
Hari ini mereka ada kegiatan belajar kelompok yang dilaksanakan di rumah Laura. Ya, mereka semua sudah sepakat bahwa mereka akan belajar kelompok di rumah Laura dan itu membuat Jordan merasa senang dan bahagia karena untuk pertama kalinya Laura membawa teman-temannya ke rumah. Dia terlihat sangat excited dan sangat antusias sekali untuk menyambut kedatangan teman-teman sekolah Putri kesayangannya itu. Jordan harus tampil maksimal. Dia harus terlihat tampan dan berwibawa di depan teman-teman putrinya.
Seperti saat ini, Jordan sedang bersiap sebelum teman-teman Laura datang dia juga sudah memesan banyak makanan yang disukai anak muda zaman sekarang.
"Sayang, apa semuanya sudah siap?" tanya Jordan pada istrinya. Dia tidak ingin terlihat ada kesalahan karena ini pertama kalinya ada anak sekolah datang ke rumah mereka bahkan dulunya saat Lucas sekolah pun dia jarang membawa teman-temannya.
"Kenapa kamu yang terlihat ribet sendiri? lagi pula putri kita hanya akan datang membawa teman-temannya sekolah untuk belajar kelompok. Tapi cara kamu melakukan semua ini seolah-olah ada pejabat yang akan datang ke rumah kita. Banyak sekali makanan berjejer di rumah ini. Untuk apa coba? di depan sana ada tukang siomay, tukang bakso, tukang rujak dan tukang dawet. Belum lagi tukang sate, ya ampun. Kamu ini ingin apa sebenarnya sayang? apa kamu mau memindahkan semua pedagang kaki lima itu ke halaman rumah kita? tidak sekalian saja kamu membawa angkringan datang ke rumah kita sekarang kita makan malam di sini." gerutu Dara yang benar-benar tidak percaya dengan apa yang suaminya lakukan. Banyak sekali tukang makanan yang ada di depan rumah mereka saat ini dan semuanya sudah berjajar dengan begitu rapi mempersiapkan dagangan mereka.
Yang lebih parahnya lagi, sekolah lah orang yang datang ke rumah mereka hanya berjumlah 7 orang. Lalu bagaimana bisa Jordan menyiapkan semua itu seolah-olah mereka akan menyambut satu kompi.
__ADS_1
"Berbagi itu indah sayang. Tapi jika kamu tidak keberatan aku bisa memanggil tukang angkringan juga untuk menu makan malam kita. Bagaimana jika sekalian saja kita adakan pesan di sini?"
"Gila! ini benar-benar sudah gila. Sudahlah, Kamu urus saja sendiri semua itu aku tidak ingin ikut campur. Jika nanti Laura marah maka kamu yang menghadapinya." Dara pergi meninggalkan suaminya begitu saja karena dia sudah merasa kesal dengan Jordan. Entah bagaimana cara dia menjelaskan bahwa semakin tua suaminya itu semakin menjadi-jadi saja. Banyak sekali tingkah dan ulahnya yang di luar pemikiran akal sehat Dara. Terkadang dia berpikir Jordan ini terlihat seperti ABG tua yang tidak sadar akan umur yang sudah semakin tua. Dia masih berpikir seolah-olah dia itu anak muda yang masih bisa bersaing dengan anak remaja di luar sana.
"Kenapa?" tanya Sarah ketika melihat teman baiknya misuh-misuh setelah keluar dari kamar ya. Dia sudah tahu jika seperti ini pasti ada saja yang dibuat Jordan. Sarah sendiri masih terlihat asyik dengan bakso yang dimakannya karena memang itu adalah kesukaannya.
"Tidak perlu bertanya lagi karena kamu sudah mengetahui jawabannya. Aku tidak habis pikir dengan jalan pikirannya yang membawa begitu banyak pedagang kaki lima itu ke rumah kita. Sebenarnya aku tidak mempermasalahkan itu sama sekali karena aku tahu niatnya itu membantu mereka semua tapi tidak perlu seperti itu juga. Teman-teman sekolah Laura hanya akan datang 7 orang karena mereka akan belajar kelompok di rumah ini lalu bagaimana bisa dia membawa begitu banyak penjual makanan itu ke rumah kita dan bahkan yang lebih parahnya lagi dia akan memanggil warung angkringan untuk dipindahkan ke rumah kita karena katanya dia ingin makan malam dengan itu semua. Bukankah itu namanya keterlaluan?" Sarah hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya saja karena dia tahu bagaimana kesalnya Dara dengan situasi yang mereka hadapi saat. Memang benar jika Jordan ingin membantu para pedagang tersebut, tapi tidak harus banyak itu dibawa ke halaman rumah mereka.
Tak selamat datang rombongan teman-teman sekolah Laura, mereka datang dengan mobil dan juga motor. Saat mereka memasuki halaman rumah keluarga besar Brussels, mereka menetapkan ku akan keindahan rumah ini. Sebenarnya jika dibandingkan dengan rumah Jeff, ini masih kalah jauh. Hanya saja yang membuat mereka terkejut dan menetap panggung adalah banyaknya aneka jajanan dan makanan yang dijual di pinggir jalan itu berada di halaman rumah Laura. Mereka langsung bersemangat karena mereka belum makan siang.
__ADS_1
Begitu juga dengan Laura, dia menatap tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini karena di depan matanya sudah berjajar dengan rapi penjual makanan yang sering. Dia sudah menduganya bahwa ini semua pasti ulah dari papinya. Jika itu dari maminya tidak mungkin, karena Dara selalu menerapkan pola hidup hemat pada mereka semua tapi papinya yang selalu merubah proses itu semua.
"Waw, auto gagal diet kalau kayak gini mah. Boleh di gas langsung nggak nih?" tanya Dirga ketika melihat begitu banyaknya makanan yang berjajar di depan mata mereka. Laura sendiri hanya bisa melakukan kepalanya saja karena dia sudah tahu jika semua ini memang disiapkan oleh papinya untuk mereka. Lihat, bahkan saat ini papinya terlihat sangat santai sekali keluar dari rumah dengan celana ponggol dan kaos oblong miliknya. Benar-benar definisi menolak tua versi Jordan Brussels.
"Hello guys, welcome home. Ayo silahkan di nikmati." ucapnya tanpa beban sama sekali dan dia juga tidak melihat bahwa saat ini Laura sedang menatap tajam ke arahnya. Ya, Naura sudah menatap papinya dengan tatapan sengit karena dia tidak ingin jika pria tua itu menjadi berat perhatian banyak teman-temannya apalagi di sini ada teman perempuannya yang terlihat sangat kagum dengan sosok penampilan papinya
"Laura mau ngomong!" Laura langsung menarik papinya untuk masuk ke dalam rumah mereka karena ada hal yang ingin dibicarakannya. Jordan sendiri langsung ikut ke dalam rumah karena memang Laura yang menarik dirinya.
"Ada apa sayang?" tanya Jordan yang merasa tidak bersalah sama sekali.
__ADS_1
"Papi plis, Laura mau kerja kelompok dan Laura di sini mau belajar bukan mau dokumentasi atau kulineran. Laura benar-benar mau belajar Pi jadi berhenti mengganggu Laura dan juga teman-teman Laura. Papi masuk ke dalam rumah dan diak di dalam kamar saja. Jika papi keluar Laura akan marah!"