
Keesokan harinya, William yang merasa bahwa dirinya sudah baik-baik saja pun berusaha untuk turun dari atas tempat tidur pasiennya karena dia ingin menemui Jordan sepupunya.
Sejak kemarin dia tidak diperbolehkan oleh seorang untuk turun dari atas ranjang rumah sakit ini karena katanya dia masih harus mengalah dan menjalani proses pemulihannya maka jadilah dia yang harus mengalah.
Tapi hari ini, dia yang merasa bahwa dirinya sudah baik-baik saja ingin menjenguk Jordan di kamarnya.
Tepat saat William membuka pintu ruangannya, tiba-tiba saja Sarah sudah berada di depan sana san menatap penuh permusuhan padanya.
"Sarah?" ucap William ketika dia melihat bahwa calon istrinya sedang berada di hadapannya saat ini, bahkan yang lebih mengerikannya lagi tatapan Sarah seperti ingin mencabik-cabik tubuhnya hidup-hidup.
"Mau kemana?" tanya Sarah pada pria yang baru saja melamar yang kemarin.
Dia bapak itu sudah turun dari atas tempat tidurnya dan hendak pergi meninggalkan ruangannya bahkan tak sejak kapan jarum infus yang lengket di panggung tangannya sudah terlepas.
"Siapa yang mengizinkan kamu turun dari tempat tidur dan melepaskan jarum infusnya?" tanya Sarah pada William karena dia yakin bahwa pria ini pasti memaksa para perawat untuk melepaskan itu semua karena dia merasa tidak nyaman.
Sedikit banyaknya Sarah sudah mulai mengenal sikap William yang selalu saja ingin terlihat baik-baik saja di depan banyak orang agar tidak membuat mereka atau orang-orang yang di sekeliling yang merasa kesusahan.
"Hem, itu tadi dokter mengatakan bahwa aku sudah baik-baik saja jadi jarang infusnya sudah bisa dilepas." jawab William dengan gugup karena dia melihat sorot mata wanita yang baru saja dilamarnya kemarin masih menatap tajam ke arahnya.
"Apa jawaban kamu bisa dipercaya? jika memang iya aku akan bertanya pada dokter apakah jarum infusnya sudah bisa dilepas atau belum. Jika sampai aku mengetahui bahwa kamu-"
__ADS_1
"Oke iya, aku juga bahwa aku yang memaksa mereka untuk melepaskan semua itu karena memang aku tidak suka aroma rumah sakit. Aku selalu saja merasa pusing dan perutku mual apalagi ketika melihat makanan rumah sakit yang seperti itu. Demi Tuhan salah aku benar-benar tidak menyukai rumah sakit, bukan karena trauma atau apa tapi memang aku benar-benar tidak menyukai aroma rumah sakit. Jangankan rumah sakit, bau obat saja pun aku tidak suka." ucap William yang berusaha memberi pengertian pada calon istrinya ini bahwa dia memang tidak menyukai yang namanya rumah sakit.
Mendengar jawaban dari pria itu membuat Sarah mendesah lelah, entah bagaimana caranya menghadapi pria ini tapi yang pasti salah harus bersikap tegas untuk melakukan semua itu.
"Sekarang pergi ke kamar mandi dan mandi, aku akan membantu kamu."
"Tidak!" jawab William dengan cepat karena dia tidak ingin di mandikan oleh Sarah.
Mau jadi apa William jika di bantu Sarah untuk mandi.
"Kenapa? bahkan kemarin aku yang menggantikan pakaian kamu saat kamu pingsan, lalu apa lagi?" tanya Sarah yang membuat William semakin merasa malu dengan semua itu.
Melihat reaksi William yang merasa malu seperti itu membuat Sarah langsung menarik lengannya begitu saja dan membawanya masuk ke kamar mandi.
"Sarah, jangan seperti ini. Aku malu, sumpah demi Tuhan aku benar-benar malu dan tidak ingin di bantu olehmu. Aku mohon jangan lakukan ini Sarah. Aku tidak bisa melakukan hal ini." bukannya diam, Sarah malah semakin melakukan hal itu dan dia membuka pakaian rumah sakit William hingga membuat pria itu semakin malu di buatnya.
Sungguh, dia takut sekali jika sampai seluruh tubuhnya dilihat oleh Sarah dan itu bisa saja membuatnya merasa malu seumur hidupnya karena status mereka yang belum sah menjadi sepasang suami istri.
Lagi pula William tidak pernah memperlihatkan bentuk tubuhnya pada wanita manapun saat dia dewasa dan Sarah adalah orang pertama yang melihat tubuhnya seperti ini.
"Buka celananya," titah Sarah pada William hingga membuat pria itu semakin menggelengkan kepalanya dan menolak untuk membuka celananya.
"Sarah, aku mohon." ucap William dengan memohon pada Sarah namun lagi dan lagi wanita itu terus melakukannya sampai membuat wanita itu kesal dan membuka pakaiannya secara paksa.
__ADS_1
"Sarah," William kaget saat Sarah membuka celananya dan menutupi bagian terlarang miliknya dengan baju pasiennya tadi.
"Sekarang semua sudah tertutup yang kamu takutkan, jadi jangan berpikir yang tidak tidak lagi karena aku hanya ingin membantu kamu membersihkan tubuh kamu. Lagi pula apa kamu bisa membersihkan tubuhmu dengan keadaan seperti ini?" dengan lemah William menggelengkan kepalanya karena memang dia tidak bisa melakukan hal itu.
Beruntung ada Sarah yang membantunya jika tidak William tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya. Entah sampai kapan dia tidak bisa mandi dan membersihkan dirinya.
"Sekarang diam dan biarkan aku yang mengerjakan semua ini." ucap Sarah lagi.
Dia keluar sebentar ke luar kamar mandi dan kembali dengan pouch yang ternyata berisikan alat mandi laki-laki.
"Aku tidak tahu merk apa yang biasa kamu gunakan dan semoga saja kamu tidak alergi dengan merk yang aku bawa."
"Iya," jawab William dengan pasrah dan membiarkan tubuhnya dibersihkan oleh Sarah
Awalnya dia baik-baik saja apalagi saat Sarah membasahi tubuhnya dan mulai menyabuni wajahnya dengan pencuci wajah yang tidak biasa dipakai olehnya.
Semua itu terjadi begitu saja namun saat Sarah kembali mengambil shower untuk membasahi bagian tubuhnya yang lain, William benar-benar menahan hasrat yang mati-matian ketika merasakan tangan lembut milik Sarah yang menyambut di seluruh tubuhnya saat ini.
Begitu juga dengan Sarah, dia adalah wanita yang paling tangguh di dunia ini karena bisa menahan dirinya untuk tidak tergoda dengan bentuk tubuh William.
Di akui Sarah jika tubuh pria ini benar-benar sempurna, apalagi dengan tato di bagian dadanya yang untuk kedua kali dilihat olehnya dan kali ini jauh lebih jelas karena Sarah melihatnya dan menyabuni tubuhnya.
"Selesai, sekarang lepaskan pakaian dalam kamu dan pakai handuk ini, setelahnya aku akan membantu kamu lagi untuk bersiap." ucap Sarah yang meninggalkan William di kamar mandi.
__ADS_1
Saat dia sudah keluar dari dalam kamar mandi, tubuhnya langsung terduduk di atas sofa dan Sarah mulai kembali mengatur nafasnya karena dia dirinya untuk tidak tergoda dengan pemandangan panas di depan matanya tadi.
"Astaga Sarah, aku mohon sadarkan dirimu Sarah. Sadar, Sarah sadar." ucap Sarah yang berusaha untuk menghilangkan pikiran kotornya tadi.