
Komplek Perumahan Nirwana
Setelah shalat Isya Neta menghubungi kembali suaminya namun tidak ada jawaban.
" Kemana sih Mas Dika, biasanya telat-telat juga dia suka bales, apa penangkapan lagi ya.. tapi biasanya dia suka bilang " gumam Neta.
Neta kembali menyimpan ponselnya. Ia duduk di sofa kamarnya, sedikit merebahkan punggungnya, ia sudah bingung memposisikan tubuhnya karena bagaimanapun posisinya sudah tidak nyaman. Sampai akhirnya ia tertidur di sofa kamar nya.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam Neta masih tertidur di sofa kamarnya. Tidak lama terdengar pintu kamarnya dibuka, Dika melihat istrinya tertidur di sofa. Dika bersih-bersih lalu berganti pakaian terlebih dahulu setelah itu ia mendekati istrinya.
Dika tersenyum kecil ia mencium kening istrinya. Lalu Dika menggambil selimut, menyelimuti Neta. Dika melihat ponsel Neta berada tepat di meja dekatnya.
" Sepertinya Neta benar-benar menunggu kabar dari ku, maafkan aku sayang, aku sedikit menjahilimu " batin Dika.
Dika kembali berjalan keluar kamar, sekitar 15 menit lagi tanggal sudah berganti menjadi tanggal kelahiran Neta, Dika bergegas mengambil kue dan buket bunga lalu kado untuk Neta yang masih ia simpan di dalam mobil.
" Semoga kue aman nih, gak meleleh dari tadi siang disimpan di dalam mobil, kalo meleleh Bian yang harus tanggungjawab " gumam Dika.
Dika dengan perlahan membawa kue dan buket untuk Neta ia bawa ke kamarnya, membuka pintu pun secara perlahan-lahan agar Neta tidak terbangun, ia menyimpan buket dan kue di meja dengan sofa.
Dika lalu membuka box kadonya, ia mengambil satu cincin lalu dipakaikan ke jari istrinya.
" Semoga cukup dijarinya, karena Neta kemaren sempet ngeluh kalo sekarang jarinya semakin gemuk " batin Dika.
Satu buah cincin sudah terpasang dijari manis Neta, lalu Dika mengambil kembali satu perhiasan di dalam kotak perhiasan tadi. Ia memasangkan gelang di lengan Neta, sangat perlahan agar Neta tidak bergeming dan terbangun. Dan entah mengapa Neta tidak bergeming sedikitpun, entah karena memang ia kelelahan atau ia baru mendapatkan posisi yang nyaman saat tidur, biasanya Neta setiap satu jam sekali akan bangun untuk mencari posisi tidur yang nyaman.
Tepat pukul 12 malam, Dika kembali mengecup kening istrinya.
__ADS_1
" Selamat ulang tahun istriku sayang.. " ucap Dika perlahan.
Ia tidak tega membangunkan istrinya, ia membiarkan Neta terlelap tidur. Hingga akhirnya Dika pun tidur di sofa tepat di samping istrinya.
...****************...
Terdengar sayup-sayup suara adzan subuh, Neta terbangun, ia merasa sedikit sempit, biasanya ia merasa masih sangat luas. Neta melihat ke arah samping sudah ada suaminya disana. Ia baru tersadar jika mereka berdua tertidur di sofa.
" Ya ampun.. aku tidur di sofa, Mas Dika juga tidur disini pantesan sesek banget, bisa-bisa nya Mas Dika pulang aku gak bangun " gumam Neta.
Neta bangun, seperti biasa ia akan menguncir rambut panjang nya terlebih dahulu, namun ia merasa ada yang berbeda, ia melihat ke arah tangan dan jarinya.
" Hah apaan ini.. cincin ? gelang ? " Neta merasa heran.
Ia melihat kearah suaminya lalu melihat ke arah sekeliling kamar. Terlihat buket bunga mawar pink lalu kue, Neta beranjak dari duduk nya. Mengambil buket bunga itu lalu membaca pesan tulisan di dalam buket bunga yang ia pegang.
" Ya ampun Mas Dika.. " Neta tidak bisa menahan haru ia meneteskan air matanya, ia sendiri pun sedikit lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunnya.
" Padahal aku sempet kesel karena Mas Dika susah dihubungin, tapi sekarang subuh-subuh buta aku dibikin melow sama Mas Dika.. kamu baik banget " batin Neta.
Ia kembali duduk di sofa tepat di samping suaminya yang masih tertidur. Neta mengecup sekilas pipi suaminya, merasa ada yang lain Dika terbangun.
" Sayang.. " Suara Dika khas bangun tidur.
" Mas.. " Pipi Neta yang masih basah karena air matanya.
" Kamu kenapa hey .. " Dika bangun menyalakan lampu terlihat semakin jelas jika Neta sedang menangis.
__ADS_1
" Mas .. makasih yaa.. aku terharu banget kamu inget ulang tahun aku.. "
" Iya sayang.. selamat ulang tahun yaa.. " Dika memeluk istrinya.
" Makasih ya Mas.. " Neta membalas pelukan suaminya.
Neta dan Dika merayakan ulang tahun Neta hanya berdua, selepas shalat subuh, Neta masih penasaran dengan kejutan yang Dika berikan.
" Mas.. kok kamu kepikiran sih, beli-beli ginian, ini kamu sendiri milih buket bunga, kue terus ini ? " tanya Neta, mengangkat tangannya yang terpasang perhiasan.
" Hm... ya emang aku jarang beli-beli ginian, aku pertama kali beli bunga itu setelah aku kembali ketemu kamu, waktu aku sempet salah faham sama kamu yang aku kira kamu ada apa-apa sama Ramon hehehe .. aku kirim buket bunga dan ternyata kamu suka kan ? dari situ aku tahu kalo aku kasih bunga lagi pasti kamu suka, terus kue.. sebenernya buket sama kue ini aku minta tolong Bian buat beliin seharian kemaren aku sibuk banget di kantor, untuk perhiasan juga aku hubungi rekan Ayah yang pengusaha perhiasan, gak lama anak nya mengirimkan pesananku " ucap Dika.
" Hmm.. aku emang suka bunga Mas.. apalagi bunga bank " ucap Neta tertawa.
" Dasarr wanitaa.. " balas Dika tertawa.
" Tapi Mas.. ini kan mahal loh " ucap Neta menunjuk ke jarinya tangannya.
" Gak apa-apa sayang, ini gak seberapa dengan perjuangan kamu jadi istri aku, perjuangan kamu menjadi seorang ibu, kamu rela hamil, gak nyaman kaya gini buat anak-anak kita kan "
" Mass.. aku terharu " balas Neta.
" Aku so sweet kan Yang.. " ucap Dika narsis.
" Iya.. kamu so sweet tapi kadang-kadang, kalo lagi bener " jawab Neta tertawa.
" Kamu yaaa.... ! " Dika menggoda istrinya.
__ADS_1
" Ampuunnnnn !! "