
Setelah acara lamarannya tadi malam bersama Sarah dan keluarganya, William benar-benar merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Entah mengapa rasanya sangat luar biasa sekali.
Sarah menerima lamarannya dan mereka mulai membicarakan tentang perihal pernikahan. Seperti pagi ini, cara mengatakan padanya untuk tidak menjemputnya karena dia libur dan tidak bisa bekerja hari ini.
Awalnya William sedikit kecewa karena dia tidak bisa bertemu dengan calon istrinya. Tapi ketika wanita itu mengatakan bahwa dia akan mengantarkan makan siang untuknya nanti, semangat William kembali bangkit.
"Apakah begini rasanya jatuh cinta? aku benar-benar tidak tahu jika jatuh cinta seindah ini. Apa seperti ini juga yang Jordan rasakan hingga membuatnya seperti orang gila?" tanya William pada dirinya sendiri. Dia mulai membandingkan antara dirinya dan juga Jordan. Mereka berdua sama-sama mencintai wanita yang seperti langit dan bumi.
Jika Dara cantik dengan segala kelembutan dan tutur katanya, maka Sarah cantik dengan ketegasan dirinya dan itu pula yang membuat William jatuh cinta padanya.
"Aku benar-benar tidak menyangka jika aku bisa mendapatkan wanita seperti Sarah. Astaga, aku sudah seperti orang gila yang terus saja tersenyum sejak tadi."
"Memang!" ucap seseorang yang datang ke kantor dengan tangan yang masih digendong.
Melihat Jordan yang masuk ke ruangannya pagi ini membuat William langsung kesal bahkan senyumannya yang sejak tadi terus saja menghiasi wajahnya luntur seketika ketika melihat pria yang paling tidak ingin ditemuinya saat ini sudah hadir di ruangan kerjanya.
"Kenapa kau datang ke sini?" tanya William ketika dia melihat Jordan yang masuk ke ruangan kerjanya dan duduk bersandar di sofa bahkan kedua kakinya saat ini sudah diletakkan di atas meja.
"Kau lupa jika aku adalah pemimpin perusahaan ini? aku pemiliknya walau kau memiliki saham sebanyak 35% di sini. Tapi tetap saja aku adalah pemiliknya dan kau tidak berhak mempertanyakan hal itu padaku." ucap Jordan tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Entah entah apa yang membuat pria itu datang ke perusahaan seperti ini. Bukankah saat ini dia masih membutuhkan perawatan?
"Aku rasa lebih baik kau tidur saja di rumahmu daripada harus datang ke kantor. Aku harus menyelesaikan semua pekerjaanku sebelum hari pernikahanku dan kau juga harus sembuh sebelum hari pernikahanku. Aku tidak ingin tahu sebelum aku menikah kau sudah harus sembuh dan kau sudah harus bisa bekerja saat aku libur nanti." mendengar apa yang William katakan Jordan langsung duduk tegak di posisinya saat ini.
Dia mengerti ke mana arah pembicaraan sepupunya ini karena dia tahu bahwa William pasti ingin pergi berlibur bersama istrinya nanti.
"Kemana kau ingin pergi?" tanya Jordan yang penasaran dengan rencana berlibur William bersama istrinya.
__ADS_1
William menatap sengit pada Jordan ketika pria itu bertanya ke mana dia akan pergi nanti bersama istrinya.
"Aku tidak akan pernah memberitahumu karena kau akan merusak segalanya. Aku akan lembur untuk mengerjakan semua pekerjaan ini dan kau yang akan menghandle-nya nanti setelah sembuh. Tolong, jangan merusak rencana apa yang sudah aku merencanakan." ucap William dengan tegas.
Dia menatap Jordan dengan tetapan permusuhan karena dia tidak ingin diganggu oleh sepupunya itu.
"Enak sekali kau pergi berlibur sementara aku bekerja."
"Lalu kau pikir saat ini aku sedang apa? kakak tidak berpikir bahwa saat ini aku sedang bekerja dan kau sedang libur?" tanya William lagi.
Sementara Jordan sendiri, dia hanya bisa pasrah saja dengan semua ini karena memang benar.
William memang bekerja sementara dirinya libur.
"Apa aku juga harus mengingatkan padamu bahwa kau lebih banyak berada di rumah daripada di kantor? apa harus menjelaskan semuanya berapa banyak kalau libur dalam setahun dan seberapa banyak liburanku dalam setahun? bahkan selama 5 tahun aku bekerja denganmu lebih banyak lagi jatah liburanmu daripada liburanku. Apa kau tau itu?" diamnya Jordan menjadi jawaban bagi William karena dia tau bahwa sepupunya ini pasti sedang berpikir bahwa apa yang dikatakannya itu memang benar.
"Itu jauh lebih baik dari pada kau disini duduk bertumpang kaki melihatku bekerja." ucap William pada Jordan.
Mendengar sindiran keras dari sepupunya seperti itu membuat Jordan mau tidak mau harus pergi meninggalkannya.
Setidaknya dia tidak harus terus berdebat dengan William. Di rumah pun dia bingung ingin melakukan apa jadi lebih baik dia menjemput Lucas aja di sekolahnya.
Benar saja, saat dia menunggu putranya itu, dia melihat bahwa saat ini Lucas sedang bermain bersama teman-temannya yang lain dan itu sangat membahagiakan sekali bagi Jordan. Setidaknya dia tau bahwa putranya bahagia dengan teman-temannya dan dunianya sekarang.
"Lihat putra kita Anisa, Lucas begitu bahagia dengan kehidupannya saat ini dan ada Dara juga yang menjadi ibu untuknya. Kau harus bangga karena telah melahirkan putra sahabat Lucas, Anisa. Putra kita anak yang hebat." ucap Jordan yang menatap bangga pada putranya saat ini.
Di saat mereka bermain, tiba-tiba saja teman Lucas menunjuk pada seseorang yang terus saja menatap ke arah mereka sejak tadi dan wajahnya terlihat seperti mirip dengan Lucas.
__ADS_1
"Lucas, liat deh itu bule ngeliatin kita terus. Kamu kenal gak?" tanya Fahri teman sekolahnya Lucas.
Lucas yang sibuk bermain dengan bolanya langsung melihat ke arah yang Fahri tunjukan dan dia melihat bahwa di sana itu adalah papinya.
"Itu papiku, memangnya kenapa?" tanya Lucas yang kembali fokus bermain karena dia tidak ingin membuat kegaduhan di sekolah karena kedatangan papinya.
"Samperin yuk, mau kenalan sama papi kamu aku. Mau bilang makasih juga udah sering traktir kita-kita."
"Nah, bener kata sih Fahri. Kita mau bilang makasih ke papi kamu." ucap Arif yang menimpali ucapan Fahri temannya tadi.
"Yuk ah, samperin papi kamu. Mau kenalan juga." akhirnya Fahri, Arif dan juga Kevin menghampiri Jordan sang pria bule yang di ketahui mereka adalah papinya Lucas.
Melihat putranya yang menatap ke arahnya membuat Jordan langsung tersenyum untuk itu karena dia tau bahwa Lucas merasa terganggu dengan kedatangannya.
"Hai..." sapa Jordan untuk pertama kalinya ketika dia melihat Lucas datang bersama ketiga temannya.
"Om, kenalin aku Fahri."
"Aku Arif om,"
"Kalau aku Kevin." ketiganya memperkenalkan dirinya pada Jordan dan itu membuatnya merasa senang.
Setidaknya ketiga anak itu benar-benar tulus berteman dengan putranya.
"Oke, saya Jordan. Senang berkenalan dengan kalian." ucapnya dengan penuh senyuman pada mereka semua.
"Udah pada makan?" tanya Jordan karena dia berpikir ingin mengajak anak-anak itu untuk pergi makan di luar siang ini.
__ADS_1
"Gimana kalau siang nanti kita makan di luar? om yang traktir deh." mendengar apa yang Jordan katakan membuat mereka semua langsung setuju untuk makan di luar siang nanti sepulang sekolah.