
Setelah tiba di kediaman Tina, Fai yang melihat kedua pelayan itu tersenyum dan mengagukan kepalanya ke arah mereka.
Melty dan Elia yang melihatnya bergegas dengan bahagia.
"Wow Tuan walaupun kurang dari semingu, Saya tidak melihatnya itu merasa bahwa Tuan sedikit berbeda!"
"Apa yang berbeda?" Fai tidak mengerti.
"Dalam perubahan walaupun Tuan masih tampan, tapi? Penampilan sekarang membuat luar biasa." Melty berkata dengan menunduk bingung.
Fai tersenyum tidak berdaya mungkin kerana pengingkatan tubuh oleh Sistem perubahan ini menjadi berbeda.
Tapi karena perbedaan ini juga baik bagi Fai.
Fai menepuk kepala Melty dan berkata: "Kamu banyak berpikir."
Setelah itu, dia memandang Elia.
"Yah ahirnya aku kembali! Apakah kamu merindukan tuan ini? Mari kita berpelukan dan menghangatkan tempat tidur ini," Fai merentangkan kedua tangannya sambil menyringai.
"Poh! Siapa yang ingin berpelukan denganmu !" Elia tersipu dan melarikan diri dari Fai.
Dalam benak Elia, perubahan penampilan Fai yang sekarang dia terpesona walaupun entah apa itu perubahannya.
Elia yang memikirkannya juga bingung dengan masalah ini. Tetapi dia ahirnya mengelengkan tidak banyak berpikir dan berlari menuju keluar karena malu.
Fai yang melihatnya juga hanya mengakat bahu dan berjalan ke tempat tidur.
Setelah tertidur semalaman, dia ahirnya bangun dan memasuki Aula tempat latihan bagi Tina.
Setelah ke Aula Fai melihat beberapa orang salah satunya pria paruh baya dan ada 2 perempuan.
Gadis lainnya masih seumuran dengan Fai, dengan wajah kecil yang terlihat cukup dewasa dan terasa sekitar tujuh belas atau dua puluh tahun.
Dan salah satunya adalah wanita berkembang dengan baik dan memiliki tubuh yang terpahat. Tempat besar itu sangat besar, dan dia terlihat jauh lebih tua dari Fai.
Ketiga orang itu adalah Zhenite, Bela dan Tina.
Fai menghampirinya dan mengaguk hormat.
Ketiga orang itu melihat Fai kembali, suasananya menjadi membaik.
"Oh kamu sudah kembali, ini kebetualan saya sedang berlatih bertukar ketrampilan dengan cucuku, apakah kamu ikut bergabung dengan kami dan bergantian!" Zhenite berterak.
"Oh itu bisa di coba, berlatih bersama itu juga tidak buruk." Fai membuat jawaban setuju kepada Zhenite dan berkata lagi: "Tuan kita bergiliran setelah selesai, itu bergantian."
"Humm!"
Tiba tiba Tina membuat dengusan dingin kepada Fai.
Ketika Fai mendengar dengusan dingin Tina, dia tiba-tiba mengaruk hidungnya.
Dalam benak Fai apa ada yang salah denganku? Kenapa dia membuat dengusan?
Ketika Tina melihat Fai dengan raut penuh tanda tanya, dia cemberut dan berkata.
"Ketika kamu keluar apakah kamu bersenang-senang dengan beberapa wanita?"
"Benar ketika saya keluar, saya bermain beberapa wanita tapi itu tidak membuat saya puas, ketika saya mengingat kamu," Setelah berbicara Fai memandang Tina dari atas ke bawah sambil menjilat bibirnya.
"Poh! Dasar tak tahu malu!" Wajah Tina memerah tersipu dan marah sambil menginjak kakinya ke tanah.
Bella yang melihat adegan itu tersenyum cukup baik. Dengan adegan itu suasana menjadi hidup.
"Ok sudahi kita untuk bercanda! Ayo nak kita berlatih!" Zhenite meneriaki Tina untuk memulai latihan.
"Baik kakek." Tina ahirnya berkata serius.
Fai ahirnya berjalan menyamping dan duduk mendekati Bella. Dan ketika dia melihat tempat besar itu yang penuh, mata Fai menjadi lurus.
Bela yang merasa di tatap dengan mata panas merasa tidak nyaman dan berkata dengan cemberut. "Apakah sudah selesai melihatnya?"
"Umm" Fai mengaruk hidungnya dengan cangung mau berkata apa kepadanya.
Salah siapa itu menjadi begitu besar? Dalam benaknya, jika tanganya memegang yang besar itu, yang pastinya tidak bisa menjangkau semuanya.
__ADS_1
Mengalihkan susana yang malu dan ambigu Fai berkata. "Nyonya kamu cantik hari ini."
"Hum! Apakah setiap wanita yang anda temui akan berbicara dengan gombalan itu!" Bela berkata sambil cemberut sambil memeluk kedua tangannya tapi di dalam hatinya ada sedikit bahagia.
Fai mengelengkan kepalanya dan berkata sambil menyringai. "Sayangnya saya tidak menemukan wanita cantik selain kedua pelayanku, dan kalian berdua hehehe!"
"Dasar mesum!" Bella memarahi Fai dengan wajah sesikit tersipu.
Ketika Tina melihat Fai melakukan hal buruk kepada Ibunya, merasa tidak nyaman. Tiba-tiba ingin rasanya memukuli Fai.
"Hentikan!" Setelah meneriaki Kakeknya Tina berkata lagi: "Kakek aku ingin bertarung berlatih bersama Fai!"
"Yah! Kalau kamu ingin bertarung dengan Fai, Kakek tidak memaksanya."
"Terimakasih Kakek!" Tina membuat jawaban hormat kemudian dia memandang Fai sebagai mangsa besar.
"Fai!!" Tina meneriaki dan memarahi.
Ketika Fai mendengar auman betina dari Tina, dia terkejut seperti kucing terinjak ekornya.
"Apa!" Fai melototinya.
"Ayo kita bertarung!" Tina berkata dengan serius dan bermartabat.
"Oh apakah kamu ingin berlatih bertarung melawanku?" Fai meengerutkan alisnya.
"Hump biar aku beri tahu! Sekarang saya telah menjadi penyihir Lv5." Tina memberitahu dengan banga.
"Ohh sunguh? Benar-benar takut sekali!" Fai berpura-pura takut.
Melihat bahwa Fai mengejek dan mengolok-olok dirinya, tiba-tiba dia terspiu marah dan mengepal tinjunya mengarah ke Fai dan berkata sambil memarahi. "Brengsek ayo bertarung!"
Fai mengangakat bahu dan berdiri. Lalu menepuk pantatnya dan melompat menghampiri Tina yang berjarak sekitar 10 meter.
Setelah memasuki tempat pelatihan itu, Fai menyapa Zhenite.
"Tuan, ijinkan saya bertukar ketrampilan bersama cucu anda," Kemudian berkata lagi dengan menghela nafas: "Sebenarnya saya engan berkelahi dengan wanita."
"Kurangi omong kosong ayo berkelahi!" Tina memarahi dan membuat postur tubuh siap.
Fai tidak berani membuat lelucon dan dia juga membuat tangan melipat di belakang seperti seseorang ahli.
"Ok baiklah, aku memulai aku harap berhati-hatilah!"
"Sikat!"
Tina tiba-tiba berlari dengan kecepatan yang di lihat dengan Mata telanjang.
Tiba-tiba tangan kanan Tina di tumbuhi es dan bentuknya seperti tombak runcing.
Setelah jarak Tina dan Fai beberapa Inci tangan kanan Tina, menusuk dan mengayunkan ke depan Fai.
Fai yang melihat serangan Tina itu mengaktifkan Bakat Matanya dan benar saja tiba-tiba gerakan itu menjadi lambat.
Setelah peningkatan Sistem Skill Matanya juga meningakat.
Bakat Mata Fai itu seperti lensa Teleskop bisa memperjelas dan memperdekat sekitar jarak 1Km tanpa halangan.
Penemuan ini juga hal baik bagi Fai.
Fai begitu mudah untuk menghindar dari tembakan Tina seperti makan dan minum.
ketika serangan tombak es krucut itu meleset dan menyerangnya, tiba-tiba Fai menghindar dengan kaki kanan melangakh ke belakang satu langkah dari kanan tubuh Fai. setelah itu kemudian Fai memegang tangan halus itu dan di tarik kebawah sehinga dia sedikit berjongkok lalu Fai mengayunkan kaki kanannya menedang perut Tina dengan sedikit kekuatan karena takut melukai.
"Gulungan!"
Tiba-tiba suara gulungan dan tina terpental terbang sejauh 10 meter.
Di sisi Tina yang sedang terpental langsung mendarat dengan mulus tanpa terjatuh.
"Cihh!"
Tina membuat suara tidak puas dan tiba tiba mengucapkan mantra.
"Tembakan Seribu Es!!"
__ADS_1
Tiba-tiba di antara langit ada sekumpulan pola rune rumit dan elegan.
Ketika pola Rune itu muncul tiba-tiba Rune itu bercahaya dan memutar cepat.
Setelah memutar cepat, tiba-tiba keluarlah sebuah tembakan es yang sangat cepat seperti hujan peluru es.
Sekarang Fai sedang di bombardir oleh hujan es.
Melihat serangan peluru es mengarah kepadanya, langsung mengaktifkan Mata supernya untuk memperlambat.
Dengan kombinasi Mata dan teknik langkah bayangan, Fai ahirnya menghindari dengan mudah.
Zhenite yang melihat adegan ini sunguh terpana. Bakat Fai sunguh menakutkan mungkin di bandingankan dengan Jenius di kerajaan ini, Fai lebih bersinar terang.
Jika di ibaratkan jenius orang lain itu seperti terang Bulan maka Fai hanyalah terang Bintang dan Matahari.
Melty dan Elia yang melihat adegan ini menatap Fai dengan terkagum kagum.
"Hebat Tuan! Tuan memang tak terkalahkan!!" Suara Melty berteriak.
Bella yang melihat pertarungan ini juga khawatir terhadap Tina tapi juga terkagum oleh kekuatan Fai.
Melihat bahwa serangannya tidak mempan terhadap Fai, Tina mengigit bibirnya. Apalagi melihat dia tersenyum dan menyringai dan mengolok-olokinya, ini membuat tidak menerimanya.
Karena tahu serangan ini tidak berguna lagi, dia menarik nafas terus tangan kanan terangakat dan jari-jari itu di bentuk seperti tapak Budha. Dan tiba-tiba depan tapak itu ada Rune bulat lagi dan berputar cepat.
Tiba-tiba...
"Sikat!"
Beberapa lusin tembakan es tapi itu lebih besar dari pada tadi. Dan langsung mengarah ke Fai.
Tapi..
Lagi-lagi Fai menghindari dengan mudah. Memikirkan serangan tidak lagi berhasil Tina ingin muntah darah.
"Ketika keadilan dan kebaikan tidak bisa membantu, hanya sebuah kepalan tanganlah yang akan membantumu," Fai berkata memberitahu. Dan setelah itu berkata lagi: "Sekarang saatnya saya membuat tembakan lagi!"
"Sikat!"
Begitu selesai berbicara tiba-tiba sosoknya menghilang.
"Apa!"
"Sangat cepat!"
Tina tidak mempercayai.
Dengan langkah Bayangan sudah akan mencapai kemahiran tinggi, kecepatan itu menjadi sangat cepat.
Tiba-tiba sosok Fai sudah di depan Tina dan tangan kanan itu mengayun kedepan dan mebentuk sebuah kepalan tinju mengarah Tina.
Tina yang melihatnya juga tidak kegabah. Dengan siap tidak siap tangan kanannya membentuk tombak es runcing.
Tiba-tiba...
"Dentang!"
Suara tabrakan dengan tangan tinju Fai dan tombak kerucut es.
"Crak-crack!"
Suara retakan es setelah terkena Tinju.
"Apa mustahil!" Tina ngeri melihatnya.
Melihat bahwa Tina dalam keadaan kesurupan, Fai tiba tiba membuat tembakan lagi.
Setelah meninju tiba-tiba tubuh Fai memutar dengan anggun seperti atraksi. Dengan mengangkat tangannya lagi, jari itu membuat bentuk tapak tamparan dan mengenai dada Tina.
Ketika tangan itu menyentuh dada dan sedikit merasakan gelembung yang lembut dan sedikit berkembang tiba-tiba Fai tidak bisa memarahi mulutnya dan berkata: "Brengsek sunguh gelembung yang lembut!"
"Gulungan!"
Tina yang terkena tamparan di dadanya, kembali terpental dan terjatuh langsung menutup mata tak sadarkan diri, dan di atas kepala itu ada gambar burung yang berputar putar.
__ADS_1
Tina KO!!.
Bella yang melihatnya juga khawatir dan bergegas menghampirinya. Setelah mengecek anaknya dan itu tidak mendrita serius dan ahirnya lega. Tapi ketika dia berbalik memandang Fai tiba tiba ingin pingsan karena marah! Karena dia melihat Fai sedang dalam keadaan linglung dan kepalanya penuh tanda tanya, apa lagi melihat dia sedang membuat gerakan meremas tangan seseolah sedang membayangkan adegan cabul sehinga Bella ingin sekali memukulinya.