Dewa Yang Maha Kuasa

Dewa Yang Maha Kuasa
Bab 25


__ADS_3

Memikirkan adegan ini tiba-tiba dia teringat adegan di dalam Plot Novel yang pernah dia baca di kehidupan dulu.


Dalam Novel yang dia baca ketika protagonis bertemu pahlawan wanita, entah dalam bentuk konflik atau tidak, tapi pada ahirnya Protagonis menjadi umpan Meriam bagi pahlawan wanita.


Memikirkan itu, Fai mengelengkan kepala karena terlalu banyak berpikir.


"Lupakan ini hanyalah novel semata."


Soal bujukan Bella, dia juga masih tidak ingin pergi ke Akademi.


Karena Fai mempunyai prinsip, Dia tidak akan ke timur jika ingin kebarat, dia tidak akan berbicara ke dua jika sudah pertama.


Memang benar laki-laki sejati harus mempunyai sebuah perinsip, jadi ketika Fai menolak memasuki Akademi itu tidak akan berubah pikiran.


Ada satu alasan lagi kenapa Fai begitu engan memasuki ke Akademi, hanya jawaban simple. Dia tidak suka akan masalah apa lagi terjerat bersama beberapa wanita.


Karena wanita itu mahluk yang rumit.


Jika Fai pergi memasuki Akademi pasti ada sekelompok wanita populer dan banyak pengagumnya. Dan ketika wanita kecantikan populer itu menyukai Fai, dengan pasti ada sekelompok semut idiot pengagum Dewi kecantikan itu, bergegas membuat masalah kepadanya.


Dengan semut kecil di kalahkan, kemudian datanglah yang lebih besar untuk membuat masalah kepada dirinya.


Itu sangat menyebalkan!


Jadi Fai sebisa mungkin menghindari masalah itu.


Setelah memikirkan Fai memandan kedua orang dan berkata.


"Ayo! Kita bergegas meningalkan rumah ini, kebetulan saya sudah menemukan orang tua saya."


"Wow Tuan! apakah tuan apakah itu benar," Melty bertanya.


"Itu kabar yang baik jika tuan sudah menemukannya." Elia juga senang.


"Ngomong-ngomong saya juga mempunyai adik kecil, sedikit besar dari kamu." Fai berkata memandang Melty.


Mata melty berbinar ketika mendengarnya.


"Yah tungu apa lagi! Ayo kita bergegas!" Elia diam diam semangat.


"Tungu kita berpamitan, akan tidak sopan jika langsung bergegas pergi!" Fai berkata sedikit cemberut.


....


"Jadi kamu akan berpamit pergi?" Zhenite bertanya.


"Ini memang benar, saya ingin bergegas dan berpamit pergi dari sini. Dan kebetulan saya sudah menemukan orang tua saya."


"Oh apakah sudah menemukannya? Jika seperti ini, itu hal baik bagi kamu, dan saya tidak akan memberhentikan mu untuk pergi dari sini." Zhenite berkata dengan lembut.


Setelah itu, Fai memandang Ibu dan anak itu. Lalu berkata:"Yah terimakasih atas semua yang telah merawatku. Kalo begitu aku pergi."


Tina hanya mendengus smabil memeluk tangannya.


Bella mengangukan kepalanya ke arah Fai sambil terseyum. Dan berkata dengan bercanda. "Bocah nakal berhati hatilah!"


"Kalian berdua apakah tidak ingin berpelukan!" Fai menyringai.


"Bahh!! Siapa yang ingin berpelukan!" Tina memarahi mulutnya.


Bella yang mendengarkannya sedikit menahan malunya dan berkata "Bocah bau! Kamu selalu mengolok olok ku apa kah kamu ingin pemukulan?"


Fai mengangkat bahu dan berbicara lagi kepada Tina.


"Hey apa salahnya berpelukan! Dan aku akan memberitahukan kepadamu menurut seorang Ahli. Mencintailah sewajarnya karena bisa jadi perasaan cinta itu menjadi benci. Dan membenci sewajarnya karena perasaan benci bisa menjadi cinta yang besar. Contohnya kamu membenciku, awas jangan menelan ludah sendiri hehhe!"


"Dan kamu Nyonya, ada pepatah bahwa ketika seseorang memandang dengan lawan jenis selama lima teguk teh, itu akan menumbuhkan perasaan rasa sukanya, tapi Nyonya kamu selalu memandangi ku sehinga merasa tidak nyaman...." Fai menyipitkan matanya dan berkata lagi. "Apakah nyonya meny...."


"Tampar!"


Tapi sebelum menyelesaikan bicara Fai di tampar oleh Tina.


"Kamu.. kamu menamparku!!" Fai memarahi sambil menujuk Tina dengan mata melotot dan tangan kanannya memegangi pipinya.


Dan pipi itu ada sebuah gambar tamparan tercetak padanya.

__ADS_1


"Diam! Siapa salah menjadi tak tahu malu!" Tina berkata dengan mengepal tanganya.


Zhenite, Melty dan Elia kepalanya membuat tanda tanya.


Adegan itu sunguh mengagumkan untuk di tonton.


...


"Ok jangan menungu lama! Kita bergegas cepat!" Setelah berdebat pada ahirnya Fai berbicara memandang kedua pelayan dan kepada lainya.


Setelah mendengar, Elia dan Melty bergegas mengikuti Fai dari belakang.


Tapi tiba-tiba ada suara dari belakang.


"Tungu!" Bella segera meneriaki.


"Ada hal lain? Fai tidak bertanya tanya.


"Apakah kamu membutuhkan tumpangan?"


"Umm itu bisa di bicarakan!" Fai menganguk setuju dan berkata lagi dengan sedikit menyringai. "Apakah kamu khawatir ketika saya meningal rumah ini, pada ahirnya kamu tidak menemukan ku lagi heheh!"


"Ka..kamu terlalu banyak ber pikir! Aku hanya menawarkan!" Bella sedikit terbata.


"Oh begitukah!"


Faktanya apa yang di katakan Fai itu benar. Ketika Fai bergegas pergi ada sidikit rasa tidak nyaman dan tidak rela. Memikirkan jika Fai pergi, apakah pada ahirnya tidak bertemu lagi? Dan jika bertemu lagi entah hari kapan? Mungkin hanya takdir.


Memikirkan hal itu ahirnya Bella mendapatkan sebuah ide dengan Plot yang klise. Dia berpura pura menawarkan tumpanganya untuk mengetahui di mana tempat tingalnya.


Sunguh pikiran wanita itu menakutkan.


Alasan ini lah Fai mencoba mungkin menghindari terlalu banyak wanita entah Harem, istri banyak, atau selusin selir, itu Fai tidak berani memikirkan.


Karena itu hal yang merepotkan bagi Fai.


"Tungu sebentar, aku akan memangil pengawal untuk mengambil kendaraan." Bella mencoba mengalihkan topik.


"Yah" setelah menganguk Fai menungu di depan.


Tiba-tiba ada suara gemuruh mendekatinya.


Ketika suara gemuruhan mendekat terlihat ada gerbong gerobak dengan panjang beperapa lusin meter dan lebih panjang di bandingkan dengan milik Paman Gustav.


Fai melihat gerobak itu di tarik enam hewan. Hewan itu berbentuk seperti kuda dan kuda itu kekar di tambah ada tanduk seperti Badak.


Kendaraan itu mendekat dan berhenti tepat samping Fai, tiba-tiba tirai itu terbukak dan ada sebuah wanita yang angun dengan tempramen dewasa dan panas sehinga membuat mulut Fai kering.


"Batuk!" Fai terbatuk dan berkata lagi: "Begitu seharusnya ketika kamu akan mengunjungi calon Ibu mertua dan menjadi begitu cantik."


"Bocah mulutmu masih bau sehinga aku tak bisa menelanya terlalu banyak." Bella membuat nada mengelak tapi diam diam dia bahagia.


"Apakah ini benar akan menemui Ibu mertua?" Memikirkan ini wajah Bella sedikit panas.


Melihat Bella dalam suasana linglung dan sedikit merah, Fai tidak bisa berkata-kata dalam hatinya, bahwa Bella terlalu banyak berpikir.


Mengelengakn kepalanya Fai kemudian berkata. "Bolehkah aku memasuki?"


Bella tersadar kembali setelah mendengar suara Fai dan menjawab:"Uh kamu boleh memasukinya."


"Terimakasih!" Fai berkata ringan.


Ketika memasuki gerbong itu saya melihat Tina. Melihat Tina sepertinya sedang cemberut.


"Hump!" Tina memberi dengusan dingin dan membuang wajahnya kepada Fai sambil memeluk kedua tangannya.


"Batuk!" Fai terbatuk sambil mengaruk hidung.


Berlalunya waktu, gerbong yang di tarik oleh sekawan kuda ahirnya menjauhi rumah kediaman Bella.


Dari jalan yang mulus, memasuki jalan yang berliku kadang berglombang dan kadang menajak dan menurun.


Di dalam gerobak Fai berhadapan dengan Bella dan samping bertempelan dengan Melty dan Elia. Karena semakin menjauh perjalanannya dengan jalan yang bergelombang itu, mata Fai tidak bisa menatap lurus gunung yang besar yang bergetar getar di dada Bella,Bella yang menyadari juga malu.


"Sikat!"

__ADS_1


Tiba-tiba Tina mencolok mata Fai dan seperti Kucing kepanasan.


"Ow mataku!!" Fai ingin menangis.


"Apakah sudah puas memandangnya? Tina berbicara sambil mengutuk Fai.


"Bisakah kamu berhenti begitu menjadi galak!" Fai memarahi.


"Tu..tuan apakah kamu tidak apa-apa!" Tanpa sadar Elia bergegas memegang pipi dekat mata Fai sambil mengelus. Tetapi tiba-tiba Elia tersadar langsung melepaskan tanganya dan duduk lagi di samping sambil menunduk malu.


"Aku tidak apa-apa." Fai berkata sambil diam-diam menghirup aroma wangi dari tubuh Elia yang di tingalkan .


"Itu pantas buat kamu, karena begitu tak tahu malu!" Tina berkata tidak peduli.


.......


Sampai berlalunya waktu, dan gerobak itu ahirnya sampai juga di tempat di mana Fai tingal.


Dengan banyak gang, jalan sempit dan berlumpur ahirnya gerobak itu tidak bisa memasuki lebih dalam.


Pada ahirnya Fai dan kedua pelayan turun dari gerobak. Ketika Fai hendak meningalkannya tiba-tiba Bella berkata.


"Bolehkah aku ikut denganmu?" Kemudian Bella mencoba meyakinkan lagi dan berkata. "Jangan salah paham, aku hanya ingin melihat adik kamu."


Pada ahirnya Bella membuat perkataan kelise.


"Kenapa harus bertanya? Toh kamu cepat atau lambat akan menjadi wanitaku, jadi ayo bergegas Fai menyringai.


"Bisakah kamu serius!" Bella melotot


"Ok, baiklah aku akan," Fai mencoba mengahiri gurauan itu.


Bella dan lainya mengikuti Fai. Walaupun jalan ini kumuh dan bau tapi Fai melihat bahwa dia tidak Jijik.


Tapi ketika Fai sudah sampai di tempat dia tingal, tiba-tiba Fai tertegun dan tidak mempercayai nya.


Karena Fai melihat rumahnya sudah hancur menjadi puing-puing.


"Sikat!"


Fai bergegas ke puing-puing lalu mengaruk puing-puing itu seseolah sedang mencari sesuatu.


"Ibu!!..."


"Adik!"


"Kamu dimana..!


Setelah itu Fai perlahan berdiri dengan tatapan dingin mencoba menenangkan pikiranya.


Tepat sedang memikirkan sesuatu tiba-tiba terdengar teriakan jauh memangil namanya.


"Fai..! Anaku..!


Begitu Fai tahu yang meneriaki itu bahwa Ibunya dia berlari menghampirinya.


"Ibu apakah kamu tidak apa-apa?" Fai berkata cemas.


"Baiklah nak Ibu tidak apa-apa melihat bahwa kamu tidak terluka ibu lega."


Karena ada sesuatu yang salah Fai berbicara lagi.


"Ngomong-ngomong dimana Nori?"


Ketika Nuwa mendengar perkataan Nori dimana, tiba-tiba dia tidak bisa menahan air mata lagi dan Nuwa langsung terisak menangis.


"No..no..Nori di culik..!!" Nuwa menangis terisak kehilangan.


"Ibu apakah kamu telah memprovokasi orang tertentu?" Tiba-tiba Fai tidak bertanya-tanya karena masalah ini rumit.


"Ibu tidak tahu, dan Ibu juga tidak pernah memprovokasi keberada an kuat tertentu! Ibu selau rendah hati, tapi ketika sosok itu menculik Nori dia berkata mengancam, itu akibat berani memprovokasi Pembunuh Bayaran Serigala Angin!"


Tiba-tiba mata Fai menyipit dengan dingin dan berkata.


"Apakah kelompok Serigala Angin ini lelah hidup, berani menyentuh keluarga ku kamu mencari kematian!"

__ADS_1


__ADS_2