
Cuplikan ISTRI TERCINTA SANG CEO
Sementara itu, Satya yang terus mencari-cari Reva selama satu bulan itu terus mendapatkan tekanan dari papanya.
“Dengar, Satya! Papa tidak mau tahu, kamu harus menikah dengan Sandra. Seperti rencana semula!”bentak Chandra, suaranya menggelegar memenuhi ruang keluarga. Satya mendongakkan kepala, hembusan nafas keluar dari mulutnya.
“Tapi, Pah. Aku ingin meyakinkan diriku dulu kalau Reva benar-benar ingin berpisah dariku. Aku ingin mencarinya,” desis Satya mencoba menghindar, tatapannya sendu memohon. Setelah satu bulan mencari-cari Reva, kehidupan Satya terlihat kacau. Dia terus mencari Reva tanpa petunjuk apa pun, meski orang-orangnya dikerahkah tapi, Reva tetap tidak ditemukannya.
__ADS_1
“Reva! Reva! Kamu masih memikirkannya?” Mata Chandra melotot dengan suara meninggi, dia tampak marah melihat anak satu-satunya yang terus mencari gadis yang menurutnya pandai berbohong itu.
“Aku masih tidak percaya kalau apa yang telah kami lalui tidak berarti, aku ingin mendengar dari mulutnya langsung, Pah!”pekik Satya dengan nada tinggi tak mau kalah dengan teriakan papanya. Jiwanya hampa, seakan ada yang hilang dari hidupnya. Dia merasa Tuhan tidak adil padanya, mengirimkan seseorang yang dicintai lalu menghilang tanpa jejak hingga membuatnya terpuruk.
“Sudahlah, Satya. Papa tidak mau mendengar alasan lagi. Apalagi soal, Reva. Papa sudah bicara dengan orang tua Sandra dan mereka mengerti setelah Papa ceritakan soal hubunganmu dengan, Reva.”
“Tapi, Pah. Aku benar-benar mencintai Reva. Aku akan mencarinya dulu, tolong beri aku waktu satu bulan lagi,” pinta Satya memohon.
“Aku baru menyadarinya, Pah. Kalau aku mencintainya. Aku baru saja mau mencari tahu tentang orang tuanya,” sahut Satya memelas.
__ADS_1
“Jangan beralasan Satya. Mungkin kamu hanya merasa mengaguminya karena kalian sudah dua bulan ini tinggal satu rumah, bahkan satu kamar. Itu bukan cinta, kamu akan menemukan cinta bersama Sandra!” Chandra menajamkan tatapannya mengintimidasi hingga membuat Satya diam tak menjawab, ingin rasanya berteriak dengan semua tekanan yang dialaminya.
"Ini tidak mungkin, aku tidak mungkin kehilangan Reva begitu saja. Aku sudah mengerahkan orang-orang untuk mencarinya. Dia benar-benar seperti hantu yang pergi begitu saja dari hidupku," batin Satya.
“Maafkan Papa, Satya, Papa hanya ingin kamu sadar kalau dia tidak mencintaimu. Dia hanya menginginkan uangmu. Lihatlah, kalau dia memang mencintaimu dia tidak akan semudah itu menyerah, dia akan mencarimu. Apalagi barang-barangnya masih ada di sini. Seharusnya itu bisa menjadi alasan untuk datang ke sini, tapi tidak dilakukannya. Itu karena dia sudah tidak membutuhkanmu lagi! cobalah pakai logikamu, dia hanya membutuhkan uangmu. Setelah kamu membayar, urusannya denganmu selesai!” Chandra menatap manik mata Satya tajam meyakinkan kalau ucapannya itu benar.
Satya hanya bisa diam, meski ingin rasanya dia menyangkal. Namun, apa yang diucapkan papanya memang benar. Jika Reva memang benar-benar mencintainya, pasti dia akan datang untuk sekedar mengambil barangnya sebagai alasan. Setidaknya, dia tidak menyerah begitu saja.
Satya juga sangat tahu bagaimana sifat Reva, yang pantang menyerah. Namun, kali ini Reva benar-benar tidak peduli dan menyerah. "Mungkin apa yang dikatakan papa benar, Reva memang tidak mencintaiku," pikir Satya.
__ADS_1
"Lalu malam itu? saat kami melakukannya, apa dia sudah biasa melakukan itu, sehingga itu tidak berarti baginya? Tapi aku masih ingat jelas, ada bercak darah di sprei kami. Bukankah itu tandanya dia tidak pernah melakukannya dengan orang lain? Apa hal itu tidak membuatnya merasa kejadian malam itu sangat berharga? Ah, … Reva, kenapa kamu pergi? Di mana kamu berada? Setiap hari aku selalu menunggumu. Kamu bisa menelponku, kamu bisa menghubungiku kapan saja dan aku akan menjemputmu!" gumam Satya dalam hati seraya mengacak rambutnya sendiri. Rasanya dia hampir gila dengan pertanyaan-pertanyaan yang terlintas di pikirannya yang belum terjawab.