
William benar-benar gugup saat ini, apalagi ketika dia melihat bahwa wanita yang sebentar lagi menjadi istrinya sudah datang dan berjalan ke arahnya bersama sang ayah membuat jantung William seperti hendak melompat dari tempatnya saat ini, apalagi ketika melihat Sarah dengan gaun yang mencintai indah. Sungguh, William benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi.
Ketika ayahnya cara memberikan tangan putrinya pada William, saat itu juga William bergetar ketika menerima uluran tangan dari wanita yang akan menjadi istrinya sebentar lagi.
"Aku belum mengenalmu dengan jauh begitu juga dengan putriku, tapi aku harap kalian bisa dan saling mengasihi satu sama lain. Setidaknya berjanjilah pada Tuhan bahwa kalian bisa saling mencintai satu sama lain dengan mempercayai karena kepercayaan itu adalah pondasi yang utama dalam menjalin hubungan rumah tangga. Jangan pernah menyembunyikan sesuatu apapun karena sekali kalian berbohong maka akan ada kebohongan lainnya lagi. Aku berharap bahwa Tuhan selalu menyertai kalian." ucap ayah Sarah pada William.
Dia benar-benar berharap bahwa calon suami dari putrinya ini bisa terus menjaga permata hatinya karena di dunia ini hanya Sarah lain yang dimiliki olehnya.
"Terima kasih atas kepercayaannya ayah. Aku berharap bahwa aku akan bisa selalu bersama Sarah dan kami akan saling mencintai. Restui kami dengan segala berkat dan doamu." ayah Sarah menganggukkan kepalanya setelah dia menyediakan putrinya pada pria yang bisa dipercaya olehnya.
Entah mengapa dia percaya bahwa William bisa terus mencintai Sarah karena hanya William yang berani datang padanya dan mengajak Sarah menikah. Bukan hanya itu saja, tapi William tidak pernah menunjukkan apapun yang dimilikinya karena waktu pria itu melamar putrinya dia hanya mengatakan bahwa dia hanya pria biasa yang mencintai putrinya dan akan berusaha untuk terus membahagiakan Putri tercintanya.
William memang akan menikahi Sarah tapi dia juga mengatakan bahwa dia tidak akan pernah merebut permata hati sang ayah dari pemiliknya. Dia memang mencintai Sarah yang akan menjadikannya istrinya tapi dia tidak akan pernah merebut seorang anak perempuan dari genggaman ayahnya.
"Kedua mempelai siap?" tanya pembuka agama pada mereka yang sudah siap untuk mengucapkan janji suci pernikahan.
"Siap." jawab keduanya dengan selamat.
Baik Sarah maupun William keduanya sudah siap untuk menjalani pernikahan mereka dan sebentar lagi mereka sudah memasuki jenjang pernikahan dan itu artinya mereka berdua benar-benar harus siap untuk semua ini.
"Aku, William Antonio Deoroba, menerimamu Sarah Theana, untuk menjadi istriku, menemanimu dalam suka duka, sehat atau pun sakit, aku berjanji bahwa aku akan selalu mencintaimu sampai mau memisahkan. Aku menerimamu dalam sadar ku." ucap William dengan suara yang lantang.
Sarah ketika mendengarkan janji suci yang diucapkan William padanya. Dia tidak menyangka jika William bisa selantang itu mengucapkan janji sucinya dan itu membuat Sarah tidak bisa berkata-kata lagi.
__ADS_1
"Aku, Sarah Theana, menerima mu sebagai suamiku, William Antonie Deoroba, menemanimu dalam suka dan duka, sehat dan sakit, aku berjanji akan selalu bersamamu sampai maut memisahkan." jawab Sarah dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Semua ini benar-benar sangat luar biasa sekali baginya. Dia tidak menyangka jika kini dia sudah melepas masa lajangnya di usia hampir 30 tahun.
Tiba saat mereka hendak berciuman, William kembali bergetar dan dia kembali mengingat di mana saat Sarah mencium bibirnya hanya untuk membuatnya bisa menelan obat yang harus diminumnya saat itu. Entahlah, rasanya sulit sekali untuk melakukan semua ini tapi mau bagaimana lagi mereka harus melakukannya dan William tidak ingin dia kalah oleh Sarah lagi.
Kali ingin jadi nggak boleh kalah oleh Sarah dan dia akan membuktikan pada wanita itu bahwa dia bisa memimpin ciuman kali ini.
William pinggul Sarah hingga kedua tubuh mereka saling merapat dan wilayah memajukan wajahnya untuk bisa mencium bibir sang istri.
Ciuman yang sangat lembut dan tidak ada gairah sedikit peninggalannya karena ciuman kali ini yang mempersembahkan untuk sang istri karena dia benar-benar mencintainya.
Saat keduanya sedang berciuman tiba-tiba saja Jordan membuat ulah dengan bersiul keras.
"Suwiwit." ciuman keduanya langsung terlepas begitu saja ketika mendengar Jordan yang membuatku di sana.
"Astaga, tidak bisa kami tidak membuat ulah sebentar saja?" gumam William di hadapan istrinya karena dia benar-benar kesal dengan sepupunya itu.
Sarah yang mendengar keruntuhan dari suaminya hanya bisa tersenyum saja karena dia tahu bahwa Jordan memang seperti itu sejak dulu. Walau dia tidak terlalu mengenal Jordan dengan dekat tapi setidaknya dia tahu bahwa Jordan adalah orang yang pandai mencairkan suasana.
"Biarkan saja, nanti kalau aku sedang mengandung anakmu jangan pernah benci padanya atau kesal dengannya karena aku tidak ingin anakku mirip dengannya " ucap Sarah pada suaminya karena memang dia tidak ingin bahwa anaknya nanti akan mirip dengan Jordan dengan segala tingkah lakunya yang aneh dan menyebalkan itu.
"Apa kamu benar-benar siap untuk mengandung anakku? maksudnya anak kita?" tanya William yang merasa siap mengandung anaknya.
"Apa ingin mencobanya? aku rasa kita masih memiliki waktu sampai acara resepsi nanti malam, jika memang kamu menginginkannya."
__ADS_1
Deg!
Jantung William berdebar kencang ketika dia mendengar penuturan dari wanita yang baru saja menjadi istrinya yang mengajaknya bertempur dengan cepat.
"Jika ingin mencobanya, kita bisa melakukannya nanti. Aku siap melakukannya dengan kamu."
Blush...
Wajah William langsung berubah menjadi merah ketika mendengar ajakan dari Sarah. Sungguh, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang istrinya katakan bahwa wanita itu yang mengajaknya untuk bertempur di siang hari seperti ini sambil menunggu resepsi mereka di malam hari nanti.
"Jangan malu seperti itu, aku sudah pernah melihat hampir keseluruhannya, jadi biasa saja." ucap Sarah lagi yang semakin membuat William tidak bisa berkata-kata lagi.
Sementara di kursi tamu, Jordan sedang menghadapi istrinya yang terus saja mencubit lengannya sejak dia melakukan aksinya tadi.
"Tidak bisakah kamu tidak berbuat hal aneh lagi? sekali saja sayang, tolong jangan berbuat ulah. Ini acara sakral, ini pernikahan William dan kita harus menjaga nama baiknya ."
"Aku hanya ingin mencairkan suasana saja sayang karena jika tidak begitu maka William akan menangis nantinya."
plak!
"Mami!" pekik Jordan ketika dia mendapatkan pukulan keras di bahunya dari sang mami.
"Rasakan itu! kamu selalu saja berbuat ulah. Lihat, bahkan William sudah ingin menelan mu hidup-hidup saat ini." tunjuk mami Sofia Jordan.
__ADS_1