
Neta sedang berada di ruangan kerjanya, Dika sudah mempersiapkan satu ruangan yang biasa ia pakai untuk bekerja jika di rumah, namun sekarang satu ruangan di rumahnya itu ia persiapkan untuk Neta karena Neta sudah tidak diperbolehkan bekerja datang langsung ke perusahaan melainkan ia masih mengijinkan Neta untuk bekerja hanya dari rumah.
Ia sedang memeriksa beberapa laporan yang masuk yang dikirim oleh Tio dan Lisa sekretaris nya. Sesekali ia pun menghubungi Lisa dan Tio untuk menanyakan kabar perusahaan, bagaimana pun ia masih bertanggungjawab atas perusahaan.
Sedikit menyenderkan tubuhnya ke senderan kursi lalu meraih gelas berisi jus alpukat yang disediakan oleh Mbok Sum, Neta menoleh sekilas ke jam dinding yang terpajang di ruangan itu.
" Jam empat sore " gumam Neta, ia berniat untuk mengakhiri dulu pekerjaan nya, karena ia belum melaksanakan shalat ashar.
Saat ia akan beranjak dari duduk nya dengan berhati-hati terdengar suara pintu ruang dibuka, ia langsung menoleh ke arah sumber suara. Dika sudah berada di balik pintu dengan senyuman khasnya.
" Mas.. tumben banget jam segini udah pulang ? " tanya Neta seraya menghampiri suaminya.
" Assalamu'alaikum " ucap Dika.
" Wa'alaikumusalam " Neta meraih tangan suaminya lalu menciumnya.
" Masih kerja ? " tanya Dika.
" Hmm.. tapi aku istirahat dulu, belum shalat " jawab Neta.
Dika hanya tersenyum, Neta berjalan keluar ruangan, lalu Dika menyusulnya setelah menutup pintu ruangan.
" Mas kok tumben sih ? " Neta berjalan menuju kamarnya.
" Tumben gimana ? " tanya Dika balik.
" Iya kamu, sore-sore udah di rumah aja, biasanya kan kamu pulang kalo gak malem, malahan aku udah tidur kamu baru pulang " ucap Neta.
" Iya tadi kerjaan ku udah selesai, kalo udah selesai ya, aku lebih baik pulang, nemenin istri kan " balas Dika.
Neta hanya tersenyum sekilas.
" Aku shalat dulu ya, kamu udah shalat ? " tanya Neta.
" Aku udah tadi di kantor sebelum pulang " jawab Dika.
" Oke.. " Neta berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu sedangkan Dika ia membuka jaket yang ia kenakan menyimpannya di gantungan khusus, mengganti kemeja dan celana dengan baju rumahan lalu ia duduk merebahkan tubuhnya ke atas sofa.
Setelah Neta melaksanakan kewajiban nya, ia menghampiri suaminya yang sedang duduk di sofa.
" Mas.. "
" Hmm.. " Dika membetulkan posisi duduknya.
" Kamu udah makan ? " tanya Neta.
__ADS_1
" Udah tadi siang, sekarang belum laper nanti aja " jawab Dika tersenyum sekilas.
" Oya Mas.. kamu capek gak ? " tanya Neta lagi.
" Hmm.. nggak, kenapa ? "
" Aku pengen itu dong, tahu isi yang di jalan Sudirman " ucap Neta.
" Ayo kita beli.. "
Neta berbinar " tapi beneran kamu gak capek ? " tanya Neta lagi.
" Nggak sayang.. ya udah ayo, kamu mau pake baju itu aja ? " Dika balik bertanya.
Neta hanya mengangguk. Neta berjalan mengambil jilbab yang ia simpan dikursi meja rias, setelah shalat tadi ia belum sempat memakai jilbab langsung nya lagi. Dika menunggu Neta menggunakan jilbabnya, lalu Dika sedikit merapikan jilbab yang Neta kenakan, Dika meraih tangan Neta mengajak nya keluar kamar.
" Mas Dika antusias banget " batin Neta, ia hanya tersenyum kecil.
Setelah menitipkan pesan kepada Mbok Sum, Neta dan Dika keluar rumah, Dika membukakan pintu mobil untuk istrinya setelah itu ia masuk lalu duduk di kursi kemudi. Mobil melaju meninggalkan halaman rumah Dika.
...****************...
Sesampainya di tempat tahu isi, Neta langsung bergegas turun dari dalam mobil.
" Sayang pelan-pelan " ucap Dika kepada istrinya.
" Mas.. " Neta mengetuk-ngetuk kaca mobil.
" Kenapa ? Kok balik lagi ? " tanya Dika membuka kaca pintu mobil.
" Aku kan gak bawa dompet " ucap Neta.
" Hmm.. sebentar.. " Dika mengambil dompet nya, ia pun baru ngeh untung dia bawa dompet.
" Ini .. " Dika menyerahkan satu lembar uang berwarna merah.
" Oke makasih " Neta mengambil uang itu lalu kembali berjalan menuju penjual tahu isi.
Neta sangat menginginkan tahu isi ini, selain rasanya enak, jika telat sedikit saja, sudah habis terjual. Neta sangat menunggu dimana Dika bisa mengantarkan nya untuk membeli tahu ini.
" Nak.. akhirnya Mama bisa beli tahu isi ini.. kita makan sama-sama ya " batin Neta mengusap-usap perut nya.
" Pak masih ada ? " tanya Neta.
" Masih Mbak, tapi tinggal sepuluh biji " jawab penjual tahu.
__ADS_1
" Ya udah saya beli semua ya "
" Baik Mbak.. "
Saat penjual itu sedang membungkuskan tahu isi yang di pesan Neta. Tiba-tiba datang seorang pria yang ingin membeli tahu isi juga.
" Pak tahu isi nya ya "
" Habis Pak "
" Itu yang dibungkus "
" Punya Mbak yang ini "
" Aduh, buat saya aja deh, istri saya lagi ngidam "
" Pak, jangan punya Mbak nya ini "
" Udah nih saya lebihin, istri saya lagi ngidam " Pria itu mengambil paksa bungkusan tahu isi lalu sedikit melemparkan uang ke penjual itu, lalu ia berjalan cepat masuk kedalam mobil.
" Pak hey.. itu pesenan saya " ucap Neta.
Namun pria itu sudah keburu pergi membuat Neta sangat kesal, tanpa pikir panjang ia langsung berjalan kembali ke mobil, membuka pintu mobil lalu menutupnya sedikit keras membuat Dika menjadi sedikit kaget.
" Sayang kenapa ? udah beli tahu nya " Dika dengan tatapan heran.
Neta langsung menangis, menumpahkan kekesalannya.
" Sayang kenapa hey ? " Dika melihat kesekeliling lingkungan ia pun melihat ke arah penjual tahu isi tidak ada yang aneh.
Neta masih terus menangis, Dika dengan spontan langsung memeluk istrinya, setelah Neta tenang ia kembali mencoba menanyakan apa yang terjadi.
" Sayang kenapa ? mana tahu nya ? " tanya Dika lagi.
" Aku kesel Mas.. tadi kan aku beli kan, bapak penjualnya bilang kalo tahu nya sisa sepuluh, aku beli semua, pas bapak penjualnya lagi bungkusin tiba-tiba ada laki-laki yang dateng dia langsung ngerebut bungkusan tahu nya " Neta terisak.
" Kok gitu, itu kan udah kamu pesen kan ? " tanya Dika.
" Iya.. Bapak penjualnya udah bilang kalo tahu itu punya aku tapi di rebut aja sama laki-laki nya, dia bilang istrinya lagi ngidam, ya aku juga kan mau.. dia gak liat apa kalo aku lagi hamil gede gini, kesel banget Mas.. " Neta kembali menangis.
" Udah sayang.. ya.. kita cari lagi ya penjual tahu isi yang lain " ucap Dika.
" Gak mau, yang enak cuma tahu isi ini " ucap Neta.
Dika menghela nafas panjang ia memutar otak bagaimana cara nya agar Neta melupakan kekesalan nya, ia pun mengerti mungkin Neta sangat menginginkan tahu isi itu, selama Neta hamil ia tidak pernah rewel soal makanan, bahkan ia pun tidak pernah ngidam tengah malam, yang mengharuskan Dika keluar rumah mencari makanan, ia merasa sangat harus mencari tahu isi untuk Istrinya.
__ADS_1
Dika masih terus merayu istrinya, namun Neta masih tetap dengan kekesalan nya kepada seseorang karena perkara tahu isi.