
William masih membayangkan apa yang terjadi di kamar mandi tadi bersama istrinya. Bahkan saat ini pun dia belum juga bisa melupakan apa yang terjadi pada mereka tadi dan bagaimana bisa istrinya memiliki keberanian seperti itu.
Entahlah, rasanya William benar-benar malu saat ini. Dia sangat malu jika harus berhadapan secara langsung dengan istrinya.
"Kenapa diam saja?" tanya Sarah saat dia sudah siap dengan penampilannya malam ini.
"Hah? apa sayang?" tanya William saat dia tersadar bahwa dirinya melamun sejak tadi dan dia juga tidak mengetahui jika istrinya sudah selesai dengan make-upnya.
"Apa kamu masih berpikir apa yang terjadi tadi?"
Blush...
Wajah William langsung terasa panas ketika Sarah benar-benar mempertanyakan hal itu padanya. Lagi pula tidak seharusnya Sarah mempertanyakan hal itu padanya karena itu sangat pribadi menurut William apalagi saat ini masih ada beberapa orang yang merias istrinya saja.
"Sudahlah, sayang. Jangan di bahas lagi. Aku tidak ingin membahasnya. Sebentar lagi kita akan keluar dan melewati malam panjang kita." ucap William yang tidak ingin membiarkan istrinya terus saja mengatakan hal yang tidak-tidak.
"Hah, kamu malu ya?" tanya Sarah pada suaminya karena dia tahu bahwa William benar-benar merasa malu dengan apa yang telah terjadi di antara mereka tadi.
"Sayang, aku mohon jangan katakan hal itu lagi kan aku bilang malu. Sudahlah, setidaknya aku tau jika kamu memang istriku."
"Lalu kamu pikir aku siapa?" tanya Sarah dengan ketus
Sungguh, dia benar-benar tidak habis pikir dengan suaminya ini. Dia memang sudah menjadi istrinya lalu kenapa bertanya lagi? terlebih dengan hal seperti ini.
"Maaf, maksudku tidak seperti itu sayang," ucap William marah atas apa yang telah dikatakan yang tadi. Jujur, dia tidak perawan masuk mengatakan hal apapun yang membuat istri tidak menyukainya. Hanya saja memanggil yang terbiasa dengan semuanya dengan status barunya sedang menjadi suami Sarah.
__ADS_1
"Sepertinya sudah waktunya untuk kita masuk ke acara resepsi. Ayo lagu kenangan dengan cepat agar kita bisa tidur lebih cepat. Itu pun jika kita tidur." timpal Sarah karena dia tidak akan tidur bersama suaminya karena mereka pasti akan melakukan hal yang tidak tidak.
William sendiri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja ketika mengetahui bahwa sifat istrinya sangat luar biasa seperti ini. Sarah tidak pernah berpura-pura menjadi orang lain agar terlihat lebih baik di depannya.
Dia lebih menyukai dari istrinya seperti ini apa adanya dan tidak pernah dibuat-buat agar terlihat baik di mata banyak orang.
Kini keduanya sudah keluar dari dalam kamar mereka dan menurut tempat di mana resepsi pernikahan mereka diadakan.
Ketika pintu ketika melihat tempat acara resepsi mereka yang sangat luar biasa megahnya.
Sarah terus saja menatap ke arah setiap sudut bangun rumah hotel ini dan tidak ada yang buruk sedikitpun. Semua terlihat sangat sempurna di matanya dan itu semua William melakukan hanya untuk dirinya.
Dia sudah mengatakan pada William bahwa dia tidak ingin merasa pusing dengan acara dekorasi resepsi mereka dan Sarah mempercayakan semua itu pada suaminya. Lihat, ternyata apa yang dipilih suami yang benar-benar terlihat sangat luar biasa dan Sarah menyukainya.
Sarah tersenyum lembut lembut dan menganggukkan kepalanya karena memang dia sangat menyukai dekorasi resepsi pernikahan mereka.
"Syukurlah, jika kamu menyukainya. Aku takut jika kamu tidak menyukainya dan kecewa atas pilihanku."
"Tidak sama sekali karena aku menyukainya. Ini benar-benar terlihat sangat indah dan luar biasa. Terima kasih atas segalanya, terima kasih karena telah mencintaiku begitu besar. Kamu adalah pria yang paling hebat yang pernah ku kenal selama ini dan aku harap kita bisa hidup bersama selamanya. Saling mencintai hingga maut memisahkan." ucap Sarah dengan begitu tulus dan William mengusap tangan istrinya yang mengapit lengannya saat ini.
"Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu telah menerimaku sebagai suamimu. Jika memang kamu ingin hidup bersamaku sampai mau memisahkan mari kita jalani semuanya dengan penuh cinta dan kasih dari Tuhan. Aku berharap bahwa kita sendiri dikaruniai sebuah cinta agar kehidupan kita semakin lengkap."
"Maka ayo kita mulai malam ini. Aku ingin melihat serat seberapa hebatnya kamu di atas ranjang." bisik Sarah hingga membuat William semakin salah tingkah.
Melihat sepasang suami istri yang baru saja masuk ke ballroom hotel mewah ini membuat Jordan langsung dalam mode jiwa julidnya ketika melihat William dan Sarah yang sedang berbisik-bisik saat memasuki tempat acara.
__ADS_1
"Sayang, aku rasa mereka tinggal membicarakan bagaimana malam pertama mereka nanti." ucap Jordan pada istrinya ketika dia melihat Sarah dan William sedang terlihat sedang berbisik-bisik seperti itu.
"Tidak bisakah untuk tidak mengatakan hal ini tidak-tidak saat ini?"
"Memangnya kenapa sayang?" tanya Jordan pada istrinya.
"Biarkan saja mereka karena memang ini adalah hari mereka berdua. Lagipula apa urusannya dengan kamu sayang? tidak ada pengaruhnya dengan kamu, jadi biarkan saja. Saat ini kita hanya sebagai penonton saja dan jangan mengatakan hal yang membuat suasana menjadi berbeda karena ulah kamu." ujar sang istri hingga membuat Jordan langsung diam karena dia takut mendapatkan ancaman dari istrinya yang sangat berbeda di kehamilannya saat ini.
Bisa di katakan jika Dara menjadi jauh lebih mengerikan ketika sedang mengandung seperti ini maka dari itu Jordan tidak ingin mengganggunya. Dia mendapatkan ancaman dari luar.
"Mami menangis?" tanya Jordan ketika dia melihat mamanya yang kembali meneteskan air matanya ketika melihat William dan Sarah berjalan melewati mereka dengan senyuman.
"Tidak! Mami sedang makan popcorn saat ini." jawab mami Sofia dengan ketus sambil menatap tajam ke arah putranya.
"Sepertinya tidak makan popcorn." jawab Jordan lagi hingga mendapatkan tatapan maut dari maminya saat ini.
"Tidak bisakah kamu diam dan jangan berbuat ulah? mami sedang kesal saat ini."
"Kesal dengan siapa?" tanya Jordan yang terus saja membuat wanita itu merasa kesal dengannya.
"Dengan kamu!" jawab mami Sofia dengan ketus karena memang dia benar-benar kesal dengan Jordan.
Sekali saja, tidak bisakah anaknya ini tidak berbuat ulah boleh membuatnya kesal dan marah seperti ini? Terkadang dia merasa benar-benar ingin menyelam putranya itu hidup-hidup ketika melihat Jordan yang menyebalkan seperti ini.
Putranya itu saat ini karena dia terus saja bersikap menyebalkan seperti biasanya.
"Oh," jawabnya dengan dua huruf hingga membuat Nami Sofia semakin kesal di buatnya lagi dengan segala tingkah konyolnya itu.
__ADS_1