
Setelah melewati liburan panjang di berbagai negara Eropa, akhirnya William dan Sarah pulang kembali ke tanah kelahiran wanita itu karena memang sudah sebulan lamanya mereka meninggalkan tanah kelahiran.
Saat ini, mereka pulang ke rumah yang memang sudah William siapkan untuk sang kekasih hati.
"Kita kemana?" tanya Sarah pada suaminya saat mobil mereka berjalan melewati jalanan yang tidak pernah mereka lewati. Sarah pikir William akan membawanya ke apartemen atau rumahnya bersama sang ayah, namun tidak.
"Kita akan pergi ke rumah kita sendiri sayang, karena selama sebulan kita berlibur rumah kita di siapkan oleh orang."
"Bukankah kamu mengatakan jika rumahnya akan kita yang mendesain?" tanya Sarah lagi karena memang mereka sudah berjanji bukan.
"Memang, tapi ingatkah kamu setiap hari aku bertanya kamu ingin yang seperti apa dan seperti apa lalu apa yang kamu jawab?" Sarah ingat betul dan dia menganggukkan kepalanya.
"Ya, jawaban dari kamu aku kirimkan langsung pada para pekerja interior. Mereka lakukan semua yang kamu inginkan dan aku harap semuanya sesuai dengan apa yang aku harapkan dan juga kamu harapkan."
"Hem," jawab Sarah seadanya karena dia tidak ingin menanggapi lebih dengan apa yang suaminya katakan.
Tubuhnya sudah terlalu lelah untuk menghadapi semua ini jadi rasanya dia harus menghemat energinya.
Tepat saat mereka sampai di depan sebuah gerbang yang cukup tinggi, cara benar-benar yakin bahwa rumah ini adalah rumah mewah. Itu terlihat jelas dari pagarnya saja sudah terlihat mewah, jadi dia bisa menyimpulkan bahwa hunian mereka adalah hunian mewah yang disiapkan William untuk mereka.
"Ayo sayang," ajak William pada istrinya dan dia membawa Sarah turun dari mobil.
__ADS_1
Dari tempatnya saat ini Sarah sudah bisa melihat sebuah mobil impiannya sudah terparkir di depan rumah mereka. Sungguh, mobil itu sangat luar biasa dan Sarah menyukainya.
"Apa itu mobil untukku?" tunjuk Sarah pada mobil impiannya yang terparkir dengan manja di halaman rumah mereka.
"Ya, itu memang untuk kamu sayang dan hanya itu yang tersisa. Warna hijau dan kata mereka edisi terbatas." tanpa menunggu waktu lama lagi Sarah langsung pergi meninggalkan suaminya begitu saja untuk mencoba mobil baru miliknya.
Melihat bagaimana istrinya terlihat sangat antusias seperti itu membuat William ikut merasakan kebahagiaannya. Setidaknya dia tahu apa yang dilakukannya saat ini benar-benar sangat membahagiakan untuk istrinya.
"Sayang, apa kamu suka?" tanya William pada istrinya yang terlihat sangat antusias berada di dalam mobil baru miliknya.
"Ya, aku sangat bahagia dan akan aku tunjukkan pada Jordan bahwa suamiku juga tidak kalah kaya dengannya. Dia terlalu sombong, dan aku akan memamerkan hak ini pada Dara karena dia tidak diperbolehkan untuk membawa mobil lagi."
"Tapi sayang, aku akan tetap berhati-hati. Aku berjanji akan selalu berhati-hati untuk membawa mobilnya." pinta Sarah dengan sangat pada suaminya karena dia tidak ingin dilarang oleh William.
"Itu perintah sayang, terserah kamu mau mematuhinya atau tidak tapi pilihan ada di tangan kamu. Jika kamu masih ingin bekerja maka menurut lah jika tidak aku akan dengan senang hati mengurung kamu di rumah kita." terdengarlah nafas dari Sarah dan itu membuat William tersenyum. Melihat reaksi istrinya seperti itu dia tahu bahwa saraf tidak akan mungkin membentaknya karena dia tidak ingin berhenti bekerja. Menjadi seorang dokter adalah cita-citanya dan bekerja adalah dunianya. William tau bahwa Sarah akan menurut padanya.
"Baiklah, aku menurut saja. Tapi awas saja jika kamu melarang aku untuk bekerja." ancam Sarah pada suaminya karena memang dia tidak akan pernah berhenti bekerja dari dunia kedokteran. Entah jika suatu saat nanti dia akan berhenti dan lebih memilih untuk mengurus anak dan suaminya di rumah.
"Tidak akan selagi kamu menurut dan menjadi istri yang baik. Aku tidak akan pernah melarang kamu untuk melakukan hal lain di luar sana asal itu masuk akal. Jika sekali saja kamu berulah di luar sana maka katakan selamat tinggal dengan dunia kedokteran kamu itu dan siaplah untuk mengurus aku dan anak-anak kita di rumah."
__ADS_1
"Baiklah, baiklah. Aku akan manjadi istri yang baik. Tapi sebelum itu ayo gendong aku dulu sebelum masuk ke dalam rumah kita." Sarah merentangkan kedua tangannya hingga membuat William langsung menghampiri istrinya dan membawa wanita itu ke dalam gendongannya.
Keduanya saling bermesraan untuk masuk ke dalam rumah tanpa mereka ketahui bahwa ada kejutan yang akan benar-benar mengajarkan mereka berdua nantinya.
"Ayo sayang buka pintunya," Sarah menganggukkan kepalanya dan mendorong sepasang pintu besar yang berada di depan mereka saat ini sebelum mereka memasukinya.
Tepat saat sepasang pintu itu terbuka Sarah dan William langsung kaget ketika mendengar suara keributan di dalamnya.
Duar...
"Selamat datang..." teriak seluruh keluarganya dengan membawa alat kehebohan yang membuat William hampir terjatuh jika dia tidak sigap.
Dia dia sendiri itu tidak masalah, tapi saat ini dia menggendong istrinya. Lalu bagaimana jika mereka berdua jatuh nanti?
Saat William hendak memarahi Jordan mami Sofia langsung memasang badan untuk putranya karena dia tahu bahwa putranya yang satu lagi akan menyerang.
"Jangan menyalahkan Jordan karena mami yang ingin melakukan hal ini. Mami yang mengajak mereka untuk melakukan surprise party untuk menyambut kedatangan kalian. Jadi, jika kamu ingin marah-marah saja pada mami karena mami yang merencanakan semua ini." yang tadinya ingin marah, kini William tidak bisa marah karena ia mengatakan hal itu adalah maminya.
Jika saja itu Jordan maka dengan senang hati William akan memukul kepalanya atau bertarung dengannya karena sudah membuatnya kaget dan kesal.
Sedangkan Jordan sendiri, dia merasa di atas angin saat ini karena maminya yang membela dirinya di hadapan William secara langsung karena memang bukan dia yang mengajak maminya untuk datang ke rumah baru milik saudaranya itu.
__ADS_1
"Bukan salahku, jadi jika ingin. marah ayo hadapi mami. Aku akan memberikanmu cuti tambahan selama sebulan lagi jika kau berani mengumpat pada mami." tantang Jordan dengan wajah tengilnya.
Dia sengaja menantang William seperti itu karena dia tahu bahwa William tidak akan pernah berani melakukan hal itu pada maminya.