
Cluster Cendana
Neta dan Dika sudah sampai di rumah orangtua Neta, Dika memarkirkan mobil, lalu ia turun dari mobil membuka pintu untuk istrinya.
" Hati-hati, pelan-pelan jalannya " ucap Dika.
" Makasih Mas.. "
Dika tersenyum lalu memapah istrinya.
" Mas mobilku kok udah ada disini ? " tanya Neta.
" Tadi Tio yang membawanya pulang "
" Oh " Neta mengangguk.
Neta dan Dika masuk kedalam rumah, Ibu sudah menyambutnya dengan penuh khawatir.
" Assalamu'alaikum "
" Wa'alaikumusalam Neta .. Nakk gimana keadaan kamu ? " tanya Ibu langsung memeriksa keadaan Neta.
" Alhamdulillah Bu, aku udah gak apa-apa " ucap Neta.
" Benar begitu Nak Dika ? " tanya Ibu masih tidak percaya.
" Alhamdulillah Bu, tidak ada yang serius hanya saja tangan kiri Neta agak sedikit bengkak dan baret-baret " ucap Dika.
" Ya ampun Neta.. " Ibu melihat ke arah tangan kiri Neta yang sudah diberi perban.
Lalu ibu pun melihat kearah wajah menantunya.
" Nak.. kenapa wajahmu ? " tanya Ibu heran.
" Euhh.. ini bu " belum selesai Dika berbicara sudah dipotong oleh ibu mertuanya.
" Ini kecelakaan itu kalian berdua atau bagaimana sih ? " tanya Ibu.
" Ibu lebih baik kita duduk dulu ya " ucap Neta.
" Oya.. Ayo duduk ayo.. makanya kamu itu kalau nyebrang jalan hati-hati, jangan sampe kejadian kaya gini lagi Nak.. Ayah dan Ibu khawatir " ucap Ibu ia belum tahu yang sebenarnya terjadi.
Dika hanya tersenyum sedikit memijit pelipisnya karena sebetulnya kejadiannya tidak seperti itu.
__ADS_1
" Nak Dika, apa yang terjadi padamu dan Neta ? " tanya Ibu.
Dika menceritakan apa yang ia alami, namun ia belum menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Neta, Dika akan berusaha mengungkap kasus ini terlebih dahulu agar orangtua Neta tidak semakin khawatir.
" Ya ampun nak, jadi tadi malam kamu.. " Ibu tidak lagi melanjutkan pembicaraan nya.
" Tidak apa-apa Bu, saya sudah lebih baik " ucap Dika.
Ibu hanya mengangguk.
" Bu, aku istirahat dulu ya di kamar " ucap Neta.
" Oh.. iya sayang.. istirahat lah "
" Mas.. " Neta memberikan kode kepada suaminya.
Dika dan Neta berlalu menuju kamarnya yang berada di lantai 2.
Sesampainya di kamar Neta dibantu Dika untuk duduk di kasur.
" Mas.. tolong jangan dulu ceritakan yang sebenarnya ke Ayah dan Ibu, aku takut Ayah dan Ibu semakin khawatir, dia liat menantunya aja memar sampe segitunya, gimana kalo Ibu tahu ada yang ingin berniat jahat ke aku " ucap Neta.
Dika menghela nafas dalam.
" Iya sayang, aku paham.. kamu tenang aja aku pastikan gak akan lama, kita bakal tahu siapa yang berniat jahat ke kamu, aku gak akan terima sama siapapun orang yang berniat mencelakakan kamu, aku tidak akan pernah terima kepada siapapun yang berniat tidak baik kepada keluarga ku " ucap Dika.
Tidak lama terdengar suara dering ponsel Dika, Dika mengangkat teleponnya nya.
" Siap.. "
" Siap "
Hanya itu yang terdengar oleh Neta. Setelah menutup teleponnya Dika kembali menghampiri istrinya yang masih duduk menyender ke senderan kasur.
" Sayang.. aku kembali ke mako lagi ya.. "
" Hmm... " Neta menghela nafas panjang ia hanya mengangguk.
" Baik-baik ya.. " Dika mengecup sekilas kening istrinya.
" Hati-hati Mas " ucap Neta.
Dika mengangguk tersenyum lalu ia keluar kamar Neta. Ia turun tangga, terlihat Ayah mertuanya baru saja tiba.
__ADS_1
" Ayah " Dika langsung menyalami ayah mertua nya.
" Dik, bagaimana Neta ? wajah mu kenapa ? " Ayah Neta pun heran melihat wajah Dika yang masih memar.
" Euh.. ini biasa Yah, tadi malam terjadi baku hantam saat penangkapan, tapi semua sudah aman kok "
" Ckk.. ya syukurlah " Ayah Neta merasa iba kepada menantunya.
" Yah, Bu Dika pamit dulu ya.. mau kembali ke mako "
" Kembali ke kantor ? " tanya Ayah.
" Iya yah.. "
" Hmm.. hati-hati Ya Nak " ucap Ayah.
" Hati-hati Nak Dika " susul Ibu.
" Terima kasih Yah Bu, Assalamu'alaikum " Dika berlalu meninggalkan rumah, masuk kedalam mobilnya, menyalakan mesin, mobil melaju menuju markas komando dimana tempat Dika bertugas.
...****************...
" Bagaimana Neta Bu ? " tanya Ayah.
" Alhamdulillah dia baik-baik saja, sekarang sedang beristirahat " jawab Ibu.
" Syukurlah " susul Ayah.
Ayah duduk kembali di sofa ruang tengah begitu pun Ibu.
" Yah.. Ibu sangat khawatir dengan keadaan menantu kita Yah.. "
" Hmm.. iya Bu, tapi.. ya mau bagaimana, itu sudah tugasnya, ibarat kata jika di rumah ia milik istrinya namun disaat satu langkah ia keluar dari rumah, ia sudah milik negera, disaat negara membutuhkan ia sudah harus siap " ucap Ayah.
" Bian.. Ibu teringat Bian Yah.. bulan depan ia akan pelantikan "
" Hmm ya.. semoga kita sehat-sehat semua, jadi kita semua bisa hadir di acara pelantikan Bian nanti "
" Aamiin " ucap Ibu.
💐💐💐
Bonus visual Neta.
__ADS_1
Author memilah dan memilih mana visual yang pas untuk Neta. Untuk menjawab pertanyaan pembaca semua yang penasaran dengan visual Neta 🤭🤭 ini visual yang mendekati ya menurut author, silakan pembaca semua berimajinasi masing-masing untuk visualnya 😀😀❤️