Di Cerai Karena Lumpuh

Di Cerai Karena Lumpuh
S2. Kesiapan


__ADS_3

Ini adalah malam terakhir Laura sebagai sebelum dia menjadi istrinya Jeff besok, jam 10 pagi dan saat ini juga dia benar-benar tidak bisa tidur memikirkan acara pernikahannya besok.


Malam ini dia sedang menikmati kesendiriannya di dalam kamarnya, Laura berada di balkon kamarnya sedang menikmati pemandangan halaman rumah mereka yang sedang di hias saat ini. Banyak pekerja yang harus kerja lembur untuk mempersiapkan segalanya untuk besok. Di saat dia sedang sendiri, ponselnya berdering dan itu panggilan masuk dari Jeff.


"Mau apa dia menghubungiku?" tanya Laura ketika melihat Jeff yang menghubunginya malam ini. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, tapi kenapa belum tidur juga?


"Halo," sapa Laura ketika sambungan telepon mereka tersambung.


"Kenapa belum tidur?" tanya Jeff ketika Laura menjawab panggilan telpon darinya.


"Seharusnya aku yang bertanya kenapa kamu belum tidur? Ini sudah jam 10 malam tapi kamu belum juga tidur. Lalu apa yang kamu lakukan saat ini?" Laura balik bertanya pada Jeff yang juga belum tidur padahal ini sudah malam.


"Aku bertanya padamu kenapa bertanya balik?"


"Jelas aku bertanya balik. Aku juga ingin mengetahui apa yang kamu lakukan. Jika kamu bertanya pada ku apa yang aku lakukan, maka aku akan menjawabnya jika aku sedang berada di balkon kamar. Aku sedang melihat tim dekorasi menyelesaikan semuanya untuk besok," jawab Laura.


Keduanya hening beberapa saat hingga tiba-tiba saja Jeff kembali bertanya tentang kesiapan Laura untuk menikah dengannya besok. Usia mereka masih sangat muda dan memutuskan untuk menikah itu tidak mudah. Banyak hal yang harus mereka pertimbangkan dan bukan hanya itu saja, kebebasan mereka juga di pertaruhkan di sini. Setelah menikah mereka akan terikat dengan sebuah tali pernikahan yang sangat suci dan mereka juga harus bisa menempatkan diri mereka dengan banyak hal.


"La," panggil Jeff dengan begitu lembut seolah-olah suara itu benar-benar nyata dan ada di dekatnya saat ini. Angin malam yang menerpa tubuh Laura saat ini imut menyampaikan bagaimana rindunya pria itu.

__ADS_1


"Ya," Jawa Laura dan kalah lembutnya setelah dia sadar jika saat ini mereka masih saling berhubungan lewat ponsel.


Jeff belum menjawabnya, dia berjalan ke luar kamarnya membuka kaca balkon yang menyajikan pemandangan kota dari ketinggian seperti ini.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu?"


"Apa?" tanya Laura yang merasa gugup dengan pertanyaan Jeff. Dia tidak tau harus bagaimana menjelaskannya saat ini jika dia sangat merindukan sosok yang sudah 2 hari ini tidak bertemu dengannya.


"Kamu yakin dan benar-benar sudah siap menikah denganku besok?" tanya Jeff. Dia ingin kembali memastikan semua ini jika Laura memang siao menikah dengannya dsn menjalani kehidupan bersamanya nanti.


"Kenapa mempertanyakan hal seperti ini lagi di saat pernikahan kita sudah berada di depan mata? Hanya tinggal menunggu beberapa jam saja kita sudah kan menjadi sepasang suami istri dan kamu masih bertanya apakah aku siap atau tidak? Pertanyaan macam apa itu?" jawab Laura yang mempertanyakan tentang pertanyaan dari Jeff itu. Menurutnya tidak masuk akal sekali bertanya hal seperti itu di saat mereka sudah mengurus segalanya dan bahkan hanya tinggal menunggu beberapa waktu lagi pernikahan mereka.


"Kenapa baru mempertahankannya sekarang? kenapa tidak sejak kemarin-kemarin?" jawab Laura karena memang seperti itu yang ada di pikirannya saat ini. Sungguh, rasanya dia tidak mempercayai jika Jeff bertanya hal seperti ini lagi padanya.


"Aku hanya merasa gugup. Aku tidak percaya jika kita benar-benar akan menikah besok. Aku siap lahir batin La, aku hanya ingin mempertanyakannya saja denganmu. Apakah yang ku rasakan saat ini kamu rasakan juga?"


"Apa pun itu, keputusanku sudah bulat dan aku akan tetap pada pendirianku. Apa yang aku pilih kemarin menjadi pilihan tetap ku. Jadi jika hanya ingin mempertanyakan hal seperti ini lagi aku tidak ingin menjawabnya lagi dan lebih baik tutup saja teleponnya!" putus Laura. Dia sengaja memutuskan panggilannya secara sepihak karena tidak ingin membahas hal itu lagi dengan Jeff yang terus saja mempertanyakan kesiapan dirinya untuk pernikahan besok.


"Apa-apaan dia ini? Jika ingin bertanya apakah aku siap atau tidak kenapa baru bertanya sekarang di saat pernikahannya sudah ada di depan mata?" Laura terus saja mengomel pada ponselnya sampai dia tidak tau jika maminya sudah berada di belakangnya sejak tadi.

__ADS_1


"Sayang,"


"Astaga Mami!" Laura terkejut ketika ada seseorang yang memanggilnya dan menyentuh bahunya. Jantung Laura berdegup kencang karena merasa takut dan kaget sekaligus. Dara sendiri hanya tersenyum saja melihat reaksi dan respon Laura terhadapnya.


"Apa mami mengagetkan kamu?" tanya Dara yang melihat Laura masih terkejut seperti itu.


"Mami ih! Laura kaget tau!" Laura benar-benar kaget ketika maminya datang.


"Maaf sayang, mami tidak bermaksud untuk mengagetkan kamu seperti itu. Mami lihat kamu terlalu fokus dengan ponsel kamu," ucap Dara karena sejujurnya dia memang tidak bermaksud untuk mengagetkan Laura seperti itu. Dia hanya datang dengan membawa sebuah kotak kayu ukiran berwarna coklat.


Melihat apa yang maminya bawa membuat Laura penasaran dengan apa yang ada di tangan maminya saat ini.


"Apa itu mi?" tanya Laura pada maminya yang langsung memberikan kotak kayu itu padanya dengan senyuman. Melihat maminya tersenyum dengan begitu tulus seperti itu membuat Laura baru sadar, pantas saja jika papinya tergila-gila dengan maminya dan begitu sangat mencintainya. Lihat, bahkan senyumannya saja sudah terlihat sangat indah sekali.


"Bukalah sayang, itu hadiah dari mami." Laura langsung membuka kotak tersebut dan melihatnya. Saat Laura membukanya, di dalam sana ada sebuah gelang emas dengan sebuah permata di tengahnya. Itu terlihat kuno karena emas kuning, tapi tetap terlihat indah karena desainnya yang klasik.


"Gelang?" tanya Laura pada maminya dan Dara hanya tersenyum saja. Itu memang hadiah darinya.


"Iru gelang emas dan itu mami membelinya dengan uang gaji saat mami bekerja dulu. Itu gelang kesayangan mami. Mungkin harganya memang tidak mahal, tapi perjuangan mami membeli itu yang harus di ingat. Mami harus menabung beberapa bulan baru bisa membelinya. Permata di atasnya ini memiliki arti kekuatan seorang perempuan dan mami harap kamu bisa kuat menghadapi apa pun cobaan di dalam rumah tangga kamu nantinya sayang. Besok kamu akan jadi pengantin, anak kesayangan mami, bayi cantik kami semua sudah akan menikah dan mami harap tidak ada hal buruk yang akan mendekati kamu di mana pun kamu berada. Mami akan terus berdoa pada Tuhan untuk kesehatan kamu dan kebahagiaan kamu sayang, karena kamu adalah permata hati kami semua."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2