
"Huek..." Dara merasa mual di kamar mandi hingga membuat Jordan langsung menghampiri istrinya yang baru saja selesai mandi lalu kembali lagi ke dalam kamar mandi dan melihat apa yang terjadi sebenarnya dia mendengar suara istrinya yang sedang muntah-muntah.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Jordan pada istrinya ketika dia melihat Dara yang terlihat lemas seperti itu.
Jordan langsung menghampiri istrinya dan menopang tubuhnya. Dara sendiri benar-benar merasa lemas dan bahkan kakinya serasa tidak sanggup berdiri lagi karena kepalanya yang seperti diputar-putar saat ini.
"Sayang, Dara..."
"Kepala ku pusing sayang. Perutku juga seperti di aduk-aduk dan rasanay-huek..." Dara kembali memuntahkan isi perutnya karena di dalamnya terus saja bergejolak dan ingin keluar.
Bahkan rasanya tenggorokan yang saat ini sudah terasa perih dan hidungnya juga terasa sakit karena terus saja muntah seperti itu.
Melihat istrinya yang semakin lemah dan tak berdaya seperti itu membuat Jordan langsung membawanya ke atas tempat tidur mereka dan menggendongnya.
"Hey, sayang. Kamu baik-baik saja Dara?" tanya Jordan yang merasa panik. Lagi pula suami mana yang tidak panik ketika melihat istrinya yang lemah seperti ini. Dara bahkan memegang kepalanya sambil memejamkan matanya dan itu artinya keadaan istrinya ini memang tidak baik-baik saja.
"Dara..."
"Aku mulai sayang, entah mengapa aku tidak suka dengan aroma parfum pakaian itu. Rasanya aku-huek..." dengan cepat Jordan menampung muntahan istrinya dengan kedua tangannya sendiri hingga membuat mata Dara langsung kata-kata ketika melihat suaminya yang begitu mencintainya. Bahkan pria itu sama sekali tidak merasa jijik dengan apa yang berada di tangannya saat ini.
Jordan tersenyum padanya hingga membuat Dara semakin ingin menangis. Dia benar-benar tidak menyangka jika suaminya begitu sangat mencintainya seperti ini. Bahkan tidak sekalipun dia merasa jijik dengan apa yang dilakukannya tadi.
Setelah dia kembali dari kamar mandi untuk membuang bekas muntahan yang tadi, pria itu langsung menghampirinya dan memilih tubuhnya.
Mendapatkan pelukan seperti itu dari suaminya membuat Dara langsung menangis saat itu juga.
"Sayang...jangan menangis," ucap Jordan yang berusaha untuk menangkan istrinya.
Dara semakin menangis di dalam pelukan Jordan ketika mendapatkan pelukan hangat dari pria itu.
"Hiks...hiks...hiks..., maaf telah mengotori tangan kamu. Maaf karena membuat kamu-"
"Untuk apa minta maaf? aku baik-baik saja sayang. Sebentar, aku ingin menghubungi William dulu untuk memanggilkan dokter." Dara menganggukkan kepalanya di pelukan sang suaminya.
__ADS_1
Dalam posisinya yang seperti ini Jordan tetap menghubungi William walau Dara terus saja memeluk tubuhnya.
"Tolong, panggilkan dokter ke sini untuk mengecek keadaan istriku. Dara muntah-muntah sejak tadi dan kita bisa tolong bawa dokter perempuan kesini." titah Jordan pada sepupu sekaligus asistennya.
"Suah berapa lama?"
"Aku bilang sejak tadi dan itu artinya sudah cukup lama. Jadi cepat panggilkan dokter kesini sebelum aku kesal denganmu William,"
"Lalu apa aku perduli?" tanya William yang langsung mematikan sambungan teleponnya dengan Jordan.
Setelah menghubungi William, Jordan kembali mencoba untuk menangkan istrinya yang ternyata kembali tertidur setelah lelah menangis dan muntah.
Jordan merasa tidak tega dengan istrinya yang seperti itu. Rasanya tidak sanggup melihat wajah cantik istrinya yang biasanya cerah kini terlihat pucat dan tidak bergairah.
"Tidurlah sayang. Aku akan membangunkan mu nanti." ucap Jordan yang meninggalkan istrinya.
Setidaknya dia bisa membuatkan teh atau roti untuk istrinya agar jika wanita itu bangun nanti bisa makan.
Raut wajahnya tidak bisa di pungkiri ketika melihat siapa yang datang ke villanya.
"Jordan?" panggil dokter tersebut ketika mengetahui bahwa seseorang yang akan di memeriksanya adalah Jordan, pria yang pernah dekat dengannya saat sebelum pria itu menikah dengan Anisa teman dekatnya.
"Sarah?" wanita itu menganggukkan kepalanya ketika mengetahui bahwa pria itu masih mengenalinya.
"Hem, masuk. Aku akan membawamu ke dalam," ajak Jordan pada Sarah.
"Siapa yang sakit? apa itu kau?"
"Tidak. Bukan aku yang sakit." jawabnya yang mengambil nampan yang berisikan teh hangat dan roti isi.
"Lalu siapa?" tanya Sarah yang ingin mengetahui siapa yang sakit.
"Istriku."
__ADS_1
Deg!
Jantung Sarah seperti di hantam batu besar ketika mendengar apa yang Jordan katakan. Baru saja dia memupuk harapan setelah mengetahui bahwa Jordan sudah kembali memiliki istri dan itu juga yang membuat apa yang dipikirkan yang tadi hancur.
Baru saja cara berpikir bahwa dia akan memulai hubungan baru bersama Jordan, tapi saat mereka kembali pertemukan situasi sudah tidak berpihak padanya.
"Oh, istri. Aku pikir siapa," ujar Sarah yang ikut bersama pria itu ke lantai dua tempat dimana istrinya berada.
Saat Sarah masuk ke dalam kamar itu dan melihat bahwa ada seorang wanita yang tengah tertidur di atas tempat tidur.
Dari apa yang Sarah lihat, dia yakin jika wanita itu cantik. Karena dari apa yang di lihatnya, Sarah sudah bisa melihatnya walau hanya rambut berwarna coklatnya yang terlihat saat ini.
"Masuklah Sarah, aku akan membangunkan istriku." Sarah menganggukkan kepalanya dan ikut masuk ke dalam kamar tersebut.
Dugaannya benar jika wanita itu benar-benar cantik ketika dia melihatnya langsung saat Jordan membangunkannya dengan penuh kasih sayang dns kelembutan.
"Sayang, bangun dulu ya ini ada dokter yang akan memeriksa kamu." ucap Jordan dengan lembut.
Melihat bagaimana sikap Jordan terhadap istrinya membuat Sarah merasa ingin mendapatkan pria seperti itu juga. Tapi dia tidak mungkin merusak hubungan rumah tangga seseorang karena dulu pun dia tidak pernah ingin merusak hubungan Anisa dan Jordan. Bahkan dia lebih memilih menjauh dari kehidupan keduanya.
"Dokter?" tanya Dara dengan wajah pucatnya.
Dia bisa melihat bahwa ada seorang wanita cantik yang tersenyum padanya saat ini dan Dara membalas senyumannya.
"Ini Sarah, dia dokter yang akan memeriksa kamu sayang dan kebetulan juga dia itu teman baik Anisa, mantan istriku." Dara kembali tersenyum ketika mendengar penjelasan dari suaminya tentang siapa wanita itu.
"Baik, kita mulai saja pemeriksaannya ya." Sarah mulai melaksanakan tugasnya sebagai dokter karena dia tidak kuat untuk melihat kemesraan sepasang suami istri yang terlihat sangat mencintai ini.
"Kapan terakhir kali datang bulan?" tanya Sarah ketika dia sudah selesai memeriksa Dara dan kemungkinan wanita itu tengah mengandung saat ini.
"Maksudnya?" tanya Dara yang belum mengerti dengan semua ini.
Mengerti dengan apa yang Sarah maksud membuat Jordan langsung bergegas berpamitan pada istrinya dan menitipkan Dara sebentar pada Sarah karena dia akan mencari sesuatu sata ini.
__ADS_1