
Seluruh keluarga besar Brussels sedang di hebohkan dengan acara lamaran putra cucu pertama dari Klan Brussels, maka rumah besar itu terlihat sangat sibuk dan riuh. Apalagi hari ini adalah hari lamaran Lucas dan juga Dahlia. Tidak hanya itu saja, tapi hari ini juga Lucas akan mulai menapaki jejak hidupnya yang baru sebagai seorang muslim.
Seperti saat ini, sebelum mereka pergi rumah keluarga Dahlia, Lucas menghampiri papinya lebih dulu di ruangan kerja mereka.
"Pi," panggil Lucas ada papinya ketika melihat pria itu sedang berdiri menatap keluar jendela ruangan kerjanya saat ini. Entah yang dipikirkannya tapi yang pasti Lucas mengerti jika papinya saat ini tengah memikirkan kehidupan barunya nanti.
"Jika kamu sudah menjadi seorang muslim yang baik dan taat, tolong jangan pernah lupa untuk mendoakan papi dan keluarga kamu. Jangan pernah menjaga jarak dengan keluarga kamu terutama Laura. Tetaplah menjadi kakak terbaik untukmu dan bimbing dia ke jalan yang benar dan jangan pernah membiarkannya tersesat karena setelah kamu menikah karena kami akan pergi tinggal di Madrid untuk beberapa waktu dan memulai hidup di sana. Papi mohon jangan pernah membiarkan adik kamu menangis." jantung Lucas berdebar kencang ketika mendengar apa yang papinya katakan. Dia menyangka sama sekali jika mami dan papinya akan kembali ke Madrid untuk hidup di sana setelah pernikahannya.
"Berapa selama mami dan papi berada di Madrid?" tanya Lucas pada papinya karena dia ingin mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan kedua orang tuanya itu.
Jordan sendiri hanya bisa menghilangkan kepalanya saja karena dia tidak tahu berapa lama dia akan tinggal di sana bersama istrinya.
"Baiklah, seperti yang papi inginkan bahwa Lucas akan menjadi kakak yang baik untuk Laura." Jordan memeluk putranya. Dia tidak menyangka jika putra yang dibesarkannya selama ini sudah tumbuh dewasa dan sebentar lagi akan menapaki kehidupannya yang baru dan menjadi seorang suami serta kepala keluarga. Tidak banyak yang Jordan harapan dari putranya karena dia hanya ingin Lucas hidup dengan bahagia bersama pasangannya.
"Papi," panggil Lucas karena dia tahu bahwa papinya saat ini ingin menangis.
"It's oke, papi baik-baik saja nak. Aku baik-baik saja, air mata ini bukan air mata kesedihan tapi air mata kebahagiaan para putraku sudah tumbuh dewasa dan menjadi pria yang hebat. Aku hanya berharap jika suatu saat kamu akan menjadi ayah yang hebat juga untuk anak-anakmu."
"Baik Pi," jawab Lucas.
***
__ADS_1
Akhirnya setelah acara di mana Lucas mengucapkan Syahadatnya sebagai syarat utama untuk menjadi seorang muslim, kini acara pertunangan mereka berlangsung dan saat ini juga Dahlia turun ke lantai satu untuk melihat keluarga Lucas karena sejak tadi dia berada di dalam kamarnya bersama kakaknya dan juga teman dekatnya.
Jantung Dahlia berdebat kencang ketika melihat Lucas dengan pakaiannya dan kopiah di kepalanya. Sungguh, dia benar-benar kebahagiaan yang sangat luar biasa karena Lucas mau menjadi iman untuknya sesuai dengan keyakinan keluarga besarnya Dahlia.
"Sini duduk sama ayah nak," ayahnya Zaki mengulurkan tangannya untuk menyambut kedatangan sang putri yang kini sudah dilamar oleh keluarga besar Brussels.
Dahlia datang dan duduk di sebelah ayahnya, tepat saatnya duduk di sebelah ayahnya, Dahlia tidak sengaja melihat tatapan Lucas padanya yang terlihat begitu bahagia. Entah memang hanya perasaannya saja atau memang benar, tapi yang pasti Dahlia berharap jika Lucas memang bahagia atas semua ini.
"Jadi nak Lucas, sekali lagi saya tanya ke kamu, siapkan kamu menjadi imam yang baik untuk Dahlia?" tanya ayah Zaki pada Lucas yang sudah menjadi seorang mualaf.
"Insya Allah saya siap Ustadz," jawab Lucas dengan yakin karena memang dia sudah memantapkan hatinya untuk Dahlia dan dia mencintainya.
"Alhamdulillah, jadi kita bisa membicarakan tentang pernikahan anak-anak kita selanjutnya. Tapi sebelum itu saya mengucapkan terima kasih atas apa yang telah keluarga besar Brussels berikan pada putri kami. Begitu banyak barang bawaannya dan menurut kami ini terlalu berlebihan." ucap ayah Zaki yang merasa tidak enak dengan apa yang keluarga Lucas bawa untuk putrinya dan menurut dan menurut mereka itu semua terlalu berlebihan.
"Terima kasih Mami," Dara memeluk tubuh Dahlia karena dia merasa bahagia bahwa putranya bisa wanita sebaik Dahlia dan juga keluarga besarnya yang taat dengan agama.
"Sama-sama sayang. Sudah lepaskan mami, lihat calon suami kamu terus saja menatap ke arah kamu Dahlia," Lucas merasa malu karena ketahuan curi pandang pada Dahlia hingga membuat seluruh keluarga tertawa ketika melihat dirinya yang tersipu malu karena ketahuan melirik calon istrinya.
Begitu juga dengan Dahlia, dia merasa malu karena keluarganya.
__ADS_1
"Pantas saja Lucas ingin menikahi Dahlia, rupanya karena Dahlia itu memang cantik hati dan wajahnya." puji Sarah karena memang calon istri keponakannya itu memang cantik.
"Tante, berhenti menggoda kak Lucas. Lihat, wajahnya sudah seperti tomat yang siap panen." Laura menambahkan hingga membuat suasana semakin riuh karenanya.
"Bisa kami bicara sebentar? kami hanya ingin bicara sebentar di teras saja." akhirnya keluarga memberikan izin pada Lucas dan Dahlia untuk berbicara berdua. Kini keduanya sudah berada di teras rumah dengan duduk berjarak karena memang mereka tidak boleh duduk berdekatan sebelum sah.
"Dahlia," panggil Lucas ketika mereka sudah terdiam sudah cukup lama terdiam.
"Ya," jawab Dahlia melihat ke arah Lucas lalu kembali menundukkan wajahnya.
"Siapkah kamu menikah denganku?" tanya Lucas karena dia mendengar langsung jawaban dari bibir wanita yang akan dinikahinya.
"Kenapa mempertanyakan hal itu lagi? aku sudah menerima lamaran kamu itu artinya aku siap menikah denganmu begitu juga dengan restu keluarga kita. Lalu kenapa masih mempertanyakan hal seperti ini?"
"Aku hanya ingin mendengar langsung jawaban dari bibir kamu siapa kamu menikah denganku atau tidak. Tolong, katakan apapun yang ingin kamu katakan sebelum hubungan kita berlanjut tetapi lebih serius lagi. Aku benar-benar mencintai kamu dan aku siap menjadi imam yang baik untuk kamu walau harus banyak belajar dalam hidupku. Sekarang katakan padaku apa yang kamu minta untuk maharnya?" tanya Lucas lagi. Dia ingin mempertanyakan langsung pada Dahlia mahar apa yang diminta wanita itu.
"Seikhlasnya, saja karena aku tidak ingin membebani kamu dengan hal seperti ini. Apa pun maharnya maka aku akan menerimanya dengan baik." jawab Dahlia pada Lucas.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke ******* ya, gratis dan jangan lupa kasih love ♥️