Di Cerai Karena Lumpuh

Di Cerai Karena Lumpuh
S2. Ancaman Lucas


__ADS_3

"Ingat, jadi di restoran dari jangan pernah mengatakannya pada mama dan juga papi. Jika apa yang kamu mengatakan yang pada mama dan papi maka jangan salahkan kakak jika kakak akan memblokir segalanya yang kamu miliki. Ingat itu!" ancam Lucas pada Laura karena dia tidak ingin apapun yang terjadi di restoran tadi di ceritakan adiknya itu pada keluarga besarnya karena dia tahu bahwa seluruh warganya itu bermulut ember termasuk papinya. Belum lagi tante Sarah yang memiliki, mulut yang luar biasa parahnya. Entahlah, dia juga tidak tau bagaimana bisa paman William yang memiliki kepribadian pendiam seperti itu bisa memiliki istri yang luar biasa seperti Tante Sarah.


"Tapi, jika dipikir-pikir lagi kak Dahlia itu memang cantik, lalu apa kakak benar-benar akan menjalani hubungan serius dengannya?" tanya Naura dengan rasa penasaran yang luar biasa. Sungguh, sangat penasaran sekali dengan hubungan antara kakaknya dan juga wanita bernama Dahlia. Wanita menutupi seluruh tubuhnya sesuai dengan ajaran yang diyakininya.


"Kakak yakin, maka dari itu kakak akan memulainya secara perlahan untuk mendekatkan Dahlia pada kedua orang tua kita. Doakan saja semoga kakak bisa meluluhkan hati mama dan papi, karena kakak benar-benar menyukainya. Bukan sekedar suka saja tapi mungkin ini memang cinta, perasaan yang membuat kakak selalu memikirkannya." Lucas menceritakan apa yang di rasakannya saat ini, hanya saja dia memang belum bisa menjalani semuanya tanpa restu orang tuanya dan lagi pula semua ada masanya untuk Lucas agar belajar lebih giat lagi.


"Semoga kakak selalu bahagia, aku hanya bisa berdoa untuk kakak. Semoga kakak bahagia selalu," ucap Laura pada kakaknya. Mereka langsung berpisah rasakan kembali ke perusahaan. Saat sampai di rumahnya, Laura langsung disambut oleh papinya yang mempertanyakan apa yang terjadi di luar sana apalagi ini semua sebuah kelangkaan yang luar biasa seorang Lucas bisa mengajak adiknya makan siang di luar.


"Apa yang terjadi di luar sana? apa kamu baik-baik saja sayang?" tanya Jordan pada putrinya karena dia sangat mengkhawatirkan keadaan Laura. Jordan takut jika di luar sana putrinya mendapatkan tekanan dari Lucas yang begitu sangat perfeksionis. Putranya itu bukan tipe seseorang yang banyak bicara tapi dia banyak bekerja jadi jika ingin bekerja dengan Lucas maka jangan pernah main-main dan membuang banyak waktu karena Lucas paling membenci hal itu.

__ADS_1


"Kenapa Papi bertanya hal seperti itu? bukankah kakak itu baik? Laura baik-baik saja dan kakak memberikan Laura makan yang enak hanya saja yang memang walau Laura harus ikut bersamanya untuk pertemuan bisnis setidaknya itu tidak masalah karena Laura bisa makan sampai puas." Jordan masih mencari kebohongan di wajah putrinya apakah ada disembunyikannya atau tidak namun nyatanya Laura sangat pandai menyimpan perasaannya sendiri hingga Jordan tidak bisa mencari tahu apa yang terjadi pada putrinya saat ini.


Karena tidak menemukan apapun yang disembunyikan oleh putrinya akhirnya Jordan memilih pergi meninggalkan Laura karena dia ada urusan sebentar di luar bersama William. Dari apa yang Jordan dapatkan putranya semakin dekat dengan seorang wanita yang berbeda keyakinan dengan mereka. Jordan benar-benar ingin mencari tahu apakah wanita itu benar-benar wanita baik-baik atau bukan. Jika memang wanita itu wanita baik-baik dan tidak niko-niko maka dengan senang hati Jordan melepaskan putranya untuk bersama wanita itu. Tapi, jika wanita itu hanya memandang harta putranya saja dan memanfaatkan apa yang putranya miliki maka Jordan akan dengan keras menentangnya.


Dia tidak akan membiarkan putranya mendapatkan wanita yang bukan dari kalangan baik-baik. Jordan tidak mempermasalahkan apakah wanita itu dari kalangan orang kaya atau bukan, inti dari semua itu adalah ketulusan dari wanita itu mencintai putranya. Jika memang mereka saling mencintai maka dengan senang hati Jordan merestui keduanya.


"Semoga saja wanita itu memang wanita baik-baik." Jordan pun keluar dari rumahnya karena William sudah menunggunya di dalam mobil. Saat Jordan sampai di dalam mobilnya dia sudah melihat raut wajah menyebalkan sepupunya itu. William selalu saja begini jika dia terlambat.


"Cih, selalu saja seperti ini entah sampai kapan kau akan bisa tepat waktu karena semakin tua usiamu maka semakin lambat cara kerjamu," jawab William karena memang itu kenyataannya semakin bertambah usia mereka maka akan semakin lambat cara kerja mereka dan itu sudah terbukti bahwa Jordan an yang sudah mengalaminya.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan terlalu banyak bicara lagi. Hidupkan maksudnya ada jalan kan mobilnya karena kita akan bertemu dengan wanita itu. Aku memastikannya sendiri bahwa wanita itu memang benar wanita baik-baik agar aku bisa melepaskan putraku dengan tenang. Setidaknya pesan yang ditinggalkan mami sebelum meninggal, sudah ku kerjakan dengan baik bahwa aku harus mencarikan calon istri dan pendamping hidup yang baik untuk Lucas. Kau juga mendapatkan pesan yang sama, jadi jangan membuang waktu lagi dan lekas jalankan mobilnya." William benar-benar tidak percaya dengan ini. Sejak dia menunggu Jordan di sini karena pria itu terlalu banyak membuang waktunya lalu bagaimana bisa dia yang memarahinya saat ini. Sungguh, luar biasa sekali bukan sepupunya ini.


Mobil yang mereka tumpangi membelah jalanan kota yang cukup lenggang siang ini karena memang sedang berada di jam kerja. Jika mereka berangkat sore maka bisa di pastikan bahwa keduanya akan terjebak macet.


Kini, mereka sudah sampai di depan rumah yang terlihat sangat asri, apalagi di depan rumahnya ada sebuah tempat ibadah umat muslim hingga membuat Jordan semakin berharap banyak untuk itu.


"Kau yakin ini rumahnya?" tanya Jordan pada William saat mereka sudah sampai di rumah sederhana nan asri tersebut.


"Mana ku tau, bukan aku yang mencari informasinya. Tapi dari alamat yang kau tunjukkan di sinilah tempatnya." Jordan hanya bisa memutar kedua bola matanya dengan malas ketika mendengar apa yang William katakan. Jawaban yang pria itu katakan bukan jawaban yang di inginkan ya, jadi rasanya dia sedikit merasa kesal. Tapi mau bagaimana lagi? Memang seperti itulah William, jadi dia tidak bisa melakukan apapun lagi. Setidaknya mereka sudah sampai di tempat ini dengan selamat saja itu sudah jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali.

__ADS_1


"Apa kau yakin jika kita di terima dengan baik? lihat, kau tau bagaimana penampilan ku bukan? bagaimana jika mereka menolak putraku hanya karena penampilanku yang seperti ini?" tanya Jordan yang mulai panik dengan masa depan putranya.


"Pikirkan saja itu nanti, sekarang apa yang harus kita lakukan? aku lapar dan sepertinya apa yang mereka jual itu terlihat enak, jadi ayo turun. Aku ingin membeli camilan yang mereka jual."


__ADS_2