
Markas Kepolisian
" Silakan duduk " ucap Bian kepada Wulan.
Dengan terpaksa Wulan duduk di kursi yang tidak pernah ia merasa nyaman, Kevin sudah berada di depannya siap mengintrogasi Wulan. Wulan melihat kesekeliling ruangan, tidak ada siapapun disana hanya dirinya, Kevin dan satu orang anggota lain.
Kevin yang melihat Wulan menjadi heran sendiri.
" Kenapa Bu ? " tanya Kevin.
" O..euh.. ti..tidak apa-apa Pak " jawab Wulan, ia pun merasa sudah pasrah percuma saja berontak mungkin ini akhir dari perjalanan nya.
Setelah dalam perjalanan tadi ia banyak di beritahu oleh Bian dan Aldo, ia sedikit tersadar dan merasa menyesal, mengapa ia harus jatuh ke lubang yang sama, mengapa ia bisa termakan bujuk rayu Hary selaku atasannya di perusahaan. Ia ingin sekali bertemu dengan Hary sekarang, ia ingin menampar wajah nya keras-keras, ia ingin membuat perhitungan dengannya, mana tanggungjawab nya yang katanya tidak akan membawa-bawa nama Wulan jika terjadi apa-apa.
Ada kenyataannya tetap Wulan pun ikut terseret dalam kasus korupsi di perusahaan MGM Grup.
" Ehem.. benar dengan Bu Wulan Desiana " ucap Kevin membuyarkan lamunan Wulan.
" Oo.. oh ya benar " ucap Wulan dengan tangan terikat borgol.
Kevin langsung meminta beberapa keterangan kepada Wulan, ia ingin mencocokan keterangan yang sudah di dapat dari Hary dengan keterangan yang ia dapatkan dari Wulan.
Disini Kevin merasa sedikit kesal atas keterangan Wulan, menurut Wulan ia hanya diminta membantu oleh Hary, ide untuk membuat tandatangan palsu adalah darinya, namun yang mengeksekusi memalsukan tandatangan Dika adalah Hary.
Namun pada keterangan Hary, justru semua ide dan dalang dari ini semua adalah Wulan, karena Wulan sebelumnya pernah melakukan hal yang sama, sehingga hari disini hanya melindungi apa yang dilakukan oleh Wulan.
Kevin pun akhirnya memperbolehkan Wulan untuk beristirahat terlebih dahulu, karena semakin kesini jawaban Wulan sudah tidak masuk akal dan berbelit-belit. Wulan diantarkan ke ruangan khusus berdinding jeruji besi, hal yang paling tidak pernah Wulan bhayangkan sebelumnya.
" Pak.. " ucap Wulan saat anggota lain mengantarkannya ke ruangan khusus.
" Ya "
" Bolehkan saya bertemu dengan Pak Hary ? " ucap Wulan.
__ADS_1
" Boleh, tapi nanti ya Bu, ada waktunya, Ibu dan Pak Hary akan dimintai keterangan secara bersamaan " ucap salah satu anggota.
Setelah Wulan dimasukkan kedalam ruangan khusus. Kevin menghampiri ke ruangan Dika, ia membicarakan hasil keterangan Wulan dan Hary, mereka berdua mengkaji jawaban-jawaban dari pertanyaan yang sudah Kevin ajukan, tidak lama, Alfarezy pun datang ke ruangan Dika.
" Hmm.. sebetulnya bukan hal sulit bagi kita, beberapa alat bukti sudah jelas kan, masalah keterangan dari mereka yang berbelit-belit, nanti juga pasti akan ada ujungnya, biarkan saja mereka bebas mengarang cerita " ucap Al.
" Betul Bang, hanya saja, mereka masih betah dengan persepsi mereka masing-masing " balas Kevin.
" Sudah jelas, buktinya tandatangan ku saja mereka palsukan, surat palsu dan ini bukti transaksi sudah jelas semua, tapi agar semua sesuai dengan prosedur kita tinggal memanggil beberapa saksi, untuk memperkuat tuduhan kepada mereka " ucap Dika.
" Oke.. segera urus saja surat pemanggilan kepada beberapa saksi " ucap Al.
" Siap Bang " balas Dika.
Mereka bertiga masih mendiskusikan perkara yang sedang dialami oleh perusahaan Dika, setelah ini status Wulan dan Hary akan naik menjadi tersangka, setelah prosedur penyelidikan, penyidikan dan penuntutan oleh polisi selesai, maka perkara akan dilimpahkan ke kejaksaan hingga pelaksanaan putusan atau eksekusi di pengadilan. Wulan dan Hary masih harus bersabar sampai akhir nya nanti ia dinyatakan bersalah dengan ganti rugi atau kurungan penjara yang sudah di tetapkan.
...****************...
Komplek Perumahan Nirwana
Ia sudah mulai bisa mengatur waktunya, ia pun sudah mulai bisa kembali memasak di dapur, memasak makanan kesukaan suaminya jika Dika pulang kerja nanti.
Dika walaupun masih tetap dengan pola kerjanya yang terkadang pulang larut malam, namun ia masih bisa membagi waktu dengan keluarga kecilnya. Pekerjaan utamanya sebagai seorang polisi, mengatur perusahaan, menjadi seorang suami dan kepala keluarga juga menjadi seorang Ayah dari 2 anak kembarnya sekarang.
Waktu menunjukkan waktu Ashar, setelah shalat Neta bergegas menuju dapur ia akan memasak makanan untuk Dika jika pulang nanti. Neta menghabiskan waktu hampir satu jam di dapur yang dibantu oleh Mbok Sum dan sesekali ia pun melihat Nala dan Nathan yang berada di ruang keluarga bersama Kiki tidak jauh dari dapur.
Selesai memasak Neta merapikan dan menata makanan nya di meja makan, disaat yang bersamaan terdengar suara deru mesin mobil terparkir di garasi rumah.
" Kayanya Mas Dika pulang " batin Neta.
Tidak lama pintu samping rumah yang mengarah ke ruang keluarga terbuka.
" Assalamu'alaikum " terdengar suara bariton Dika membuat seisi rumah menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
" Wa'alaikumusalam, Mas udah pulang " Neta menghampiri suaminya.
" Hmm.. " Dika hanya tersenyum, mengecup sekilas kening istrinya.
" Tumben banget lewat pintu samping " ucap Neta.
" Tadi aku denger suara televisi disini, aku pikir pasti semua lagi kumpul disini, bener aja kan " ucap Dika.
Neta pun hanya membalas dengan senyuman.
" Sayang.. anak-anak Papa.. sebentar ya Papa cuci tangan dulu " ucap Dika, Dika berjalan menuju wastafel lalu mencuci tangannya, setelah itu kembali ke ruang keluarga.
Terdengar suara celotehan dari Nala dan Nathan, mereka sudah tahu jika Papa nya pulang dan meminta untuk digendong.
" Sini sayang Papa gendong.. yang mana dulu yaa.. Nala atau Nathan dulu.. Nala dulu deh " saat Dika akan mengambil Nala untuk digendong, Nathan menjerit lalu menangis dengan histeris, membuat Dika dan Neta menjadi kaget.
" Kenapa sayang ? cup cup cup " ucap Neta.
" Kaya nya ngambek deh Mas, udah gendong dua-duanya aja sekalian " ucap Neta lagi, Neta mangambil Nathan lalu diserahkan kepada suaminya, jadi Dika menggendong kedua anaknya, Nathan pun berhenti menangis.
" Yang.. gak akan jatoh nih " ucap Dika yang memegang Nala dan Nathan hati-hati.
" Nggak Mas, pelan-pelan aja atau sambil duduk aja " Neta mengarahkan suaminya sambil membantu memegang si kembar yang sudah mulai aktif tidak bisa diam.
" Hmm.. sayang Nathan bikin Papa kaget ya.. pengen di gendong dua-duanya rupanya " ucap Dika sambil melihat kearah kedua anaknya.
Neta hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.
" Oya Mas.. mau makan dulu ? " tanya Neta.
" Hmm.. boleh tapi.. kayanya mandi dulu deh baru makan " jawab Dika.
" Tapi nanti sebentar lagi aku masih mau main-main sama si kembar " susul Dika.
__ADS_1
" Oke " balas Neta merapikan jaket ponsel dan kunci mobil yang Dika simpan sembarang.