
"Kenapa tidak kau selesaikan saja pekerjaan ini dengan cepat Jordan?" tanya William yang sudah mulai kesal dengan pekerjaan yang tidak habis-habis. Malam nanti mereka akan datang ke rumah Sarah untuk membicarakan perihal lamaran ini lalu bagaimana bisa hingga saat ini pekerjaan mereka belum juga selesai hingga saat ini.
"Kau menyuruh untuk menyelesaikan pekerjaan ini dengan cepat sementara kau sendiri terus saja melihat ponselmu sejak tadi. Lalu bagaimana bisa kau menyalahkan aku?" tanya Jordan yang merasa tidak terima dengan apa yang William katakan tentang menyalahkan dirinya.
"Hais, sudahlah ayo cepat selesaikan pekerjaan ini karena aku ingin segera pulang dan bersiap. Malam ini kita akan datang ke rumah Sarah untuk membicarakan perihal lamaranku terhadapnya, tapi kau tidak boleh ikut."
"Kenapa?" betapa kagetnya Jordan saat dia tidak boleh ikut dalam acara lamaran William nanti malam. Entah apa yang sepupunya itu pikirkan tentangnya.
"Karena aku tidak ingin kau membuat suasana semakin hancur nantinya. Kau itu terkadang bisa saja membuatku kesal jadi lebih baik kau tidak usah ikut sekalian." jawab William pada sepupunya itu yang tidak pernah dipikirkan oleh Jordan.
"Apa kau pikir aku peduli? aku akan tetap ikut bersamamu karena aku ingin melihat bagaimana saat kau berbicara di hadapan calon mertuamu. Tapi tunggu dulu, kenapa tiba-tiba aku memikirkan Antoni?"
"Memangnya kenapa? bukankah kau sudah memberinya pelajaran?"
"Benar, tapi tetap saja aku masih memikirkannya. Aku membuang ke tempat yang sangat jauh dan semoga saja dia tidak bisa pergi dari tempat itu." jawab Jordan lagi karena memang dia sudah membuang Antonia ke tempat yang sangat jauh.
"Sudahlah, tidak perlu memikirkan apa yang tidak harus kita pikirkan dan kerjakan saja apa yang harus kita kerjakan saat ini."
"Setuju." akhirnya mereka berdua kembali mengerjakan pekerjaannya. Keduanya benar-benar menyelesaikan semua pekerjaan itu dengan baik sampai selesai.
Sudah William katakan jika Jordan sudah benar-benar bekerja maka tidak ada yang bisa menghalanginya lagi dan itu semua terbukti saat ini. Pekerjaan mereka sudah selesai tepat pada waktunya.
"Kau ingin pulang ke apartemen atau ke rumah?"
__ADS_1
"Ke rumah saja, karena mami sudah pasti akan menunggu." jawab William karena memang mami Sofia memintanya untuk pulang ke rumah Jordan.
"Kita pulang dan beli bunga dulu. Setidaknya ada yang kau bawa kepada calon istrimu malam ini. Eh, lalu bagaimana dengan cincin lamarannya?"
"Astaga, aku lupa membelinya." ucap William yang membuat Jordan benar-benar frustasi menghadapi saudara sepupunya ini. Bisa-bisanya dia lupa membeli cincin untuk melamar Sarah.
"Sudah, ayo cepat pergi." ajak Jordan pada sepupunya itu karena mereka akan mencari cincin lamaran untuk Sarah nanti.
"Kau ingin menghubungi siapa?" tanya William saat melihat sepupunya itu terlihat menghubungi seseorang saat ini.
"Aku berapa ukuran cincinnya karena aku berpura-pura akan memberikan surprise pada Dara. Jika tidak begini kita tidak akan tahu ukuran cincin Sarah."
"Benar," jawaban William.
Saat mereka sampai di pusat perbelanjaan tersebut, keduanya langsung berlari untuk pergi ke toko perhiasan untuk mencari cincin lamaran yang akan William berikan pada Sarah nantinya.
Apa yang mereka lakukan saat ini menjadi pusat perhatian banyak orang karena keduanya berlari seolah sedang mengejar sesuatu.
"Apa kita sudah terlihat seperti peserta uang kaget? aku rasa ini juga seru."
"Jangan berpikir yang tidak-tidak Jordan. Saat ini aku tidak bisa bercanda denganmu karena waktunya sangat mepet sekali. Kita harus cepat mencari cincinnya lalu pulang. Aku tidak bisa bercanda saat ini." jawab William karena memang mereka masih berlari mencari toko perhiasan ternama.
"Bagaimana? hanya ada toko ini saja yang masih buka. Kau mau ke sini atau mencari tempat lain lagi?" tanya Jordan pada sepupunya itu saat mereka sudah sampai di depan toko perhiasan ternama Tiffany and co.
__ADS_1
"Sudah ini saja, jika dia tidak suka maka aku akan menggantinya nanti. Setidaknya harus ada yang kubawa untuk Sarah." jawab William.
"Berikan aku cincin terbaik disini. Aku ingin yang simpel tapi mewah. Tidak terlalu monoton dan berlebihan." ucap William dengan nafasnya yang masih ngos-ngosan.
Begitu juga dengan Jordan yang merasakan hal yang sama. Nafasnya masih tersengal-sengal karena berlari bersama William tadi.
"Astaga, aku benar-benar merasa lelah." ucapkan karena dia merasa bahwa dirinya sudah lama tidak berolahraga dan ketika dia berlari seperti ini bersama William seluruh tenaganya benar terkuras habis.
"Untuk ukurannya?" tanya pegawai toko tersebut untuk ukuran cincin yang diinginkan.
"Berapa ukurannya?" tanya William pada Jordan karena memang di yang mengetahuinya.
"Size L itu ukuran dalam negri atau luar negeri?" ucap Jordan yang membuat pegawai toko perhiasan tersebut tertawa ketika mendengar apa yang dia katakan.
"Kenapa?" tanya Jordan yang merasa aneh ketika mereka tertawa saat dia menyebutkan ukuran cincin Sarah.
"Maaf tuan, ukuran cincin kami itu dari ukuran 16 sampai 19 yang paling besar. Jika lebih dari 19 maka bisa custom. Jadi tidak ada ukuran L karena ini ukuran cincin bukan ukuran pakaian." jawab pegawai toko tersebut karena memang tidak ada sejarahnya ukuran cincin itu diukur dengan size L seperti baju.
"Oh, benarkah? maaf aku salah." ucapnya yang benar-benar tidak mengerti sebelum dia kembali melihat ponselnya.
Sementara Williams sendiri, dia hanya bisa pasrah saja ketika sepupunya ini mengatakan ukuran cincin Sarah itu L, padahal sbelumnya tidak pernah ada cincin di ukur seperti itu.
"Terserah kau saja William, aku tidak tau lagi harus mengatakan apa padamu. Aku benar-benar tidak tau lagi." ucapnya dengan frustasi menghadapi sikap Jordan yang terkadang di luar nalar seperti ini.
__ADS_1
"Maaf, aku khilaf."