Diam Diam Jatuh Cinta

Diam Diam Jatuh Cinta
BAB 42


__ADS_3

Neta sedikit melepaskan secara paksa genggaman tangan Dika. Dika pun tersadar setelah mendengar ucapan dari ayah nya yang membuat ia menjadi salah tingkah.


Tio hanya tersenyum tipis, lalu ia berpamit untuk menyelesaikan surat pemecatan untuk Prisilla.


Neta masih terdiam di tempatnya, ia tidak pernah menyangka ada di posisi seperti sekarang, ia sedang berhadapan dengan calon suami dan mertuanya sekarang.


" Oya Neta.. sekalian saja kebetulan kamu ada disini sekarang .. saya selaku Ayah dari Dika, memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada keluargamu ya, atas kejadian tempo hari " ucap Pak Arman.


" O..oh.. tidak apa-apa Pak, setelah mendengar penjelasan dari Pak Dika, kedua orangtua saya pun mengerti dan memahami pekerjaan Pak Dika " Neta sedikit gugup.


Dika yang memperhatikan Neta berbicara dengan Ayah nya, sedikit ingin tertawa apalagi saat mendengar Neta menyebutnya dengan sebutan Pak.


" Oya Yah.. bagaimana selanjutnya dengan Neta ? " tanya Dika.


Neta menoleh ke arah Dika.


" Itu terserah padamu, hanya saja peraturan di Perusahaan ini jika ada salah satu karyawan yang membuat kegaduhan akan diberikan surat peringatan, jadi karena Neta masih berstatus sebagai karyawan di perusahaan MGM Grup ini, segala sesuatu yang terjadi di lingkungan perusahaan pasti akan ada konsekuensinya, dari konsekuensi itu akan ada reward atau punishment tergantung dari apa yang sudah kita perbuat di lingkungan kantor ini " jawab Pak Arman.


" Siap Pak, saya siap menerima apapun resikonya dari apa yang sudah saya perbuat " Neta kepada calon mertuanya.


" Hmm.. " Pak Arman tersenyum.


" Oke.. kalau begitu Neta, ikut ke ruangan saya ! "


" Hah... " Neta sedikit melotot.


" Yah.. Dika keruangan Audit terlebih dahulu " Dika kepada orangtuanya.


Pak Arman hanya mengangguk lalu tersenyum.


Dika keluar ruangan yang disusul oleh Neta, sebelum nya Neta berpamit terlebih dahulu kepada Pak Arman. Ruangan Dika bersebelahan dengan ruangan Ayah nya hanya terhalang oleh ruang meeting, ruangan dimana Pak Arman menerima beberapa tamu penting yang ingin bekerjasama dengan perusahaannya.


Neta mengikuti kemana Dika melangkah, sesampainya di ruangan Dika. Dika menghempaskan tubuhnya ke kursi membuat Neta menjadi kaget.


" Pak Dika, apa punishment yang akan saya terima Pak ? " Neta masih berdiri di posisi nya.


" Mbak Neta kenapa tidak duduk dulu " goda Dika.


Neta terdiam lalu ia memicingkan matanya.


" Duduk dulu lah sini, kamu kaya takut banget deket aku, padahal biasanya nyosor-nyosor " Dika kembali menggoda Neta.


" Dih.. sembarangan siapa juga yang nyosor-nyosor, kamu kali tuh yang ngejar-ngejar aku terus ! " Neta memajukan sedikit bibirnya.


" Hahahha.. kok kamu bener sih kalo ngomong " Dika tertawa.


" Ayolah Pak Dika, Pak Dika mengajak saya ke ruangan ini untuk apa sih ? " Neta sedikit kesal.


" Untuk memberikan surat peringatan bagi karyawan MGM Grup yang mantan tukang tawuran di sekolah " Dika kembali tertawa menggoda Neta.


Neta langsung duduk tepat di depan Dika.


" Enak aja, kapan aku pernah ikut tawuran, kamu kali tuh.. "

__ADS_1


Dika kembali tertawa mendengar ucapan Neta.


" Oya, itu kok kamu bisa sampe nonjok Si Prisilla gimana sih ceritanya, kok kepikiran ya.. nonjok orang, bahaya tuh kalo si Prisilla bikin laporan polisi, bisa masuk pasal 351 tentang penganiayaan dan itu hukumnya sekitar 2 tahun 8 bulan " Dika ke Neta menakut-nakuti.


" Hah.. yang bener Ka " Neta terperanjat.


" Hmm... " Dika dengan santainya.


" Aduh gimana dong ? " Neta menjadi gelisah.


Dika sedikit ingin tertawa melihat wajah Neta yang hampir pucat pasi.


" Tapi kan Ka, dia yang duluan, wajar dong aku kesel masa dia bilang aku itu pelet kamu, jadi kamu mau nikah sama aku, fitnah banget ga sih ? " Neta berapi-api.


" Hmm.. kayanya bukan fitnah deh.. "


" Maksud kamu ? " tanya Neta.


" Kayanya emang bener kamu pelet aku, soalnya akhir-akhir ini, didalam pikiran aku itu pasti ada kamu, lagi makan ada kamu, lagi mandi ada kamu, lagi kerja ada kamu, lagi nyetir pun yang aku pikirin cuma kamu, sekarang di depan aku pun ada kamu.. " Dika terus menggoda Neta.


Neta menghampiri Dika, lalu ia memegang kening Dika.


" Kamu sakit ? " tanya Neta.


" Alhamdulillah aku sehat wal afiat " jawab Dika.


" Omongan kamu itu ngelantur tau gak "


" Udah ya Pak Dika aku mau kembali ke ruangan " Neta melangkahkan kakinya namun terhenti.


" Tunggu ! Surat peringatan nya "


" Yaudah aku tunggu " Neta kembali duduk dengan malas.


Dika mengambil satu lembar format surat peringatan, ia membubuhi tanda tangannya di dalam surat itu, lalu ia berikan stempel.


" Nih.. " Dika menyerahkan surat itu ke Neta.


Neta menerima lalu membacanya.


" ini kok formatnya masih kosong ? " tanya Neta.


" Isi saja sendiri " Dika dengan santai.


" Surat peringatan ini diberikan kepada... nama... tanggal lahir.. jabatan.. " Neta membaca surat peringatan itu.


Dika masih memerhatikan Neta.


" Dan karyawati tersebut diatas wajib melaksanakan lembur selama masa peringatan yang telah di tentukan yaitu titik hari, tanpa adanya penambahan uang lembur, jadi ini berapa hari aku harus lembur tanpa dibayar ? " tanya Neta lagi.


" Terserah kamu, kamu mau nya berapa hari " jawab Dika santai.


" Satu hari " balas Neta.

__ADS_1


" Enak banget satu hari "


" Ya terus harus berapa hari, yang normalnya aja deh orang-orang berapa hari " Neta ke Dika.


" Terserah kamu "


" Ya Allah... " Neta frustasi.


Dika merasa senang melihat Neta frustasi, ia terus menjahili Neta.


Neta bangun dari duduknya, berjalan keluar pintu, disaat ia akan membuka pintu ruangan, Dika sudah lebih dahulu mengunci pintu dengan remote otomatis.


" Kok gak bisa dibuka " Neta terus menarik-narik handle pintu, lalu melihat ke arah Dika.


Dika menyunggingkan senyum.


" Ka, buka dong.. ini masih jam kerja aku mau keruangan "


" Begitu sikap kamu, pamit dulu dong, cium tangan kek, permisi gitu "


" Hah... "


" Permisi Pak Dika, saya kembali ke ruangan, terima kasih " Neta dengan senyum yang dipaksakan malah semakin membuat Dika ingin tertawa.


" Silakan Mbak Neta "


Neta membuka pintu ruangan Dika yang sudah Dika buka kuncinya melalui remote otomatis. Ia berjalan keluar ruangan menuju lift, menuju lantai 5.


Sampai di ruangannya Neta langsung duduk menyenderkan tubuhnya ke kursi, ia menghela nafas dalam, membuat Indri, Sofia dan Ramon heran, mereka bertiga sedari tadi menunggu Neta, ingin mengetahui bagaimana akhirnya Prisilla dan Neta setelah disidang oleh Pak Arman dan Dika.


" Kenapa sayy.. ? " tanya Indri.


Neta sedikit memajukan bibirnya, lalu ia menyerahkan surat peringatan yang sudah ditandatangani Dika kepada Indri. Indri langsung membacanya, Sofia dan Ramon pun ikut membacanya.


" Hah.. Kamu kena SP Net ? " tanya Ramon.


Neta hanya mengangguk.


" Pak Dika ngasih SP ke kamu ? Bukan main .. " susul Indri.


" Terus Si Prisilla gimana ? " tanya Sofia.


" Dia udah di pecat, sama Pak Dika " jawab Neta.


" Serius ? " Indri semakin mendekat ke Neta.


" Sungguh "


" Mantap... lagian sih suruh siapa main-main sama calon istri dari putra mahkota MGM Grup "


" Ih Kak Indri, Mbak Sofi, aku jadi kasian sama Prisilla.. aku ngerasa bersalah deh "


" Haaahhhh " Indri, Sofia dan Ramon berbarengan.

__ADS_1


__ADS_2