
Neta sudah berada di rumah orangtuanya, Neta sudah menjelaskan semua kepada Ibu. Ibu menyetujui untuk diadakan tasyakuran kehamilan Neta yang pertama, tugas Neta sekarang untuk menjelaskan kepada Dika perihal tasyakuran 4 bulan kehamilan Neta.
Sudah lewat waktu maghrib menjelang isya Dika belum juga menjemput Neta.
Neta kembali ke kamarnya ia akan merebahkan tubuhnya, sebelumnya Neta melihat ponselnya, tidak ada telepon daei suaminya, namun ada beberapa pesan masuk, ia membuka pesan itu ternyata suaminya membalas pesan yang ia kirim tadi.
" Mas Dika kirim foto sama siapa ya ? " Neta lalu membaca pesan dibawahnya.
" Oh Keysa.. ya dia pernah dateng diacara resepsi pernikahan waktu itu " gumam Neta lalu ia kembali membalas pesan dari suaminya.
Iya Mas.. titip salam untuk Keysa, aku ini di rumah Ibu di Cluster Cendana.. Mas jemput aku disini ya..
Setelah mengirim pesan kepada suaminya, Neta menyimpan kembali ponselnya diatas nakas, ia merebahkan tubuhnya diatas kasur, ia tiba-tiba membayangkan untuk memakan martabak mini kesukaannya, ia berniat untuk menghubungi suaminya, namun entah mengapa kantuk menghampiri, tanpa terasa mata ia terpejam, ia pun tertidur.
...****************...
Tepat pukul 8 malam Dika membaca pesan dari istrinya, ia langsung menghubungi Neta namun tidak ada jawaban, Dika tidak tahu jika Neta sedang terlelap tidur.
Dika pulang dari kantor menuju rumah mertuanya untuk menjemput istrinya terlebih dahulu.
Di perjalanan Dika melihat ada pedagang penjual martabak mini kesukaan istrinya, Dika meminggirkan mobilnya lalu turun untuk membeli martabak itu.
" Pak saya pesan martabaknya ya " ucap Dika.
" Silakan Pak, mau berapa dan rasa apa ? " tanya penjual martabak.
" Saya pesan yang rasa cokelat 3, keju 3, cokelat wijen 3 dan pandan 3 " ucap Dika.
" Siap Pak jadi 12 ya, mohon ditunggu "
" Ya "
Dika berjalan ke tempat duduk yang sudah disediakan, ia berniat menghubungi kembali istrinya namun tetap tidak ada jawaban.
" Kemana Neta ? " batin Dika.
" Mungkin ia sedang ngobrol dengan Ayah dan Ibu" batin Dika lagi.
Sekitar 20 menit menunggu, pesanan Dika selesai, penjual martabak menyerahkan bungkusan martabak kepada Dika.
" Silakan Pak sudah selesai"
" Oh ya " Dika membayarnya lalu berjalan kembali menuju mobil.
Dika melajukan kembali mobilnya, didalam mobil aroma martabak mini nya sudah sangat mengganggu penciumannya, ia ingin cepat-cepat sampai rumah untuk memakan martabak itu bersama Neta.
Sekitar 30 menit perjalanan Dika sampai di rumah mertuanya, ia melihat lampu kamar Neta sudah redup sedangkan lampu kamar seberang nya menyala, kamar seberang adalah kamar Bian, lampu kamar itu jarang menyala karena memang penghuni nya tidak ada, namun malam ini Dika merasa heran, lampu kamar Bian menyala.
" Apakah Bian sedang ada di rumah ? " batin Dika.
Ia lalu keluar mobil, mengambil bungkusan martabak mini, berjalan menuju rumah, Dika menyalakan Bel rumah, lalu terdengar suara orang berjalan kaki mendekati nya.
Ceklek pintu rumah terbuka.
" Mas Dika " ucap Bian, Bian yang membukakan pintu untuk Dika karena Ayah dan Ibunya sudah tidur.
" Bian, sehat kamu ? " tanya Dika
" Siap Alhamdulillah Mas " Bian dengan gaya hormatnya.
Dika hanya tertawa.
" Syukurlah, Ayah dan Ibu sudah tidur ? " tanya Dika
__ADS_1
" Sudah Mas.. Mbak Neta juga sepertinya sudah tidur " ucap Bian.
" Oh ya, ini Mas bawa martabak mini kesukaan Mbak mu.. "
" Wah Mas .. ini kesukaan aku juga, ini yang di Wisata Kuliner itu kan ? " tanya Bian.
" Hmm.. " Dika tersenyum.
" Aku tempatin ya Mas.. "
" Oke.. Mas ke kamar dulu mau lihat Mbak mu "
" Siap Mas "
Dika berjalan menaiki tangga, menuju kamar, Dika membuka pintu kamar, terlihat Neta tidur membelakangi pintu masuk kamar, Dika menghampiri istrinya duduk di pinggiran kasur.
Dika tersenyum, ia mencium kening istrinya sekilas, membuat Neta menjadi terbangun.
" Hmm.. Mas.. " Neta membuka matanya.
" Iya "
" Kamu udah pulang, kok malem " tanya Neta.
" Iya ada kerjaan dulu tadi "
" Hmm.. tadi aku denger ribut-ribut, kamu gak apa-apa tapi ? " tanya Neta.
" Nggak, biasalah itu " ucap Dika menenangkan istrinya.
Neta tidak lagi menanyakan perihal itu, ia bangun dari tidurnya lalu menyender kesenderan kasur.
" Anak Papa lagi apa ? pasti udah tidur ya " ucap Dika tepat di depan perut Neta.
" Oh.. jadi nunggu Papa pulang, kangen ya " ucap Dika lagi sambil mengelus-elus perut istrinya.
" Iyaa Papa " balas Neta kembali menirukan suara anak kecil.
" Yang kangen anak-anak Papa atau Mama nya nih " Dika menggoda istrinya.
" Hmm... " Neta hanya tertawa kecil.
" Mas.. "
" Iya kenapa ? " tanya Dika.
" Tadi aku pengen martabak mini, aku tadinya mau nelepon kamu tapi aku jadi ketiduran " ucap Neta.
" Hmm.. kamu mau martabak mini ? ini kan udah malem sayang " ucap Dika menggoda istrinya.
" Aku mau banget Mas .. Plissss yaaa.. sekalian kita pulang deh beli dulu "
" Itu kan tempatnya gak satu arah sama rumah kita Yang.. masih harus muter-muter lagi, lagian ini udah malem, Mas udah capek banget dari kantor banyak kerjaan" Dika terus menggoda istrinya.
Wajah Neta sudah berubah, ia memajukan sedikit bibirnya.
" Mas gitu.. aku cuma pengen martabak mini aja, ini juga kepengen anak kamu kali Mas " ucap Neta.
Dika yang melihat wajah istrinya berubah merasa tidak tega jika terus digoda.
" Ya udah yu siap-siap " ucap Dika.
" Kemana ? beli martabak mini ? " Neta berbinar.
__ADS_1
" Kita pulang, apa kamu mau menginap disini ? " tanya Dika.
" Hmm.. " Neta kembali menekukkan wajahnya.
Dika sedikit ingin tertawa.
" Ayo sayang .. "
Neta tidak bergeming, ia tetap diam di tempatnya. Dika berjalan keluar kamar, Neta tidak mencegahnya atau bertanya, Neta merasa kesal kepada suaminya.
" Aku mau minta martabak mini aja masa gak dibeliin, aku lagi hamil loh ini, ini kan anak kamu juga Mas .. pokonya aku mau beli sendiri besok " gumam Neta dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Iya tidak tahu jika Dika sudah membelikan martabak mini itu untuknya.
Tidak lama Dika kembali ke kamar dengan satu piring martabak mini ditangan nya, Neta menyeka kasar bulir bening yang sempat menetes di pipinya. Neta masih terdiam tidak bergeming.
" Sayang... " ucap Dika namun Neta tetap diam.
" Sayang.. aku bawa apa ini " Neta tetap tidak melihat ke arah suaminya.
" Hmm.. ya udah deh padahal ini enak banget loh, masih anget lagi " ucap Dika.
Neta menjadi penasaran dengan apa yang ada ditangan suaminya, Neta menoleh lalu melihat piring yang berisi martabak mini.
" Mas... martabak mini " Neta antusias.
Neta langsung mengambil satu martabak rasa cokelat sekarang sudah berada ditangannya, lalu Neta langsung memakannya.
" Hmm... enak banget, coklat nya sampe meleleh gini " ucap Neta.
Dika hanya tersenyum melihat istrinya sangat bahagia hanya karena memakan martabak mini kesukaan nya.
Dika mengambilkan tisu lalu melap bibir Neta karena ada coklat yang tertinggal.
" Hmm.. makasih ya Mas.. kamu mau ? " Neta menyodorkan potongan martabak yang ada di tangannya.
" Buat kamu aja.. "
" Nggak kamu juga harus makan " Neta menyuapi Dika.
" Mas .. kamu ternyata udah beli martabak nya ya, hmm.. kenapa godain aku sih.. aku udah kesel loh sama kamu, tadinya aku bakal diemin kamu tau ga " Neta kepada Dika.
" Hahahahha.. masa gara-gara martabak kamu diemin aku, yakin kuat diemin aku " Dika kembali menggoda.
" Kenapa gak kuat, lagian kamu nya nyebelin, ini kan kepengennya anak kamu juga "
" Iya.. sayang.. iya... "
" Tapi kok kamu tahu aku pengen martabak malam ini, padahal kan aku belum bilang " ucap Neta.
" Hmm... mungkin ini yang dinamakan satu hati, tanpa kamu ucap, aku udah tahu kalo kamu mau nya apa " ucap Dika kembali mengambil potongan martabak lalu di berikan kepada Neta.
" Hahahaha.. bisa banget bohongnya " ucap Neta.
" Aku tahu yang bikin kamu bahagia itu apa "
" Apa ? " tanya Neta.
" Uang dan makanan.. hahahahha "
" Hmm... kok kamu bener sih kalo ngomong " ucap Neta disusul tawa keduanya.
Setelah makan martabak mininya, Neta dan Dika bersiap untuk pulang, ia menitipkan pesan kepada Bian karena kedua orangtua Neta sudah tidur, jika mereka akan kembali pulang ke rumah.
__ADS_1