
Hari di mana Lucas berjanji bahwa dia akan akan membawa Dahlia untuk bertemu dengan keluarnya pun tiba. Lucas sudah membawa Dahlia untuk berkunjung ke rumah keluarganya sebelum acara lamaran keduanya di gelar. Dahlia yang baru saja turun dari mobil Lucas hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam sebelum dia menghembuskannya secara perlahan.
Lucas yang melihat hal itu hanya bisa menatap dalam pada wanita yang yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
"Dahlia, apa kamu baik-baik saja?" tanya Lucas yang merasa khawatir dengan sikap Dahlia yang terkesan seperti takut untuk memasuki rumahnya.
"Aku baik-baik saja Lucas, hanya saja ke hubungan itu pasti ada dan menurutku itu wajar karena setiap wanita akan merasakan hal yang sama ketika dia hendak berkunjung ke rumah calon suaminya. Tapi, apa aku sudah boleh menyebutmu sebagai calon suamiku?" tanya Dahlia pada Lucas hingga membuat pria itu tersipu malu ketika mendengar apa yang Dahlia katakan. Lucas sudah seperti anak remaja yang mendapatkan gombalan dari teman sekolahnya padahal dari dulu dia sudah menyukai Dahlia. Hanya saja karena perbedaan benteng yang begitu tinggi di antara mereka berdua Lucas tidak berani melakukan banyak hal apalagi yang memiliki ilmu agama begitu tinggi menurutnya maka dari itu, Lucas lebih memilih memendam segala perasaan dan baru kali ini dia berani untuk mengungkapkan bahwa dia menyukai wanita yang sudah disukainya sejak di bangku SMA.
"Baik jika begitu, ayo masuk." Lucas membawa Dahlia dan mempersilakannya untuk memasuki rumah tempat di mana dia dibesarkan selama ini. Betapa kagumnya Dahlia dengan interior rumah megah milik calon suaminya. bahaya sendiri memang bukan seorang wanita materi yang hanya melihat pria dari harta yang dimilikinya, tapi gue juga tidak ingin menjadi wanita munafik karena memang rumah ini dan seluruh isinya benar-benar sangat luar biasa dan Dahlia memakainya. Apalagi ketika melihat begitu banyaknya foto keluarga yang terpasang di dindingnya, itu membuat Dahlia semakin merasa kagum akan keharmonisan keluarga Lucas.
"Ada berapa banyak foto keluarga yang kalian miliki di rumah ini? tapi semua itu terlihat sangat indah." puji Dahlia karena memang menurutnya seperti itu. Rumah ini sangat kental sekali akan kekeluargaannya, jadi dia merasa nyaman berada di tempat ini apalagi ketika mereka memasuki halaman rumah tadi. Itu yang terlihat sangat indah karena di tumbuhi banyak tanaman hias.
"Aku tidak pernah menghitungnya, tapi cukup banyak. Jika kamu ingin mengetahuinya, aku bisa menjelaskan kapan foto itu diambil." tawar Lucas, karena Dahlia menolaknya.
"Tidak usah, aku datang untuk bertemu dengan keluarga kamu. Jika memang ingin menjelaskan setiap detail yang berada di rumah ini maka jelaskan nanti setelah waktuku bersama keluarga kamu selesai." akhirnya mereka berdua sampai di ruangan keluarga tempat di mana keluarga Lucas menunggunya.
__ADS_1
Dahlia langsung berkenalan dengan maminya Lucas dan juga Tantenya. Sungguh, Dahlia tidak percaya jika Lucas memiliki ibu yang sangat cantik walau hanya ibu sambung. Ya, Dahlia memang sudah mengetahuinya sejak lama jika Lukas memiliki ibu sambung karena ibu kandungnya sudah pergi meninggalkannya sejak pertama kali dia lahir ke dunia ini. Lucas sudah menjadi piatu sejak dia di lahirkan ke dunia, dan Dahlia mengetahuinya.
"Sini, sayang dekat sama Mami," panggil Dara ada calon menantunya karena dia terpukau ketika melihat pertama kali calon istrinya Lucas. Cantik, sopan, dan memiliki ilmu agama yang baik.
Dahlia datang pada calon ibu mertuanya dan mengambil tangan Dara dan menciumnya. Begitu juga dengan tangan Sarah tantenya Lucas karena dia pun melakukan hal yang sama.
"Cantiknya kamu Dahlia," puji Dara saat dia bertemu langsung dengan Dahlia, calon istri dari putranya.
Sedangkan Dahlia sendiri, dia tersipu malu ketika mendapat pujian seperti itu dari calon ibu mertuanya.
"Panggil saja mami seperti yang Lucas lakukan. Bukankah sebentar lagi kalian akan menjadi sepasang suami istri? kenapa harus memanggilnya? Lagi pula kamu itu calon istrinya Lucas bukan pembantu rumah tangga di sini jadi berhenti memanggil dengan sebutan nyonya karena mami tidak menyukainya." ujar Dara karena memang dia tidak menyukai hal seperti itu.
Dahlia tersenyum di balik cadarnya karena dia bisa jauh lebih tenang karena disambut dengan begitu baik dan hangat oleh keluarga dari calon suaminya.
__ADS_1
"Ah, iya Mami." Dara pun tersenyum ketika melihat Dahlia yang sudah bisa memanggilnya mami bukan nyonya lagi.
Di saat mereka terus saja berharap, tiba-tiba Dara teringat bahwa Lucas masih berada di sana maka dari itu dia langsung mengusir putranya saat itu juga karena dia tidak ingin di ganggu saat berbicara dengan Dahlia seperti ini.
"Tunggu apa lagi? kenapa masih di sini?" tanya Data ketika melihat putranya yang masih saja berada di sini di saat dirinya dan Sarah yang sedang menikmati kebersamaan mereka bersama Dahlia.
"Maksudnya mami apa?"
"Maksudnya mami itu sudah jelas ingin kamu pergi dari sini. Lagi pula kamu laki-laki sendiri di sini, jadi biarkan kami bicara bertiga. Banyak hal yang akan kami ceritakan, maka dari itu kamu harus pergi dari sini. Sekarang sudah, pergi sana." usirnya pada Lucas lagi hingga membuatnya pergi meninggalkan tempat itu karena permintaan ibunya.
"Baiklah, Lucas pergi sekarang dan jangan membuat Dahlia tertekan. Jika sampai dahlia-"
"Lucas, berhenti mengatakan hal seperti itu. Seharusnya kamu minta maaf mami karena sudah mengatakan hal seperti itu." Tegus Dahlia karena dia tidak ingin Lucas yang memiliki dosa di masa depan karena perbuatannya seperti ini.
'Oke, iya aku minta maaf. Maafkan Lucas mi,"
__ADS_1