
Tingtong Tingtong
Bel rumah Neta berbunyi, Mbok Sum membukakan pintu rumah.
" Siang Mbak.. Mas.. "
" Siang Mbok, Mbak Neta nya ada ? " tanya Indri.
" Ada, silakan masuk.. silakan duduk ya, saya panggilkan dulu " ucap Mbok Sum.
" Terima kasih Mbok " ucap Indri seraya masuk kedalam rumah disusul oleh Sofia dan Ramon.
" Duduk nih ? " tanya Ramon.
" Ya duduklah udah di persilakan kan ? " jawab Indri.
Mereka bertiga duduk di sofa ruang tamu, menunggu Neta menemui nya.
" Siapa Mbok ? " tanya Ibu.
" Itu Bu, teman-teman Mbak Neta "
" Oh ya, panggilkan Neta nya Mbok "
" Iya saya panggilkan dulu Bu "
Mbok Sum berjalan menaiki tangga, ia menuju kamar Neta.
Tok.. tokk..tokk..
" Mbak Neta "
" Iya Mbok " terdengar suara Neta dari dalam kamar.
Ceklek pintu kamar dibuka.
" Kenapa Mbok ? " tanya Neta.
" Itu di ruang tamu ada teman-teman Mbak Neta sedang menunggu " jawab Mbok Sum.
" Oh ya.. makasih ya Mbok "
" Sama-sama Mbak Neta "
Mbok Sum berlalu meninggalkan kamar Neta, sedangkan Neta kembali masuk kamar untuk mengambil kerudung langsung pakai, lalu ia memakai nya.
Tidak lama Neta berjalan menghampiri ketiga sahabatnya.
" Haiiii... " Neta kepada Indri, Sofia dan Ramon.
" Netaa... " Indri langsung memeluk Neta.
" Gimana keadaan kamu ? " tanya Indri.
" Alhamdulillah aku gak apa-apa cuma agak pegal-pegal aja, kemarin sih tangan kiri aku agak bengkak, tapi sekarang udah engga, Alhamdulillah "
" Syukur deh kalo gitu, kita khawatir banget ya gak ? " tanya Indri ke Sofia dan Ramon.
" Hmm... makasih banget.. jadi terharu.. aku nangis nih " ucap Neta manja.
" Haaaa jangan nangis dong.. disini ada cctv gak, gawat kalo Pak Dika tahu istrinya kita bikin nangis " ucap Indri membuat semua yang ada diruangan tertawa.
" Emang cctv ruangan HRD masih aktif ya ? " tanya Neta.
" Hmm.. gatau juga sih, masih terpasang tapi kayanya fokus ke kerjaan aja gak fokus ke.. " Sofia mengarahkan matanya ke Neta.
__ADS_1
Neta, Indri dan Ramon tertawa karena mengerti maksud dari Sofia.
" Oh ya.. lupa belum aku suguhin minum, sebentar ya, oya mau minum apa ? " tanya Neta.
" Gak usah, gak usah ngerepotin kasian loh ini masa lagi sakit harus kita repotin juga, kita udah bawa cemilan yang biasa kita makan " ucap Indri.
" Wahh... apa aja tuh ? " tanya Neta.
" Kita kan tahu kamu seneng banget ngemil, seneng jajan kan, nah kita bawain deh " susul Indri.
" Ya ampun Kak.. Mbak, Mon makasih banget "
Indri membuka bungkusan demi bungkusan plastik yang dibawanya.
" Jadi aku yang ngerepotin dong kalo kaya gini, mana banyak lagi, ada durian kocok, telur gulung, lumpia kering aaaa.. aku suka banget ini, martabak mini, apalagi ini asinan juga, ya ampun kak banyak banget loh " ucap Neta.
" Nggak apa-apa, kan sekalian kita ngemil bareng, udah lama loh kita gak kaya gini " ucap Indri.
" Hmm.. bener banget.. sekarang susah mau ketemu ibu Presdir.. " susul Ramon.
" Emhhh.. biasa aja kok " balas Neta.
Mereka bercengkrama sambil memakan cemilan yang dibawa oleh Indri.
" Kak ini apa ? satu bungkus belom dibuka " tanya Neta.
" Oh ini.. cilok pedas " ucap Indri.
" Wahh.. Kak Indri kok tau banget aku suka cilok "
" Gimana gak tau, tiap jalan pasti yang di cari cilok hahahha " Indri tertawa disusul oleh tawa ketiganya.
" Ibu presdir masih seneng cilok nih ? " goda Sofia.
" Ibu presdir juga manusia Mbak Sofi, tetep cilok yang dimakan " Neta tertawa.
Dika masih saja tidak tenang, ia ingin sekali menghajar Ayah Prisilla, namun proses tetap harus di laksanakan karena semua sudah ada prosedur nya.
Sekitar hampir 3 jam Pak Robby diperiksa oleh Kevin, Dika masih di ruang nya, tidak lama Kevin masuk ke ruangan Dika menghampiri Dika duduk tepat di hadapannya.
" Gimana ? keterangan apa yang kamu dapat ? " tanya Dika.
" Hmm... "
" Ayolah Vin, ini menyangkut keselamatan istriku "
Kevin menghela nafas dalam.
" Tenang dulu Bro.. berdasarkan pengakuannya dia menyuruh orang untuk melakukan itu semua, pertama karena dia tidak terima jika anaknya di keluarkan dari MGM Grup, kedua ia juga tidak terima jika Ayahmu mengembalikan saham yang sudah ditanam oleh Pak Robby, ketigaa... mmh.. rupanya dia kecewa kamu menikahi istrimu sekarang "
" Ck... apa ? kecewa ? " tanya Dika tidak mengerti.
" Ya begitu "
" Dimana dia sekarang ? " tanya Dika.
" Masih di ruang pemeriksaan, Aldo ada disana " jawab Kevin.
Dika langsung menuju ruang pemeriksaan, ia sudah tidak tahan rasanya ingin berbicara dengan Ayah Prisilla.
Toktok
Dika membuka pintu ruang pemeriksaan.
" Do, sudah selesai ? " tanya Dika.
__ADS_1
" Siap, sudah Bang "
" Oke " Dika memberikan kode kepada Aldo, Aldo meninggalkan Dika dan Robby berdua di ruang pemeriksaan.
" Selamat siang Pak Robby "
" Hmm.. akhirnya kamu kesini juga " ucap Robby.
Dika masih terdiam, ia menatap Pak Robby dengan tatapan intimidasi.
" Bapak Dika yang terhormat, apakah yang Bapak rasakan ketika seseorang yang dicintainya terluka ? " tanya Pak Robby.
Dika mencerna ucapan Pak Robby. Belum juga Dika menjawab, Robby sudah berbicara lagi kepada Dika.
" Hmm.. marah bukan ? Asal anda tahu itu yang saya rasakan sekarang ! " .
Dika masih tetap diam, memberi ruang untuk Pak Robby mengutarakan isi hatinya kepada Dika.
" Anda perlu tahu, saya bersahabat dengan Ayah Anda sudah sedari dulu, sebelum Anda lahir ke dunia ini, kita sama-sama merintis usaha, kita saling membantu saling menolong, memang satu kesalahan saya kepada Ayah Anda disaat usaha Ayah Anda maju, saya iri, sampai-sampai saya melakukan sesuatu yang membuat perusahaan Ayah Anda menjadi koleps, disitulah saya masuk menawarkan saham, agar apa ? agar orangtua Anda bisa berbalas budi kepada saya "
Dika masih menyimak apa yang diutarakan oleh Ayah Prisilla.
" Sampai akhirnya Prisilla bisa masuk dan bekerja di perusahaan Ayah Anda, dan yang perlu Anda tahu tidak hanya itu, Prisilla menaruh hati pada Anda, saya mencoba untuk membicarakan ini kepada Ayah Anda, namun apa jawaban Ayah Anda ? ia menolak mentah-mentah, saya semakin kecewa disaat Anda memutuskan untuk memecat anak saya, terlebih saya sangat kecewa disaat Anda menikahi karyawan Ayah Anda sendiri, apalagi statusnya hanya karyawan biasa ! " ucap Pak Robby berapi-api.
" Lagipula siapa yang mau sama anak bapak.. pak.. pak " batin Dika.
" Dan sekarang perlu Anda tahu, anak saya terluka batinnya ia menjadi sakit bahkan hampir gila.. gara-gara keadaan ini ! Lalu saya bertekad Anda juga harus gila karena kehilangan istri Anda ! " Pak Robby menggebrak meja.
Dika sudah tidak ingin mendengar lagi apa yang diucapkan oleh Pak Robby, yang jelas ia sudah tahu inti dari perkara ini mengapa Pak Robby berbuat seperti itu kepada Neta.
Karena mendengar suara gebrakan meja, Aldo dan beberapa anggota masuk kedalam ruang pemeriksaan. Mereka langsung mengamankan Pak Robby.
Dika keluar ruang pemeriksaan ia kembali masuk ke ruangannya disana Kevin masih menunggunya.
" Gimana ? " tanya Kevin.
" Parah " jawab Dika.
" Parah gimana maksudnya ? " tanya Kevin lagi.
Dika menceritakan semuanya kepada Kevin dan mulai mengkaji dari hasil pemeriksaan dan pengakuan Pak Robby dan juga Jono,mereka akan ditetapkan sebagai tersangka dengan pasal yang berbeda.
" Wah bener-bener Dik, ada cewek yang sampe gila gara-gara kamu "
" Hmmm.. ck... tapi ada benarnya aku juga bakal gila kalo sampe aku kehilangan istriku Vin " ucap Dika.
" Vin, untuk perkara ini aku percayakan semua ke kamu "
" Gak dipegang sendiri nih ? " tanya Kevin
" Nggak, udah cukup, setelah BAP selesai, pemeriksaan saksi selesai, segera limpahkan perkara ini ke kejaksaan "
" Siap.. komandan ! " ucap Kevin serasa menggoda Dika.
" Tenang Bro.. semua akan aman tenang aja, masa seorang penyidik yang paling ditakuti seantero Bojongjengkol masalah gini aja ciut " Kevin kembali menggoda Dika.
" Keselamatan istriku Vin.. " ucap Dika.
" Siap Salah Komandan ! " balas Kevin disusul tawa kecil dari keduanya.
💐💐💐
Kita sudahi ya ketegangan ini hehehe untuk selanjutnya, kita kembali lagi ke uwu an Dika dan Neta.. tetap tunggu kelanjutannya yaa.. 🥰🥰🥰
Bonus Visual Tim Dika, Kevin paling depan sebelah kiri, Aldo paling depan sebelah kanan, Keysa sebelah kiri Dika 😉😉
__ADS_1