
Jordan sendiri masih merasa lemas nenek nggak percaya apa yang dihadapinya tadi bahwa istrinya melahirkan di dalam mobil dan dibantu oleh Sarah.
Entahlah, tapi yang pasti hingga saat ini Jordan masih memikirkan bagaimana perjuangan istrinya yang melahirkan putri cantik mereka di dalam mobil.
Dia benar-benar merasa bersalah dan tidak berguna ketika dia tidak bisa menemani perjuangan istrinya untuk melahirkan calon anak mereka tadi. Bahkan karena hal itu pula hingga saat ini jurnal belum berani untuk menggendong putri cantiknya.
"Apa lagi yang kau tunggu? putrimu sudah lahir dengan selamat begitu juga dengan istrimu yang juga selamat. Kedua-duanya sehat dan selamat lalu apalagi yang kau pikirkan? jangan lagi mengerjakan hal yang aneh-aneh berdan dan beruntunglah kamu juga karena ada Sarah yang berada di sisi Dara saat dia mau melahirkan anak kalian!" ucap mami Sofia dengan ketus karena dia masih tidak habis pikir putranya yang terlihat diam dan seperti orang bodoh itu.
"Wah, kau benar-benar ingin mami memukul kepalamu ya!" sentak mami Sofia yang sudah tersulit yang masih ketika menghadapi putranya. Melihat hal itu membuat William langsung sigap menahan sang mami agar mereka semua meninggalkan Jordan berada di ruangan ini bersama istrinya.
"Ayo kita pergi mi, mereka berdua membutuhkan waktu untuk bicara."
"Huh! sudahlah. Mami bisa berjalan sendiri," ucap mami Sofia langsung melepaskan kedua tangan William ketika menghalanginya.
Mereka bertiga keluar dari ruangan rawat itu dan membiarkan suami istri yang terlihat sama-sama terdiam itu karena mereka tahu bahwa keduanya sedang membutuhkan waktu untuk bicara saat ini.
Setelah mereka semua pergi kini hanya tinggal Jordan dan istrinya lah yang berada di ruangan itu bersama putri kecil mereka. Untuk saat ini Jordan belum berani melihat putri mereka karena dia masih trauma ketika melihat istrinya yang melahirkan di dalam mobil tadi. Sungguh, perjuangan istrinya itu benar-benar sangat luar biasa dan karena hal itu pula lah Jordan merasa sangat bersalah karena dia tidak bisa menemani wanita yang dicintainya itu untuk sama-sama berjuang melahirkan buah hati mereka.
Tapi dia melancarkan disalahkan oleh sang istri karena wanita itu berpikir jika suaminya merasa kecewa dengan anak yang dilahirkannya ternyata seorang perempuan.
__ADS_1
"Apa kamu menyesal karena anak yang melahirkan seorang perempuan?" tanya Dara sayang sekali terdiam langsung melihat ke arah istrinya ketika mendengar pertanyaan.
Sumpah demi Tuhan Jordan tidak pernah berpikir sama seperti itu sama sekali. Dia tidak pernah mempermasalahkan jenis kelamin calon anak mereka apapun itu dia menerimanya tapi yang menjadi beban pikirannya saat ini adalah perjuangan istrinya yang melahirkan di dalam mobil dan dia tidak menemaninya di saat Dara sedang berjuang sendirian.
"Kenapa mengatakan hal seperti itu sayang?" tanya Jordan yang sudah melihat bahwa istrinya saat ini sedang berlinang air mata.
Melihat istrinya menangis seperti itu semakin membuat diri Jordan merasa bersalah atas apa yang telah terjadi pada mereka saat ini.
"Buktinya sejak tadi kamu tidak mengatakan sepatah kata pun ketika mengetahui bahwa Putri kita sudah lahir. Apa kamu tidak menyukai Putri kita?" tanya Dara lagi karena dia merasa bahwa suaminya itu masih tidak menyukai kehadiran buah cinta mereka yang berjenis kelamin perempuan.
"Bukan seperti itu sayang." cara menghampiri sang istri dan memberikan pelukan penuh cinta dan kasih sayangnya pada wanita yang telah berjuang untuk melahirkan putri cantik.
Baginya, Data adalah wanita yang paling hebat sepanjang hidupnya karena dia telah melahirkan buah hati mereka dengan penuh perjuangan.
Sedangkan Jordan memberikan kekuatan pada wanita yang baru saja melahirkan anak mereka.
"Aku pikir kamu tidak menyukai anak kita karena dia bertemu selamanya perempuan. Aku pikir kamu-"
"Sumpah demi Tuhan bahwa aku tidak pernah berpikiran seperti itu Dara. Tidak sedikitpun. Demi tuhan aku tidak berpikir seperti itu sayang. Aku hanya menyesali diriku yang tidak berada di sisimu ketika perjuangan itu kamu rasakan sendiri. Kamu melewati semua itu sendiri dan aku tidak ada di sisimu. Aku hanya merasa gagal sebagai seorang suami, dan aku tidak menjadi ayah yang baik untuk anak-anakku karena aku tidak bisa menemani proses kelahiran istriku sendiri." ucap Jordan yang jelaskan apa yang dipikirkannya sejak tadi pada sang istri.
__ADS_1
Dia berharap bahwa penjelasannya ini benar-benar bisa diterima dengan baik oleh istrinya karena dia takut jika Dara mengalami baby blues dan parahnya lagi, rasa trauma itu kembali menghantuinya saat dulu Anisa yang meninggal ketika melahirkan Lucas.
"Aku baik-baik saja Jordan, aku baik-baik saja hiks...hiks..." jawab Dara dengan tangisannya.
Dia mengerti apa yang suaminya rasakan karena suaminya yang sudah jauh lebih dulu sampai di rumah sakit dari pada dirinya.
"Terlebih aku yang merasa ketakutan akan traumaku di masa lalu ketika Anisa melahirkan Lucas. Sejak tadi aku terus saja berdoa pada Tuhan untuk menyelamatkanmu dan juga anak kita. Aku tidak sanggup jika harus kembali merasakan kehilangan untuk yang kedua kalinya Dara, tidak lagi."
Jordan merasakan ketakutan yang luar biasa selama di dalam perjalanan menuju rumah sakit, ketika dia mendapatkan kabar bahwa istrinya akan melahirkan.
"Tidak akan ada yang ditinggalkan dan tidak akan ada yang meninggalkan. Percayalah bahwa kita bisa melewati semua itu bersama. Aku dan kamu, juga anak-anak kita sayang." ucap Dara pada suaminya ketika dia sudah mendengar dan mengetahui alasan kenapa suaminya terus saja berdiam diri sejak tadi.
Keduanya melepaskan pelukan mereka dan Jordan melihat putri cantiknya yang memiliki wajah seperti istrinya. Cantik dan berkulit putih.
Melihat putrinya yang berada di box bayi seperti itu membuat air mata Jordan jatuh begitu saja ketika mengetahui bahwa putrinya benar-benar sangat cantik seperti istrinya.
"Hai, cantiknya papi, Laura Clarita Brussels. Apa kamu menyukai nama yang papi berikan sayang?" tanya Jordan yang senagaja bicara pada putrinya yang tertidur di box bayi dengan selimut berwarna pink yang sudah di antarkan pembantu rumah mereka ke rumah sakit.
"Kelak, jika dewasa nanti jadilah putri yang cantik dan baik hati ya sayang. Ingat dan harus takut dengan Tuhan. Patuh kepada kedua orang tua agar kamu mendapatkan berkat dunia yang Tuhan berikan." Jordan mengucapkan segala permohonan dan doanya untuk sang putri tercinta.
__ADS_1
"Laura Clarita Brussels, apa kamu menyukai nama itu sayang?" kini Jordan beralih pada sang istri dan bertanya apakah Data setuju dengan nama yang diberikannya atau tidak.
"Aku suka, dan terima kasih atas nama indahnya papi." jawab Dara karena memang dia menyukai nama pemberian suaminya.