Diam Diam Jatuh Cinta

Diam Diam Jatuh Cinta
BAB 141


__ADS_3

Neta, Tio dan Lisa masih di ruangan meeting, Neta masih menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi diperusahaan. Neta meminta rincian keuangan perusahaan, ia memanggil bendahara perusahaan untuk ikut bergabung di ruang meeting.


Tok tok tok


Terdengar suara pintu ruang meeting di ketuk membuat Neta, Tio dan Lisa menoleh ke arah sumber suara.


" Selamat siang " ucap Heri


" Pak Heri, silakan masuk " ucap Neta.


" Terima kasih Bu Neta, permisi Pak Tio, Bu Lisa " balas Heri.


" Gimana Pak ? laporan keuangan beberapa bulan ini ada ? " tanya Neta.


" Ada Bu, ini beberapa file nya " Heri menyodorkan file dalam map berwarna merah.


" Oke.. terima kasih, saya cek dulu ya " ucap Neta.


Ia membuka-buka file pertama membaca satu persatu dengan rinci pengeluaran dan pemasukan perusahaan. Lisa, Tio dan Heri memperhatikan Neta dengan seksama, tanpa ada sepatah kata pun, hanya terdengar suara kertas saat Neta mengganti halaman.


Ia berhenti di salah satu file, disitu tertera pengeluaran perusahaan sekitar 1,2 Milyar atas rujukan Bapak Mahardika Bimantara.


" Pak.. pengeluaran 1,2 Milyar ini untuk apa ? " tanya Neta.


" Hmm coba Bu saya lihat " Heri melihat dengan seksama.


" Ini penjualan barang Bu, disurat perintahnya rujukan dari Pak Dika karena disitu tertera tandatangan Pak Dika " susul Heri.


" Huft... Ya Allah.. " Neta menyenderkan tubuhnya ke senderan kursi.


" Oke Pak Heri terima kasih, silakan kembali ke ruangan, saya pinjam dulu file nya ya " ucap Neta.


" Silakan Bu, memang ini saya buatkan untuk Bu Neta, saya masih punya salinannya " balas Heri.


" Oke " Neta tersenyum dipaksakan.


" Saya permisi " ucap Heri.


Neta hanya mengangguk.


" Nah Pak Tio, pengeluaran 1,2 M Perusahaan, ini kemana ngalirnya ? " Neta sedikit merasa kesal.


Tio dan Lisa hanya sedikit menunduk, ia mengakui kesalahannya, walaupun bukan dia pelaku nya tapi mengapa laporan pengeluaran sebanyak itu, dia bisa tidak sadar dan terlewat dalam pemeriksaaan.


" Pak ini yang ketahuan, coba kalo yang gak ketahuan mungkin kita juga tidak sadar, lama-lama bisa kacau perusahaan kalau seperti ini " ucap Neta lagi.


Tidak ada yang berani berucap disaat Neta menumpahkan kekesalannya. Semua terdiam.


" Saya minta dan mohon sekali lagi, untuk bantuannya, pantau divisi pengadaan barang " ucap Neta.

__ADS_1


" Baik Mbak "


" Baik Bu "


" Oke kalau gitu saya kembali ke ruangan dulu " ucap Neta beranjak dari tempat duduknya berjalan menuju ruangannya.


Tio dan Lisa masih pada posisinya, mereka saling berpandangan.


" Pak Tio gimana ? " tanya Lisa.


" Salah aku Lis, aku lalai menjaga amanah Pak Dika dan Pak Arman " jawab Tio.


" Setelah ini bagaimana ? " tanya Lisa lagi.


" Ya tugas kita cari tahu " balas Tio beranjak dari duduknya.


Lisa hanya mengangguk, mengikuti Tio keluar ruangan meeting.


...****************...


Didalam ruang kerjanya, Neta masih memutar otak siapa yang tega melakukan itu kepada perusahaan, yang Neta tidak habis pikir pelaku begitu apik membuat tanda tangan palsu suaminya, hingga dirinya dan Tio pun terkecoh.


Disaat yang bersamaan Dika menghubungi Istrinya, ia merasa tidak enak hati semenjak Neta memberitahu jika terjadi pengeluaran yang tidak biasanya di perusahaan dan nota pengeluaran nya itu ada tandatangan dirinya.


Dika : " Sayang.. kamu di kantor ? "


Dika : " Bagaimana ? apa sudah ada titik terang ? "


Neta : " Aku masih pantau Mas, oya Mas.. aku minta dipasang cctv yang tidak diketahui oleh karyawan hanya kita aja yang tahu Mas "


Dika : " Oke nanti sore aku akan ke perusahaan, kebetulan hari ini aku bebas dinas hanya saja ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan terlebih dahulu "


Neta : " Oke Mas "


Dika menutup teleponnya, Neta sudah meminta Dika untuk memasang cctv tanpa diketahui oleh karyawannya, cctv itu akan langsung terkoneksi ke ponsel Neta dan Dika seperti cctv yang Dika simpan di kamar si kembar.


Neta menoleh ke arah anak kembarnya yang sedang diajak main oleh Kiki.


Neta tersenyum kecil beranjak dari duduk nya, menghampiri si kembar.


" Sayang anak-anak Mama.. kalian ikut kerja ya hari ini.. maafin Mama ya sayang " ucap Neta.


" Euhhh.. Bu.. kalau seandainya Ibu akan kembali bekerja, tidak masalah kembar di rumah saja bersama saya Bu " ucap Kiki.


" Kamu gak akan repot mengurus dua, biasanya kan di rumah kita gantian " balas Neta.


" Si kembar semakin hari semakin besar bu, Ibu tidak perlu khawatir saya bisa kok Bu " susul Kiki.


" Hmm.. apa saya harus tambah baby sitter lagi untuk bantu kamu Ki ? " ucap Neta.

__ADS_1


Kiki hanya tersenyum, ia tidak menjawab pertanyaan majikannya.


" Bu.. maaf saya lancang, kalau boleh tahu ini perusahaan Ibu ? " tanya Kiki.


" Ini perusahaan Ayah mertua saya, semenjak Ayah mertua saya sakit saya yang menggantikannya disini " jawab Neta


Kiki hanya mengangguk. Neta kembali ke kursi kerjanya, Kiki sedikit melihat kesekeliling ruangan, sangat rapih dan bersih, di dinding tepat di depan meja Neta terpajang foto Neta dan Dika, dan disudut sebelah kiri terpajang foto si kembar disana.


" Bu, dulu saya pernah bermimpi untuk bekerja di kantoran seperti ini loh Bu " ucap Kiki.


" Oh iya kah ? " balas Neta tanpa menoleh ke arah Kiki ia fokus dengan laptop nya.


" Iya Bu, hanya nasib berkata lain, saya hanya tamatan SMP, saya hanya menjadi seorang baby sitter sekarang " ucapnya lagi.


" Hmm.. kamu mau kerja kantoran ? " tanya Neta mengehentikan pekerjaannya.


" Kalau ada kesempatan sih saya mau Bu " ucap Kiki.


" Kamu lanjutkan dulu sekolah SMA nya " balas Neta.


" Tapi Bu, usia saya sudah 25 tahun, apa masih bisa ? " tanya Kiki.


" Bisa, kamu ikut paket C saja " ucap Neta.


Kiki terlihat berbinar, ia memang menginginkan melanjutkan sekolahnya. Tapi ia teringat sekarang ia diamanahi untuk menjaga si kembar oleh Neta.


" Hmm.. tapi Bu.. nanti saja "


" Kenapa ? Kalau kamu mau kamu bisa ikut dari sekarang " susul Neta.


" Nanti saja kalau si kembar sudah besar Bu, sekarang saya kan diamanahi oleh Ibu untuk menjaga Si kembar yang lucu-lucu ini " ucap Kiki.


Neta hanya tersenyum lalu ia mengangguk.


" Hmm.. sejauh ini Kiki memang baik, ia tidak ada sedikit pun membatah ucapku, ia pun memperlakukan si kembar sangat baik, membantuku dengan tidak pernah mengeluh " batin Neta.


" Oya Ki, saya lupa bulan ini apa gaji mu sudah saya berikan ? " tanya Neta.


" Sudah Bu, setiap tanggal 5 kan Ibu langsung memberikan gaji saya " jawab Kiki.


" Masih ada gajimu ? " tanya Neta lagi.


Kiki hanya tersenyum kecil.


" Hmm.. sudah saya kirimkan ke Ibu saya dikampung Bu " ucap Kiki sedikit canggung.


Neta mengangguk, Kiki menceritakan keluarganya di kampung, ia menjadi terharu dan sedikit Iba, ternyata Kiki adalah tulang punggung keluarganya, ia bekerja di ibu kota menjadi pengasuh sejak ia lulus dari SMP.


Sampai akhirnya ia bekerja bersama Neta sekarang sebagai pengasuh Si Kembar.

__ADS_1


__ADS_2