
Lucas langsung meluncur saat itu juga ketika mendapatkan kabar bahwa papinya dan juga Paman William sudah berada di rumah Dahlia. Dia takut jika kedua pria dewasa itu mengganggu hubungannya yang baru saja dimulai bersama Dahlia. Lucas apa yang direncanakan selama ini berakhir sia-sia saja karena kecerobohan kedua pria itu.
"Ya ampun, aku mohon jangan. Aku tidak ingin semuanya menjadi hancur." Lucas benar-benar sangat panik dengan semua ini. Secepat mungkin dia berusaha untuk melajukan mobilnya agar bisa tepat waktu sampai di rumah Dahlia.
Setalah menempuh perjalanan selama kurang lebih 25 menit akhirnya Lucas sampai di rumah Dahlia dan betapa kagetnya dia ketika melihat kedua orang tua itu terlihat duduk bersantai sambil minum kopi. Lucas sendiri langsung turun dari mobilnya dan melihat kedua orang tua yang sedang bersantai dengan keluarga Dahlia.
"Lucas?" kaget Jordan ketika melihat putranya yang sudah berada di tempat ini.
"Papi, Paman apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Lucas yang sangat penasaran dengan keduanya. Bahkan Lucas tidak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini jika mereka terlihat sangat menikmati sajian di meja.
"Kami hanya bertamu saja, sekalian kami ingin mengundang mereka untuk datang berkunjung ke rumah kita. Bukankah toleransi antar umat beragama itu sangat penting? lihat, bahkan habib Ja'far sekalipun bisa berteman baik dengan Boris Bokir dan juga Onad, jadi apa salahnya jika papi dan pamanmu berteman dengan ustadz Zaki?" tanya Jordan. Sungguh, Lucas benar-benar tidak habis pikir dengan semua ini. Bagaimana bisa mereka bisa duduk dengan begitu santainya duduk di rumah ini bahkan di sambut dengan begitu baiknya.
__ADS_1
"Duduk nak Lucas," ustadz Zaki mempersilahkan Lucas untuk duduk bersama mereka. Tak lama setelah itu Dahlia keluar dari rumahnya membawakan satu cangkir teh hangat buatannya untuk Lucas karena sedikit banyaknya dia sudah mengetahui bahwa Lucas tidak menyukai kopi, maka dia membiarkan teh hangat untuk Lucas.
"Terima kasih Dahlia," ucap Lucas ketika melihat sang pujaan hatinya yang mengantarkan teh untuknya.
"Sekarang langsung saja ya, mumpung Lucas sudah hadir di sini. Saya menerima dengan baik kedatangan pak Jordan dan juga Lucas ke rumah saya yang sangat sederhana ini, saya juga sudah mendengar secara langsung dari putra bapak jika dia menyukai putri saya yang bernama Dahlia. Tapi perlu garis bawahi saat ini bahwa dalam keyakinan yang kami jalani, alangkah lebih baiknya jika sebuah ikatan suci pernikahan itu terjadi dengan keyakinan dan kesiapan calon mempelainya. Di sini saya tidak ingin memaksakan kehendak apapun pada siapapun karena bagi saya semua yang terjadi atas kehendak yang maha kuasa. Jika Lucas ingin menikahi putri saya maka harus siap untuk mengikuti apa yang kami yakini tapi kamu tidak pernah memaksakan apapun itu jika memang nak Lucas tidak menyanggupinya. Saya sendiri juga sudah mendengar langsung dari putri saya bahwa saat ini menakluk Lucas sendiri sedang mempelajari agama Islam bukan, jadi cara biar saya tanyakan secara langsung apakah nak Lucas siap lahir batin untuk mengikuti kami dan meninggalkan keyakinan anak Lucas yang lama? Ingat, saya mempertanyakan hal ini bukan untuk memaksakan terhadap Lucas, saya hanya ingin mengetahui saja bagaimana kesiapan Lucas untuk menjalani hubungan yang lebih serius lagi dengan Dahlia, itu saja." Lucas menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menghembuskannya lagi secara perlahan. Dia ingin mengatakan pada mereka semua bahwa dia siap menjalani semua ini bersama dengan Dahlia. Hanya saja yang belum di yakininya saat ini adalah apa yang di pelajarinya belum cukup untuk keluarga Dahlia.
"Saya siap pak, hanya saja saya belum cukup yakin dengan apa yang saja pelajari, karena saya hanya mempelajarinya dari buku saja. Saya takut apa pelajari belum cukup kuat untuk membimbing Dahlia nantinya. Saya takut jika Dahlia yang tidak siap dengan saya," jawab Lucas karena memang itu yang di takutkannya saat ini. Dia takut jika keluarga Dahlia tidak menerima dirinya.
"Ibu, bagaimana dengan Lucas? apakah ayah akan memberikan restunya pada Dahlia dan Lucas Bu?" tanya Dahlia yang sangat penasaran dan dia juga mulai khawatir dengan apa yang terjadi saat ini. Semua di luar dugaan mereka karena Lucas mengatakan bahwa dia akan bicara dengan keluarganya lebih dulu. Namun, tiba-tiba saja mereka datang ke rumahnya tanpa persiapan apa pun saat ini.
"Saya siap, tapi-"
__ADS_1
"Jika siap, silahkan pulang dan persiapkan segalanya. Kita akan melakukan semua proses lamarannya setelah nak Lucas siap memulai kehidupan yang baru. Apa nak Lucas siap?" tanya ustadz Zaki lagi. Lucas melihat ke arah papinya dan juga pamannya.
Dia ingin meminta restu pada mereka berdua untuk semua itu. Berharap bahwa mereka mengizinkannya untuk melakukan semua ini.
"Papi mengizinkan kamu nak, lakukanlah jika memang ini yang akan membuat kamu bahagia. Tolong, apapun yang terjadi nanti jangan pernah membatasi diri kamu dengan keluarga kita. Papi mohon." Lucas bersudut di kaki papinya karena telah mendapatkan restu dari pria yang membesarkannya selama ini. Pria yang menjadikannya seseorang yang sukses dengan segala peraturan ketatnya di rumah mau pun di kantor.
"Papi, terima kasih." Lucas sampai bersujud di kaki papinya karena telah mendapatkan restu dari pria yang sangat di sayangnya. Pria yang begitu banyak mengajarkan arti kehidupan padanya telah menerbitkan restu untuk menikahi Dahlia dan juga berpindah keyakinan dengan keyakinan Dahlia.
"Mama kamu juga seorang muslim Lucas, jadi papi harap kamu bisa menjadi imam yang baik untuk istri kamu nantinya. Jangan pernah mempermainkan agama karena papi tidak suka itu. Jadilah pria yang bertanggung jawab atas istrinya. Papi merestui kamu." di dalam rumahnya, Dahlia juga menangis ketika mendengar apa yang mereka bicarakan. Sungguh, dia tidak percaya jika Lucas secepat ini mendapatkan restu dari ayahnya sedangkan banyak pria yang sudah datang melamarnya tidak satu pun mendapatkan restu. Tapi lihatlah, Lucas langsung mendapatkan restu dari ayahnya saat itu juga.
"Ibu, Lucas di terima ayah ibu, Lucas di terima ayah." air matanya mengalir dengan deras ketika mendapatkan semua ini. Dahlia sangat bahagia dengan semua ini.
__ADS_1