak tahu bahwa pria bodoh itu sudah memperkosa ibu kamu."


Jika kata-kata Arthur adalah omong-kosong tapi kata-kata Fai adalah siksaan.


"Diam tutup mulut kamu." Elena berteriak, dia juga ragu-ragu tapi dia sedikit percaya, karena ketika Arthur berkunjung di rumah sendiri, dia meraskan bahwa Arthur dan ibunya sedang ada seperti rasa kasih sayang.


Tapi walau begitu, ibu sudah mempunyai suami, kenapa tega berselingkuh, dengan tidak percaya, Elena berkata kepada Arthur. "Apakah yang di katakan dia adalah, kebenaran?"


"Maaf!" Hanya kata-kata singkat, namun Elena memahami, sehingga tanpa sadar meneteskan air mata dan berkata dengan patah hati. "Aku memperbolehkan kamu mencari wanita lain namun dia ibuku sudah bersuami, kamu sungguh gila dan bejad!"


Elena menangis terisak, Arthur tidak tahu harus berkata apa, jika bukan karena sistem bastard ini, dia tidak akan melakukan hal tak senonoh ini.


Namun dia melampiaskan kepada Fai dengan amarah, dia tidak mengerti entah kenapa Fai mengetahui.


Tatapan itu sungguh ganas, jika tatapan bisa membunuh, Fai tentunya akan mati selusin kali.


Fai yang di tatap oleh Arthur dengan ganas, baginya itu tidak terpengaruh. Malahan dia berkata kepada Elena seperti ini. "Setelah itu, apakah kamu mengetahui bahwa kamu bodoh."


Setelah menghancurkan situasi, Fai pergi meninggalkan mereka berdua. Namun Arthur yang melihatnya tidak membiarkan dia pergi, Arthur akan memberikan pelajaran dengan menyerang secera mental.

__ADS_1


Namun, serangan itu tidak berguna sama sekali kepada Fai, bahkan Fai memalingkan badan dan dengan itu, dia berkata. "Apakah kamu masih tidak menerima? Kenyataan sungguh kejam jadi terima ini, jika kamu tidak menyerang wanita aku, mungkin tidak akan ada masalah ini. Tapi kamu tidak merenung diri, seseolah bahwa aku adalah masalah penyebab ini, sehingga kamu melampiasakan kepada aku, seseolah aku penyebabnya.


__ADS_2