
Cluster Cendana
Neta dan Dika sedang berada di rumah orangtua Neta. Mereka sedang berbincang bersama dengan kedua orangtuanya.
" Oh ya Bu, ini ada oleh-oleh sedikit, kemarin Mas Dika membelikan untuk Ayah dan Ibu " Nika menyerahkan beberapa paper bag kepada Ibu.
" Waduh.. terima kasih banyak ya Nak Dika " ucap Ibu.
" Terima kasih banyak " ucap Ayah.
" Oya, ini untuk Bian " Neta menyerahkan lagi paper bag kepada Ibunya.
" Hmm ya.. Bian pasti suka " ucap Ibu lagi.
" Oya Bu, Bian sebentar lagi selesai pendidikan ya " tanya Dika.
" Iya, Alhamdulillah.. kemarin ia sempat menghubungi Ayah dan Ibu sekitar 3 bulan lagi " ucap Ibu.
" Syukurlah.. " balas Dika.
" Ayah pun tidak menyangka ia ingin mengikuti jejak kakak iparnya " ucap Ayah sambil sedikit tertawa.
Dika hanya tersipu.
" Pantas saja, saat Dika kesini, Dika belum pernah melihat Bian, hanya pada saat pernikahan ia datang sebentar ya, lalu kembali lagi " ucap Dika.
" Iya betul nak Dika, itupun ia meminta ijin setelah itu kembali lagi " balas Ibu.
" Dika faham Bu, karena posisi Bian sekarang Dika pun pernah merasakan nya " ucap Dika.
Mereka kembali mengobrol, mengingat perjalanan Bian untuk mengikuti pendidikan polisi.
Flashback On
" Bian.. ini beberapa formulir pendaftaran perguruan tinggi " Ayah menyerahkan beberapa lembar formulir untuk daftar perguruan tinggi.
" Iya Yah terima kasih " balas Bian.
" Kamu pilihlah jurusan yang tidak sulit untuk mencari pekerjaan kedepannya " ucap Ayah.
" Baik Yah, tapi sepertinya sekolah ikatan dinas yang tidak perlu lagi mencari pekerjaan " balas Bian.
" Lalu kamu ingin masuk sekolah ikatan dinas yang seperti apa ? " tanya Ayah.
__ADS_1
" Hmm.. aku ingin mencoba daftar untuk masuk pendidikan polisi Yah " jawab Bian.
" Polisi ? kamu yakin ? bagaimana dengan fisikmu ? " tanya Ayah.
" Insyaallah Bian sudah mempersiapkan itu Yah " jawab Bian.
" Bagaimana Bu ? " Ayah kepada Ibu.
" Hmm.. jujur ya.. ibu sepertinya belum siap jika harus ditinggalkan oleh anak-anak ibu, menjadi abdi negara kan harus siap di tempatkan dimana saja, bagaimana nanti jika kamu lulus pendidikan, kamu ditugaskan jauh dari Ibu " ucap Ibu.
" Bu.. jangan berkata seperti itu, ini cita-cita Bian Bu, Bian harap Ayah dan Ibu memberikan ridho nya untuk Bian "
Ibu masih saja belum memberikan ijinnya kepada Bian.
" Hmm.. " Ayah pun berpikir sejenak, bagaimana pun ia tidak boleh egois dengan pilihan anaknya, ada benarnya yang diucapkan oleh Bian, sekolah pendidikan polisi salah satu sekolah ikatan dinas yang jika sudah lulus pendidikan bisa langsung bekerja.
" Bian laki-laki, ia memiliki cita-cita, rasa nya sangat egois jika aku tidak mendukung apa yang diinginkan oleh anakku " batin Ayah.
" Ayah mengijinkan, silakan kamu ikut daftar untuk pendidikan polisi " ucap Ayah yang membuat Ibu kaget.
" Ayah.. kok mengijinkan sih ? Ibu khawatir sama Bian Yah.. " Ibu kepada Ayah.
" Bu.. kita jangan egois, biarkan Bian berjuang mengejar cita-cita nya, tidak ada salahnya bukan ? " ucap Ayah.
" Bu.. Bian hanya meminta ridho dan ijin dari Ayah dan Ibu " susul Bian.
Beberapa test dilalui oleh Bian, banyak beberapa rekan seperjuangan Bian yang gugur di beberapa test, namun untuk Bian karena kegigihannya dan juga ridho dari kedua orangtuanya, ia bisa lolos dan mengikuti pendidikan polisi di Akademi Kepolisian selama kurang lebih 4 tahun, sekitar 3 bulan lagi pelantikan Bian menjadi seorang Perwira Polisi Muda.
Flashback Off
" Aku juga awalnya gak yakin loh Mas, Bian mau jadi polisi, soalnya, kaya yang gak pernah olahraga, banyak nya main aja sama temen-temen nya " ucap Neta.
" jadi 'dont judge book by its cover' itu betul ada pada Bian " balas Dika.
" Nah betul " susul Ayah yang disusul tawa dari keempatnya.
" Ayah dan Ibu juga hampir gak setuju loh Mas " ucap Neta.
" Maksudnya ? gak setuju aku sama kamu gitu ? benar begitu Yah Bu ? " tanya Dika.
Ayah dan Ibu kembali tertawa.
" Gini loh bukannya tidak setuju, hanya saja menjadi seorang istri abdi negara itu, sudah harus siap segala konsekuensinya, pikiran ibu kan saat itu, Bian sedang pendidikan polisi, sekarang kakak nya akan dilamar juga oleh polisi, ibu belum siap jika harus ditinggalkan oleh anak-anak ibu, itu saja.. tapi... Ayah dan Ibu berpikir, semua akan kembali kepada hukum alam, disaat anak-anak sudah dewasa ia akan menjemput masa depannya, kita sebagai orangtua akan kembali berdua, begitupun nanti kamu, Neta dan Dika.. setelah memiliki anak akan ada kekhawatiran yang Ayah dan Ibu alami, namun pada akhirnya kita pun berpikir anak-anak hanya titipan, kita dititipi untuk mendidik, merawat, memenuhi kebutuhannya, sampai waktunya nanti ia menjemput masa depannya sendiri " ucap Ibu.
__ADS_1
" Ya betul apa yang diucapkan oleh Ibu, kita sebagai orang tua hanya khawatir, Ayah rasa sebagai orangtua kepada anak hal itu cukup wajar, khawatir anak kita menikah dengan pasangan yang tidak tepat, khawatir anak kita nanti tidak bahagia, dan kekhawatiran yang lainnya, namun semua itu akan berubah, jika melihat dari kesungguhan si para pelakunya " susul Ayah.
Dika dan Neta menyimak apa yang diucapkan oleh Ibu, banyak hal yang belum mereka tahu dalam berumahtangga.
" Hmm.. terima kasih Yah Bu, sudah mengijinkan Dika untuk menikahi Neta " ucap Dika.
" Justru Ayah dan Ibu juga berterima kasih, Dika sudah baik, sudah menunjukkan kesungguhan ke Ayah dan Ibu untuk menjadikan Neta istri dan untuk Neta Ayah dan Ibu sangat berharap, patuhi suami mu, bagaimana pun sekarang ridhomu sudah berada di suamimu, tanggungjawab Ayah dan Ibu sudah berada di suamimu, Ayah dan Ibu mendoakan kebahagiaan untuk rumahtangga kalian berdua " balas Ayah.
" Terima kasih Ayah Ibu, maaf jika sebelumnya ada hal-hal yang membuat Ayah dan Ibu kecewa kepada Dika " ucap Dika.
" Hmm.. sudahlah, ini kita sebagai sharing aja, karena Ayah kan belum mengenal kamu lama ya Bu, tau-tau kamu melamar Neta, tidak lama kalian menikah " ucap Ayah kepada Ibu.
" Iya betul Yah, walaupun dulu Neta dan Dika satu sekolah, tapi Nak Dika belum pernah kesini kan ? "
" Belum Bu, karena Neta gak pernah ngajak Dika Bu " Dika tersenyum salting.
" Mau banget diajak ? lagian dulu itu kamu nyebelin ! " ucap Neta.
" Ya itu kan dulu, sekarang kan nggak " balas Dika.
Neta dan Dika berdebat, membuat Ayah dan Ibu menggelengkan kepala nya.
" Sudah.. kalian ini.. " Ibu dan Ayah tersenyum.
Neta dan Dika langsung terdiam mereka berdua menjadi salting.
Setelah banyak ngobrol dengan kedua orangtuanya, Dika diminta oleh mertuanya untuk istirahat terlebih dahulu, Dika menyetujui. Ia berpamit untuk beristirahat dikamar Neta. Pada saat itu Neta sudah lebih dulu berada di dalam kamarnya.
Pintu kamar dibuka Neta sedang merapikan kamarnya. Masih banyak barang-barang pribadi Neta yang belum ia bawa ke rumah Dika.
" Sayang.. " ucap Dika menghampiri Neta.
" Hmm.. Mas " Neta masih merapikan barang-barang nya.
Dika berjalan menuju kasur, lalu merebahkan tubuhnya.
" Aku ikut istirahat ya " ucap Dika.
" Ya ampun, ini kamar kamu juga Mas "
" Kamu gak mau temenin aku nih "
" Ini aku temenin kan " Neta masih sibuk dengan kegiatannya.
__ADS_1
" Disini.. " Dika menepuk kasur disebelahnya.
" Hmmm... " Neta memutar bola matanya membuat Dika tertawa geli.