Diam Diam Jatuh Cinta

Diam Diam Jatuh Cinta
BAB 179


__ADS_3

Ceklek pintu samping rumah Dika terbuka, Bian masuk kedalam rumah, di ruang tengah ia melihat Dika sedang memainkan ponsel sambil menonton berita di televisi, Bian tidak melihat Neta disana, mungkin sedang bersama Si Kembar di kamar.


Bian langsung duduk di sofa.


" Mbak Neta kemana Mas ? " tanya Bian.


" Tadi sih mengajak Kembar ke kamarnya, mau diajak tidur kayanya " jawab Dika.


" Hmm.. " Bian mengangguk.


" Oya Mas.. saya pulang ya " ucap Bian.


" Gak nginep aja, besok ke kantor sekalian aja " balas Dika.


" Hmm.. saya gak bawa perlengkapan Mas.. lagipula khawatir Ayah dan Ibu di rumah " ucap Bian.


" Oke kalo gitu, kunci motormu di laci nakas itu ya " Dika menunjuk ke nakas dekat televisi.


" Oke Mas " Bian beranjak dari duduk nya mengambil kunci motornya, ia biasa menyimpan motornya di rumah Dika, jika ia akan pergi ke kantor bersama Dika.


Bian lalu menaiki anak tangga menuju kamar Si Kembar untuk pamit kepada Neta.


Sesampainya di depan pintu kamar Si Kembar Bian mengetuk pintu kamar lalu terdengar suara kakaknya dari balik pintu.


Ceklek.. pintu kamar terbuka.


" Mbak.. " Bian menghampiri.


" Ya.. kenapa ? " tanya Neta sedang menidurkan Nathan.


" Mbak aku pamit pulang ya " ucap Bian pelan khawatir Si Kembar bangun jika mendengar suara nya yang berisik.

__ADS_1


" Gak nginep aja " balas Neta.


" Aku khawatir Ayah dan Ibu di rumah, lagian juga gak bawa perlengkapan " susul Bian.


" Oke deh.. hati-hati ya, titip salam untuk Ayah dan Ibu " ucap Neta.


" Iya Mbak.. aku pulang ya " balas Bian menyodorkan tangan mencium tangan kakaknya.


" Oke hati-hati " susul Neta.


Bian berjalan menuju pintu kamar untuk keluar namun ia kembali membalikkan badan membuat Neta heran.


" Ada apa lagi ? " tanya Neta.


Bian hanya tersenyum mengecup pipi kedua keponakannya.


" Tidur yang nyenyak sayangnya Om.. " ucap Bian membuat Neta pun tersenyum, ia pun tahu jika adiknya memang menyayangi Si Kembar.


" Mas aku pulang ya.. " ucap Bian.


" Oke Ian.. hati-hati.. titip salam untuk Ayah dan Ibu.. " balas Dika.


" Oke siap Mas.. " Bian berjalan keluar menuju pintu samping rumah, Dika pun mengikuti Bian mengantarkannya sampai depan pintu gerbang.


Setelah tidak terlihat dari pandangan Dika kembali masuk kedalam rumah, menutup pintu menguncinya lalu mematikan televisi, ia berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat.


...****************...


Kediaman Orangtua Binar


" Binar.. kalau kakimu masih bengkak, besok kita ke rumah sakit.. jangan dibiarkan kamu kan sekitar satu minggu lagi kembali kuliah " ucap Ibu Binar.

__ADS_1


" Iya Bu " balas Binar.


" Kamu itu ya, baru ibu tinggal sebentar ke luar kota sudah macem-macem " susul Ibu.


" Macem-macem gimana sih Bu, aku kena musibah loh, ada orang baik yang nolong aku, ibu bukannya terima kasih " balas Binar sedikit cemberut.


" Ibu sudah bilang terima kasih ya ke laki-laki tadi " ucap Ibu.


Ayah Binar yang sedang beristirahat di ruang tengah mendengar percakapan antara Ibu dan Anak yang sedikit menegang membuatnya untuk segera menghampiri istri dan anaknya.


" Ada apa sih ini, Bu.. Binar ? " tanya Ayah.


" Ini loh Yah, Ibu.. aku jatuh dari motor, ada orang yang nolongin aku, Ibu malah marah-marah, Ibu kan belum tahu siapa yang nolongin aku " jawab Binar.


" Bukan begitu Yah.. " Belum selesai Ibu berbicara sudah dipotong oleh Ayah.


" Sudah-sudah.. Ayah juga kalau bertemu dengan orangnya akan berterima kasih kepadanya karena sudah menolong kamu, sudahlah Bu yang penting Binar tidak apa-apa, sekarang kamu ke kamar Binar istirahat ayo.. " ucap Ayah.


" Ta.. tapi Yah .. "


" Sudah Binar Ayo masuk kamar " pinta Ayah kepada Binar.


Binar menuruti apa yang dikatakan oleh Ayahnya,ia berjalan menuju kamarnya.


Ia masuk kedalam kamar lalu menyimpan tas nya diatas meja, ia membuka lemari pakaian mengambil piyama, lalu bergegas masuk kekamar mandi untuk berganti pakaian dan mencuci mukanya.


Setelah menyelesaikan aktifitas nya dikamar mandi Binar keluar kamar mandi, ia berjalan menuju kasur lalu merebahkan tubuhnya ke atas kasur, ia masih memikirkan sikap Ibunya tadi kepada Bian.


" Ibu kenapa gak mau denger penjelasan aku dulu sih, Ibu gak tahu kalo Mas Bian adik dari Mbak Neta, padahal Mas Bian orang baik, Mbak Neta, Pak Dika semua orang baik menurut ku " batin Binar.


" Aku tahu Bu, Ibu menginginkan aku selesai kuliah dulu baru boleh dekat dengan laki-laki, tapi apa salahnya jika hanya sebatas kenal dan berteman .. ckkkk... " gumam Binar mengembuskan nafas kasar.

__ADS_1


Binar masih saja memikirkan Bian dan sikap Ibunya tadi, sampai akhirnya ia lupa jika ia sudah berjanji untuk menghubungi Bian setelah tadi Bian meminta nomor ponsel nya.


__ADS_2