
Dika masih diruangan komandan nya, sesekali ia melihat ke arah arloji di pergelangan tangannya, membuat komandan nya merasa heran melihat Dika sedikit gelisah.
" Kenapa Dik ? " tanya Komandan.
" Siap Dan tidak apa-apa " jawab Dika sedikit kikuk.
" Kamu terlihat gelisah " komandan melihat ke arah jam sudah menunjukkan pukul 20.30 malam.
" Hmm.. sudah malam, apa kamu khawatir terhadap istrimu ? oya.. istrimu sedang hamil kan ? bagaimana ? apa sudah waktunya untuk melahirkan ? " tanya komandan.
" Euhh.. tinggal menunggu waktu Dan " jawab Dika.
" Oke kalau begitu, segera pulang, diskusi kita cukupkan dulu sampai disini " ucap komandan.
" Siap Dan.. terima kasih banyak "
" Oke, hati-hati dijalan Dika "
" Siap Dan " Dika pamit berlalu meninggalkan ruangan komandan nya, ia bergegas menuju parkiran mobil, di dalam mobil ia membuka ponselnya, melihat sudah ada beberapa notifikasi pesan dan panggilan tak terjawab dari Neta dan juga Bian.
" Ya Tuhan.. pasti mereka udah nunggu aku " gumam Dika, langsung memencet tombol dial menelepon balik istrinya.
Setelah menghubungi Neta, Dika melajukan mobilnya menuju restoran dengan kecepatan diatas rata-rata, ia berusaha untuk sampai di restoran secepat mungkin.
Karena sudah agak malam jalanan tidak terlalu padat sehingga hanya sekitar 20 menit saja Dika sudah sampai di restoran yang ia tuju.
...****************...
Dilain tempat Neta dan kedua keluarga sedang menikmati makan malamnya sambil menunggu kedatangan Dika, Neta sudah merasa sedikit tenang karena tadi sekitar 20 menit yang lalu Dika menghubunginya untuk segera menuju restoran.
Saat semua sedang menikmati makan malam sambil bercengkrama, terdengar suara pintu ruangan vip dibuka. Semua mata tertuju pada Dika yang sudah berada di depan pintu.
" Alhamdulillah.. akhirnya yang ditunggu datang juga " ucap Ayah Neta.
Dika langsung menghampiri kedua orangtuanya, kedua mertuanya lalu Neta dan Bian.
" Sibuk Dik ? " tanya Pak Arman.
" Hmm.. begitulah Yah " jawab Dika tersenyum kecil.
" Komandan Dika selalu sibuk Yah " susul Bian.
Dika yang mendengar ucapan Bian menoleh ke arahnya, dengan tatapan khas nya.
" Siap salah Mas " ucap Bian disusul oleh tawa Neta dan kedua orangtuanya.
Kedua orangtuanya hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah anak-anak mereka.
__ADS_1
Dika duduk tepat disamping istrinya.
" Mas mau makan apa ? aku ambilin " ucap Neta.
" Hmm boleh " balas Dika.
Neta mengambilkan nasi dan lauk untuk Dika, mereka kembali bercengkrama, hal yang jarang terjadi karena kesibukan masing-masing anggota keluarga.
Hingga akhirnya, Neta memegangi tangan suaminya, Dika yang merasa aneh dengan genggaman tangan istrinya yang sudah dingin dan sedikit basah.
" Kamu kenapa ? " bisik Dika namun terdengar oleh seluruh keluarga sehingga membuat semua menoleh ke arah Dika dan Neta.
" Mas perutku kencang-kencang " ucap Neta.
" Hah apa ?.. ayo ke rumah sakit " balas Dika langsung panik.
" Kamu sudah kontraksi Nak ? " tanya Ibu Neta menghampiri anaknya.
" Bu.. perutku " ucap Neta.
Semua menghampiri Neta termasuk Bian. Kedua orangtua Neta dan kedua mertuanya sudah bersiap untuk membawa Neta ke rumah sakit.
" Mbak mau melahirkan ? " tanya Bian.
" Apa kamu bisa berdiri ? " tanya Dika.
" Gendong Dika kok malah ditanya sih kasian itu Neta " ucap Ibu Dika.
" Siap Mas aku bantu " ucap Bian menghampiri Neta.
Bian membantu Dika menggendong Neta, Ibu Neta membukakan pintu ruangan, saat keluar ruangan vip restoran, semua tamu yang sedang berada di restoran tertuju kepada Neta yang digendong oleh Dika dan Bian.
" Kenapa ? "
" Itu kenapa ? "
Para tamu restoran bertanya-tanya, namun tidak ada yang menggubrisnya satu pun semua ikut panik karena Neta yang sepertinya sudah akan melahirkan.
Sesampainya di parkiran, Neta masuk kedalam mobil ditemani oleh Ibu dan Ibu mertuanya, sedangkan Bian kembali ke restoran untuk membayar makan malamnya, lalu menyusul Dika bersama Ayah dan Ayah mertua Neta menuju rumah sakit.
...****************...
Dika melajukan kendaraannya dengan kecepatan diatas rata-rata, yang ia pikirkan sekarang bagaimana agar ia cepat sampai rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Dika turun lalu meminta bantuan kepada petugas rumah sakit, Neta di turunkan dari mobil lalu dibawa menggunakan blankar menuju IGD kebidanan.
Neta sudah mulai meringis merasakan kontraksi di perutnya, tidak lama Neta diperiksa oleh dokter yang sedang berjaga.
__ADS_1
" Selamat malam Bu, apa yang sedang ibu rasakan sekarang ? " tanya Dokter.
" Perut saya kontraksi Dok " ucap Neta sedikit meninggikan suaranya karena ia sudah tidak kuat.
" Baik, apakah Ibu pasien dokter Ramzie ? " tanyanya lagi.
" Iya dok, istri saya pasien dokter Ramzie " ucap Dika.
" Tunggu sebentar ya Bu saya akan konsulkan ke Dokter Ramzie terlebih dahulu " Dokter berlalu menuju station perawat.
Dika melihat istrinya menahan kontraksi menjadi sangat kasihan, namun ia bersyukur bisa berada di waktu yang tepat, Dika tidak sedikit pun beranjak dari dekat Neta, Ibu Neta dan Ibu mertuanya pun berada di dekat Neta.
Tidak lama dokter akan kembali menghampiri Neta dan Dika.
" Pak, Ibu Neta akan dipindahkan ke ruangan pemeriksaan terlebih dahulu dan kebetulan Dokter Ramzie baru selesai operasi, jadi Bu Neta sudah bisa langsung ke ruang pemeriksaan " ucap dokter itu.
" Baik dok " balas Dika.
Disaat yang bersamaan perawat yang dibantu oleh petugas membawa Neta untuk dibawa ke ruangan pemeriksaan terlebih dahulu.
Di ruang pemeriksaan Dokter Ramzie sudah menunggu.
" Selamat malam Bu Neta Pak Dika " ucap Dokter Ramzie.
" Malam Dok, Dok tolong bantu istri saya " ucap Dika.
" Baik, Pak.. tenang dulu ya.. saya akan periksa Bu Neta terlebih dahulu " ucap Dokter Ramzie menghampiri Neta.
Dokter Ramzie memeriksa Neta dan benar saja berdasarkan hasil pemeriksaan kontraksi yang dialami Neta bukan kontraksi palsu melainkan kontraksi akan melahirkan.
" Pak Bu, berdasarkan hasil pemeriksaan, Bu Neta akan segera melahirkan, hanya tinggal menunggu kontraksinya lebih sering dan teratur " ucap Dokter Ramzie.
" Iya Dok " Dika manggut-manggut.
" Nanti jika Bu Neta sudah tidak terasa kontraksi nya Bu Neta bisa bangun atau bisa minum dulu makan dulu agar nanti pada saat proses persalinan nya bisa bertenaga ya dan jika mulai kontraksi lagi Bu Neta bisa menarik nafas lalu buang perlahan " ucap Dokter Ramzie lagi.
Neta hanya mengangguk sedikit menahan kontraksi yang masih terasa.
" Pak selalu dampingi Bu Neta ya, kalau begitu saya permisi dulu, setelah ini Bu Neta akan dipindahkan ke ruangan perawatan yang sekaligus ruangan yang bisa dilakukan persalinan " susul Dokter Ramzie.
" Baik Dok Terima kasih " ucap Dika.
Dokter Ramzie berlalu meninggalkan Neta dan Dika juga kedua orangtuanya.
" Nak.. sabar ya.. insyaallah semua Allah permudah dan diberikan kelancaran " ucap Ibu Neta.
Begitupun Ibu mertuanya yang sama-sama memberikan semangat kepada Neta.
__ADS_1
Neta masih berbaring di atas bed pemeriksaan, ia masih merasakan sedikit-sedikit kontraksi didalam perutnya, ia pun sedikit meringis menahan sakit dan tangan Dika lah yang menjadi sasaran cubitan Neta.
Dika tidak bisa melawan, ia pasrah apapun yang Neta lakukan kepadanya, demi kelahiran sang buah hati mereka.