Di Cerai Karena Lumpuh

Di Cerai Karena Lumpuh
Tempat bermain


__ADS_3

Hari ini putranya dan teman-temannya untuk bermain di sebuah pusat perbelanjaan karena memang dia bosan di rumah. Bekerja pun dia tidak, maka jadilah Jordan yang mengajak anak-anak itu untuk pergi bermain. Setidaknya dengan mengajak mereka dia tidak terlalu bosan.


"Kalian ingin apa? bagaimana jika kita makan dulu?" tanya Jordan pada anak-anak itu karena memang ini sudah waktunya jam makan siang.


"Kalian ingin makan apa?" tanya Lucas pada teman-temannya karena memang dia tahu bahwa teman-temannya itu merasa sungkan dengan papinya.


Ketiganya sedang berbisik-bisik di mana Fahri, Arif dan Kevin sedang merencanakan sesuatu untuk kepentingan mereka siang ini.


"Bisa kita makan McD? aku penasaran dengan ayam McD yang katanya enak itu. Apa boleh?" tanya Fahri yang mewakili kedua temannya untuk berbicara pada papinya Lucas.


"McD, ayo," ajak Jordan rasanya lebih gurih apalagi ketika ayam goreng spicy chicken.


"Waw, kita makan McD." ucap Arif yang belum pernah makan ayam McD cara membuat kedua orang tuanya itu mahal. Ibunya selalu mengatakan daripada membeli satu satu potong ayam McD, lebih baik membeli satu kilo ayam bisa dimakan untuk satu rumah.


Melihat anak-anak itu yang merasa bahagia hanya karena satu potong ayam seperti itu sudah membuat Jordan merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Setidaknya apa yang dimilikinya dan apa yang dimiliki putranya bisa bermanfaat untuk banyak orang.


"Ayo," ajak Jordan pada anak-anak itu yang lihat sangat bahagia sekali ketika diajak untuk pergi makan ayam yang paling terkenal itu.


Jordan biarlah sangat bahagia melihat kebahagiaan dari teman-teman putranya.


Apalagi ketika melihat anak-anak itu yang makan dengan begitu lahapnya, hati Jordan merasa sangat bahagia melihatnya.


"Apa ini enak?" tanya Jordan pada teman-teman anaknya.


"Ini enak banget om. Boleh nambah gak?" tanya Fahri tanpa rasa malu sedikitpun.

__ADS_1


Sedangkan kedua temannya hanya bisa menunduk malu dengan kelakuan Fahri yang tidak merasa malu sedikitpun.


"Boleh, pesan saja. Kita akan membayarnya. Kalian juga bisa memesan untuk keluarga kalian yang ada di rumah." ucap Jordan yang membuat mereka langsung berteriak kegirangan dengan semua ini.


"Makasih om, kita nambah juga deh kalau gitu." mereka kembali memesan ayam serta nasi bahkan ice creamnya juga mereka pesan karena Jordan memberikan izin pada mereka untuk semua ini.


Lucas sendiri juga ikut tersenyum ketika melihat teman-teman yang bahagia hanya karena makanan seperti ini yang sudah biasa dimakan olehnya.


"Kamu bahagia dengan teman-teman kamu?"


"Ya, Lucas bahagia bisa berteman dengan mereka karena mereka sama sekali tidak memandang siapa Lucas dan siapa papi Lucas. Lihat, mereka begitu bahagia hanya karena makan makanan seperti itu pi, mereka juga selalu antusias ketika makan bersama Lucas dengan bekal dari rumah." jawab anak itu hingga membuat Jordan merasa bangga dengan Lucas yang bisa membawa dirinya menjadi anak yang sangat sederhana dengan semua yang di milikinya.


Bahkan yang paling membahagiakan lagi bagi Jordan ketika putra yang tidak pernah menunjukkan kekayaannya pada teman-temannya.


"Nanti saja Pi, mereka pasti akan datang saat Lucas mengajak mereka untuk melakukan kerja kelompok." jawab Lucas hingga membuat Jordan hanya bisa menganggukkan kepalanya saja.


Setidaknya dia tau bahwa putranya akan mengajak mereka datang ke rumah.


"Terserah kamu." ucap Jordan pada putranya.


Mereka berdua berhenti bicara ketika melihat teman-teman Lucas datang kembali duduk di meja mereka.


Setelah selesai makan, mereka kembali di ajak bermain oleh Jordan dan membeli mainan sesuka mereka. Bahkan Jordan juga mengajak mereka untuk berbelanja sesuka hati mereka.


"Wah, kita juga memiliki pakaian yang mahal seperti milik Lucas. Apa aku sudah terlihat seperti orang kaya juga?" tanya Arif pada teman-temannya karena dia begitu sangat bahagia memiliki teman seperti Lucas.

__ADS_1


"Benar, kita bisa memiliki pakaian mahal seperti yang Lucas miliki. Luar biasa sekali bukan?" Fahri ikut menimpali apa yang temannya katakan karena memang ini adalah pertama kalinya mereka merasakan kehidupan seperti ini dan itu semua berkat Lucas dan juga papinya.


"Sudah, jangan terlalu berlebihan. Aku hanya ingin memanjakan kalian karena kalian telah berteman dengan putraku. Kalian anak-anak yang luar biasa dan sekolah lah dengan pintar. Kelak, jika kalian sudah dewasa di manapun kalian berada cari Lucas dan datang padanya. Kalian bisa mendapatkan pekerjaan apapun sesuai yang kalian inginkan." ucap Jordan dan semua itu di angguki oleh Lucas karena dia mengerti dengan apa yang papinya katakan.


"Oke om, makasih ya om udah ajak Kuta jalan-jalan terus makan enak. Kita juga boleh bawa pulang dan beli mainan." ucap Kevin pada papinya Lucas.


Di antara mereka, hanya Kevin yang lebih lumayan, tapi tetap saja dia tidak biasa berbelanja banyak seperti ini.


"Sampaikan salam om pada keluarga kalian." ucap Jordan pada ketika anak itu ketika mereka sudah di antarkan pulang dengan barang belanjaan yang sangat luar biasa banyaknya.


"Oke om, sekali lagi makasih." ucap mereka setelah turun dari mobil mahal milik papinya Lucas.


Akhirnya mereka semua turun dari mobil Lucas dan berpisah di sana. Lucas sendiri terlihat sangat bahagia karena telah menghabiskan waktu bersama teman-teman dan juga papinya.


"Are you happy son?" tanya Jordan pada Lucas.


"Sangat bahagia Pi. Mereka bahagia karena papi dan Lucas juga merasa bahagia untuk itu. Dari mereka semua yang paling hidup susah adalah Fahri. Dia anak pertama dari 4 bersaudara dan setelah pulang sekolah dia membantu ayah dan ibunya untuk mencari barang bekas. Mereka sangat susah Pi, kehidupannya sangat menyedihkan dan bahkan setiap harinya Fahri hanya membawa bekal nasi putih dengan sepotong tempe goreng atau tahu goreng saja. Yang lebih membuat Lucas sedih adalah, ketika makan siang bersama, Fahri sering meminta makanan sisa milik Lucas untuk di bawa pulang ke rumah ya agar adik-adiknya bisa merasakan bagaimana makan ayam atau nugget seperti yang sering Lucas bawa."


Deg!


Jantung Jordan seperti di hantam baru besar ketika mendengar cerita dari putranya tentang bagaimana susahnya hidup Fahri.


Miris sekali, anak sekecil itu bisa menghadapi dan menjalani semua kehidupannya yang menyedihkan itu.


"Bisa bawa papi ke rumah Fahri besok? bagaimana jika kita berbelanja dan membelikan mereka banyak makanan. Maksudnya bukan untuk merendahkan mereka, tapi papi kasihan dengan adik-adiknya Fahri. Pantas saja dia yang paling banyak mengambil mainan dan membeli makanan dan ternyata semua itu untuk adik-adiknya."

__ADS_1


__ADS_2