
Bab 152 Tidak Mudah Untuk Membunuh
Arthur yang di hina oleh Fai, dia menatap ganas. Entah kenapa serangan mental yang di lakukan ketika menyerang Fai itu tidak berguna.
Arthur marah tapi, dia tidak menjawab. Dia ingin sekali memukul wajah Fai tapi dia tidak bisa. Namun dia mencoba menenagkan diri, dan menatap ke arah Fai dan berkata. "Untuk saat ini aku kalah tapi, tidak ada kata kalah di masa depan."
"Pff hahahah! Kamu sangat percaya diri, aku yakin karena kamu mencoba melecehkan wanita aku, maka aku akan bedoa untuk memohon kepada dewa bahwa aku ingin mengutuk kamu supaya kamu mempunyai adik laki-laki yang kecil hahah... bahkan jika kamu berskeras untuk merebut wanita aku itu mustahil." Kata Fai dia menghina ke arah Arthur. Dia ketawa ketika membaca pikran Arthur tentang ke gagalan tugas sistem.
"Kamu....!" Arthur saat ini, tiba-tiba merinding ketika kata-kata Fai di ucapkan. Karena apa yang di lontarkan oleh Fai dia teringat akan hal tugas sitem.
"Hahah kenapa kamu marah, dewa berpihak kepada kebenaran, dan aku adalah orang yang teraniaya, bisa jadi kata-kata aku di kabulkan oleh dewa dan kamu cepat atau lambat akan menjadi kasim."
"Oh iya apakah kamu tahu, bahwa Zesshi sekarang sudah menjadi wanita aku." Kata Fai dia mencibir.
"Itu mustahil, hanya kamu mengandalkan ketampanan, apakah kamu sangat percaya diri untuk mengambil hati Zesshi." Mata Arthur menyipit, kata-kata Fai dia meragugan. Dia tahu sifat Zesshi yang keras kepala, sehingga mendengar Fai yang begitu sarkas dia tidak mempercayai malahan dia menghina.
"Jika kamu tidak percaya tidak apa-apa, namun kamu telah berniat jahat kepada wanita aku, maka untuk kompensasi, berlututlah dan meminta maaf dengan tulus, kemudian pergi jauh-jauh untuk mengganggu wanita aku." Kata-kata Fai hanyalah fomalitas, dia tahu bahwa Arthur adalah protagonis.
Protagonis itu seperti novel yang pernah di baca di kehidupan bumi yaitu, protagonis tidak bisa tunduk dan dia hanya tunduk kepada Ibu. Dan salah satunya Arthur dia adalah tipe yang sama.
"Jika aku menolak?" Kata Arthur dia menggelengkan kepalanya.
Fai tersenyum dia sudah menebak bahwa Arthur tidak akan begitu mudah untuk berlutut. Namun Fai menjawab seperti ini. "Jika kamu menolak, maka aku akan memaksa kamu untuk berlutut lalu aku akan mematahkan kedua tangan kamu."
"Apa? Apa yang kamu bilang hahhha, kamu sangat berani sekarang, apakah kamu punya modal untuk menjadi sombong hahaha!" Arthur sangat arogant, dia bahkan mengejek dan meremehkan ancaman Fai.
"Apakah kamu tidak ingin berlutut?" Mata Fai menyipit, kemudian dia memandang ke arah Elena sambil berkata. "Lihat dia sangat sombong, dan arogant dan sangat percaya diri, itu seperti anjing yang menggonggong!"
"Kamu bajingan!" Arthur marah sambil mengeluarkan paksaan yang menakutkan. Namun dia melihat bahwa Fai bahkan tidak berlutut sedikit sama sekali.
"Kamu harus di didik berlututlah." Kata Fai dia menggunakan bakat hipnotis. Setelah bakat itu di gunakan, Arthur langsung berlutut tanpa perlawanan.
"Bajingan Fai sialan..!" Arthur menggertakan giginya, sambil mencoba membebaskan kendali tubuh ini.
Arthur, langsung membalikan waktu seperti semula, bahkan Fai berseru karane dia kembali seperti semula.
__ADS_1
"Kamu mempunya bakat memunduran waktu itu sangat merepotkan." Fai cemberut, sambil menatap ke arah Arthur.
"Hahaha apakah kamu terkejut setelah melihat bakat aku." Arthur menghina dia mencibir penuh kemenangan.
"Kamu sangat percaya diri." Kata Fai setelah itu, dia menampar Arthur dengan sangat keras.
"Plak!"
Akibat tamparan itu, Arthur terpental menyamping sekitar 20 meter.
"Oh kamu juga mempunyai kulit tebal." Setelah menampar Arthur, Fai merasakan di telepak tangan bahwa kulit Arthur sangat keras.
Di samping Arthur yang terkena tamparan dia marah, Arthur langsung bergegas untuk memukul Fai. Namun Fai bahkan masih tetap berdiri, dia langsung menggunakan tanganya untuk memukul kepalan Arthur juga.
"Bang!"
Sekali lagi, Arthur terhempas ke udara, bahkan hempasan itu lebih jauh..
Arthur yang terkena tinju, dia meraskan pergelangan dirinya hampir patah. Apa lagi bekas tamparan di pipi itu, dia masih merasakan sangat sakit.
Setelah itu dia menatap Fai dari jauh dengan tatapan menyipit. Akhirnya dia paham dan mengerti kenapa Fai begitu tanang dan percaya diri. Sebanarnya Fai mempunyai kekuatan yang menabjubkan.
Bahkan ketika dia sedang menatap ganas ke arah Fai, dia melihat Fai menatap dirinya dengan senyuman mengejek.
Arthur tidak bisa menerima!
Kemudian dia menyerang lagi dengan tangan melambai, langsung menembakan pedang yang sangat cepat seperti kilat cahaya.
Elena yang masih bodoh, dia tidak tahu jenis perseteruannya. Namun dia bisa menilai bahwa Arthurlah yang bersalah karena mencoba merebut istri Fai.
Dan pada saat dia melihat pedang yang melesat sangat cepat, sedang bergegas mencoba menyerang dan menusuk Fai.
Secera reflek, Elena berteriak mengingatkan. "Awas kamu... hati-hati~"
Elena mengingatkan, namun dia melihat bahwa Fai masih berdiri diam seperti patung dengan tatapan tertuju ke pedang itu.
__ADS_1
"Swosh!" Pedang itu melesat sangat cepat, namun Fai menatap dengan seringai iblis.
Ketika pedang hendak menusuk dada Fai sekitar beberapa senti meter, dengan ajaib berhenti di udara.
"Bakat ini sungguh mengesankan." Kata Fai dengan lembut. Kemudian dia juga mencoba menggunakan bakat dunia pedang.
Dan benar saja, ketika Fai menggunakan bakat itu, pedanga yang di tembakan oleh Fai berbelok arah dan langsung menembakan ke arah Arthur dengan dua kali kecepatan cahaya.
"Bajingan.. Ahhh puff...!" Karena kecepatan tembakan pedang itu sangat cepat, akhirnya Arthur tertusuk di bagian perutnya.
Mungkin karena Arthur mempunyai ketahanan yang sangat kuat, tembakan pedang itu hanya menusuk saja dan tidak sampai membuat dia kritis.
Tangan Arthur meraih pedang yang menancap di perut, dan menarik pedang itu agar copot dari perut.
"Ahhhh!" Teriakan Arthur ketika dia mencoba menyopot pedang. Bahkan ketika pedang itu di tarik akan memuncratkan darah ke tanah hingga bersimbah.
Setelah pedang sudah lepas, kemudian Arthur menggunakan bakat penyembuh sehingga luka tusukan pedang yang ada di dalam perut langsung pulih.
Dari kejauhan, Fai berkata. "Kamu juga mempunyai bakat penyembuh yang sudah level tingkat tinggi, ini cukup merepotkan.
"Hahaaha dengan bakat kamu aku tidak bisa mati begitu mudah..kamu jangan merasa bahwa ini adalah sisa kekuatan yang aku miliki." Dia menatap tajam ke arah Fai, dia sungguh bingung bahwa ketika dia mencoba mengolok-olok Fai dari awal hingga akhir, dia tidak menemukan jejak expresi panik, terkejut, bahkan dia tidak bisa membunyikan promp sistem.
"Ini sungguh aneh?"
Namun tiba-tiba, Fai mengejek dan berkata sambil tertawa. "Wkowkwowko :"v aku membunuh kamu begitu sangat mudah, tapi bukan sekarang, aku ingin membunuh kamu ketika di pertandingan antar akademi."
Setelah berkata, Fai menatap Arthur dan langsung menghilang.
Di samping Arthur dia waspada, dia sama sekali tidak melihat pergerakan Fai sama sekali, namun secara tiba-tiba, kedua tangan Arthur langsung terputus, dan darah langsung bersimbah.
Setelah Fai memotong kedua tangan Arthur, dia langsung muncul tepat di hadapan Arthur.
Karena kedua tangan Arthur buntung, ketika Fai hendak meninju maka tidak ada pertahanan.
"Bang!"
__ADS_1
Fai meninju sangat keras sampai sosok Arthur menabrak rumah warga lusinan kali.