
"Kenapa kau gelisah?" tanya Jordan pada sepupunya yang terlihat sangat gelisah duduk di sofa saat ini.
Sementara William yang mendapatkan pertanyaan seperti itu dari sepupunya hanya bisa menatap sengit pada pria itu.
"Kau sudah tahu kenapa alasanku gelisah tapi kau berpura-pura tidak tahu saja apa yang terjadi sebenarnya."
"Memang!" jawab Jordan karena memang ini yang diinginkannya.
Dia belum diperbolehkan pulang ke rumahnya karena keadaannya masih harus mendapatkan perawatan lagi jadi dia juga meminta pada William untuk tidak pulang sebelum dia pulang ke rumahnya.
"Lalu kenapa kau bertanya lagi?" tanya William karena memang dia sudah terlanjur kesal dengan sepupunya ini.
"Kita akan pulang besok jadi jangan terlalu banyak bicara. Saat ini nikmati saja kebersamaan kita di rumah sakit karena besok kita sudah pulang ke rumah." ucap Jordan.
Sedangkan William sendiri dia hanya bisa mendesah pasrah dengan apa yang dikatakan sepupunya itu. Jika tidak ada istrinya di sini maka William akan menghabisinya saat itu juga.
Tapi mereka tidak mungkin bertengkar di depan ibu hamil itu karena bisa saja darah nanti terganggu dengan perdebatan mereka berdua.
"Sudahlah, aku muak melihatmu." ucap William yang langsung meninggalkan ruangan Jordan dan dia kembali ke ruangannya.
Saat dia hendak kembali ke ruangannya, dia melewati ruangan yang tertera nama calon istrinya di sana.
" dr. Sarah Theana Sp.M. Waw, ternyata aku baru mengetahui jika calon istriku seorang dokter spesialis mata." ucap William dengan bangga karena dia memang sangat bangga dengan dirinya yang telah menemukan tambatan hatinya dan itu adalah Sarah.
Tanpa menunggu waktu lama lagi, William langsung masuk ke ruangan tempat di mana calon istrinya bekerja.
Saat dia masuk ke ruangan tersebut, film kaget ketika di dalam masih ada pasien yang bertemu dengan calon istrinya.
Begitu juga dengan Sarah, dia juga melihat ke arah pria yang baru saja masuk ke ruangan kerjanya saat ini dan itu adalah William.
__ADS_1
"Duduk saja di sana. Setelah ini selesai kita akan bicara." ucap Sarah pada calon suaminya itu.
Dia membiarkan William duduk di sofa yang berada di ruangan kerjanya saat ini.
William sendiri hanya bisa patuh dan menurut dengan apa yang dikatakan Sarah padanya dan dia duduk diam di sofa yang berada di ruangan kerja calon istrinya.
Melihat Sarah yang bekerja dengan menggunakan kacamata kerja miliknya membuat William semakin jatuh cinta pada wanita itu.
Entah mengapa rasanya semakin jatuh cinta pada Sarah itu semakin membahagiakan.
William terus saja memandang ke arah calon istrinya tanpa dia sadar bahwa Sarah sudah selesai dengan pasiennya dan berakhir juga jam kerjanya.
Melihat William yang melamun melihatnya seperti itu membuat Sarah hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Pria ini benar-benar di luar jangkauannya.
Kepolosan dan sikap William membuat Sarah merasa bahwa dia adalah wanita dewasa yang mengencani seorang pria di bawah umur padahal William sendiri sudah berusia 38 tahun sementara dirinya baru 30 tahun.
"Sudah puas melihatku?"
Sedangkan Sarah sendiri malah semakin menggoda pria yang akan menjadi suaminya ini. Entah mengapa rasanya, semakin lama menganggu William itu menjadi kebahagiaan tersendiri baginya.
"Sa-sarah," ucap William dengan terbata ketika dia melihat bahwa wanita itu berada di depannya bahkan saat ini Sarah semakin memangkas jarak di antara keduanya hingga membuatnya semakin mendekat
"Apa yang kamu lakukan Sarah?" tanya William yang mulai panik karena dia tahu bahwa wanita ini bukan wanita sembarangan.
Sarah bisa melakukan apapun pada dirinya seperti saat kemarin ketika dia tidak bisa menelan obatnya dan dengan begitu mudahnya Sarah mencium bibirnya dan memberikan obat melalui mulutnya.
Entahlah, jika memikirkan hal itu membuat William tidak habis pikir. Sarah bukan wanita sembarangan karena dia bisa melakukan hal seperti itu tanpa memikirkan bagaimana perasaannya.
"Kenapa? apa kamu takut?" tanya Sarah pada William ketika melihat wajah pria itu yang terlihat.
__ADS_1
"Bu-bukan seperti itu tapi aku-" William tidak melanjutkan kata-katanya ketika mendengar Sarah yang tertawa seperti itu.
Dia merasa kesal karena di permainkan oleh Sarah jingga membuatnya langsung menarik tengkuknya dan mencium bibir Sarah.
William melakukan seperti apa yang salah lakukan padanya kemarin dan itu membuat Sarah hanya bisa terdiam dan menikmati apa yang William lakukan padanya.
Nalurinya membawanya Sarah untuk membalas apa yang William lakukan hingga membuat keduanya saling berciuman dan melupakan dimana mereka berada saat ini.
Bahkan Sarah sudah melingkarkan kedua tangannya di leher William hingga membuat posisi mereka semakin intim.
Keduanya sama-sama tersengal setelah melakukan ciuman panas di ruang hari ini. William sendiri langsung menghapus bekas ciuman mereka di bibir Sarah yang tertinggal Saliva keduanya di sana.
"Sarah," panggilnya dengan lembut hingga membuat Sarah tersenyum.
"Ya?"
"Apa kau mencintaiku?" tanya William pada Sarah dan wanita itu langsung menggelengkan kepalanya yang membuat senyuman William langsung luntur saat itu juga.
"Kenapa?" tanya William yang penasaran dengan semua ini. Mereka sudah berciuman dan Sarah juga sudah melihat hampir seluruh bagian tubuhnya, lalu bagaimana bisa dia tidak mencintainya?
"Aku takut jatuh cinta karena aku takut di tinggalkan seperti ayahku di tinggalkan ibuku. Aku takut jika aku mencintaimu nanti maka kau juga akan meninggalkanku di saat ada wanita yang jauh lebih cantik dariku."
"Alasan apa itu?" tanya William yang tidak terima dengan jawaban yang di berikan Sarah padanya.
"Itu bukan alasan karena memang itu kenyatannya. Aku takut jatuh cinta karena sebelumnya pun aku sudah pernah jatuh cinta lalu pria yang aku cintai malah mencintai temanku sendiri. Aku tidak pernah memaksanya untuk mencintaiku dan bahkan hingga saat ini dia tidak tau jika aku mencintainya."
"Jordan?" tanya William dan Sarah menganggukkan kepalanya.
"Jangan berpikir bahwa aku menerimamu karena aku masih mencintai Jordan dan ingin merusak hubungannya. Aku memilihmu karena aku merasa nyaman dan bahagia bersamamu. Jika memang kamu mencintaiku maka ajarkan aku untuk mencintai dirimu juga. Ajarkan aku agar aku bisa menghilangkan rasa ketakutan ku untuk mencintai."
__ADS_1
"Katakan padaku lebih dulu, apa kau siap mencintaiku dan membuka hatimu jika kita menikah?"
"Aku sudah siap menikah denganmu dan aku siap membuka hatiku untukmu tapi dengan satu syarat, jangan pernah memberitahukan pada siapapun jika aku pernah mencintai Jordan. Aku sudah melupakan perasaanku dan aku sudah melupakannya jauh sebelum aku mengenalmu. Aku tidak pernah berharap untuk mendapatkan balasan apapun dari perasaan ku ini terhadapnya. Biarkan ini semua menjadi rahasia masa laluku dan aku siap menjalani masa depanku bersamamu jika memang kamu siap bersamaku."