
Rumah Orang tua Neta
Setelah makan malam Neta memberanikan diri untuk berbicara kepada kedua orangtuanya, mengenai maksud dan tujuan Dika. Ia beranggapan sepertinya memang Dika tidak main-main kali ini.
" Begitu.. Yah.. Bu.. " Neta menjelaskan kepada kedua orangtuanya.
" Hmm.. Dika teman sekolahmu ? " tanya Ayah.
" Iya Yah.. "
" Hmm.. " Ayah manggut-manggut.
" Kamu kok baru cerita sekarang ke ibu nak ? " tanya Ibu.
" Maaf Bu "
" Hmm.. Ya sudah.. kalau Ibu sih ya bahagia pastinya jika ada seorang pria yang sudah berniat baik, bahkan ia mau langsung datang kesini untuk melamar mu " balas Ibu.
" Tapi Bu jangan bahagia dulu, kita harus tahu siapa anak nya, bagaimana orangtua nya, dari keluarga seperti apa " susul Ayah.
" Iya Yah .. " balas Ibu
" Dia sudah bekerja ? " tanya Ayah lagi.
" Sudah Yah " jawab Neta.
" Hmm.. apa pekerjaan nya ? " tanya Ayah.
" Dika.. polisi Yah " jawab Neta.
__ADS_1
" Polisi ?! kamu yakin ? "
Neta terdiam ia melihat raut wajah Ayah nya berubah.
" Nak.. jadi Dika itu seorang polisi ? " tanya Ibu meyakinkan.
" Iya Bu "
" Nak, Ibu tidak masalah kamu mau menikah dengan siapapun itu, apapun itu profesinya begitupun anggota polisi, tapi.. menjadi istri seorang abdi negara itu tidak mudah Nak, kamu siap ? " tanya Ibu lagi.
" Betul apa kata Ibu mu Neta, pikirkan matang-matang atas pilihanmu, menjadi istri seorang abdi negara tidak mudah, kamu sudah harus siap apapun itu resikonya, jika kamu menyanggupi itu, Ayah terserah padamu, jika kamu ragu.. lebih baik jangan dilanjutkan "
Neta terdiam, ia berpikir dan mencerna nasihat dari kedua orangtuanya, perasaan ragu kembali menyelimuti Neta.
" Benarkah apa yang dikatakan Ayah dan Ibu ? " batin Neta.
" Pikirkan masak-masak Nak, pernikahan adalah sesuatu yang sakral, jangan dibuat main-main " Ibu kembali menasehati.
Ibu menghela nafas panjang. Lalu tersenyum.
" Tapi.. tidak mengapa jika memang teman pria mu akan datang kemari, Ayah ingin melihat kesungguhan nya kepadamu " Ayah kepada Neta.
" Maksud Ayah ? " tanya Ibu.
" Sudah Bu, tidak apa-apa "
Neta menghela nafas dalam.
" Terima kasih Yah, Bu "
__ADS_1
Setelah mengutarakan maksud Dika kepada kedua orangtuanya Neta, kembali ke kamarnya, ia memikirkan ucapan kedua orangtuanya tadi.
" Apa aku sudah siap ? " ia bertanya pada diri sendiri.
" Aku melihat kesungguhan Dika, tapi mengapa justru aku yang merasa sepertinya ragu dan belum siap jika benar Dika memilihku untuk menjadi pendampingnya " ia berbicara dalam hati.
" Apa aku hubungi Dika aja ya, biar gak usah jadi deh ke rumah " gumam Neta.
" Tapi kalo aku hubungi Dia dikira emang aku ngarep lagi dia ke rumah, duh serba salah jadinya " gumam Neta lagi.
Neta menikmati malamnya dengan terus memikirkan kejadian demi kejadian yang ia alami beberapa bulan terakhir ini.Ia menyalakan music di laptop nya, untuk menghilangkan sedikit penat yang menyelimuti pikiran nya.
Denyut jantungku berdebar
Terasa indahnya
Dunia ini kita yang punya
Akulah mataharimu
Kaulah kekasihku
Kita kan bersama selamanya
Neta bernyanyi mengikuti irama musik yang ia dengarkan.
" Denyut.. jantungku berdebar... terasa indahnya.. dunia ini kita yang punya ... aku lah... " Neta tidak melanjutkan lagi menyanyi karena konsentrasi nya dibuyarkan oleh suara dering telepon masuk dari ponselnya.
Neta mengecilkan volume suara musik di laptop lalu mengambil ponselnya, melihat id pemanggil di layar ponsel nya ' Dika Calling .. ' Neta membelalakkan matanya.
__ADS_1
" Hah.. Dika.. " batin Neta.