
Brakkk.. Brak.. Brak...
Sreettt.. Srettt.. Srettt...
" Ambil posisi.. segera ambil posisi " Dika mengarahkan anggotanya untuk mulai berpencar.
Mereka semua mengarah pada satu rumah di tengah hutan, yang disinyalir tempat penyekapan para wanita dan anak-anak yang nantinya akan dijual.
" Maju " ucap Dika memberikan kode.
Semua maju perlahan sudah dengan senjata laras panjang yang dipegangnya, Dika pun mulai siap dengan senjatanya. Dalam waktu singkat mereka sudah mengepung rumah itu, ada 2 orang penjaga yang sedang tertidur di depan pintu masuk.
Dika memberikan kode kepada anggota yang lain untuk tetap mengepung rumah itu, sedangkan ia meminta Kevin untuk menemaninya.
" Oke Bro " ucap Kevin.
Srekkk.. srekkk.. srekkkk..
Bugg...
" Jangan bergerak !! " Dika dan Kevin menodongkan senjata kepada kedua penjaga rumah itu.
" Angkat tangan ! " susul Kevin.
" E..ee.. mau apa kalian ? " tanya salah satu penjaga yang terbangun.
" Tolong buka pintu itu ! " ucap Dika.
" Tidak, saya tidak memiliki kuncinya, kami disini hanya menjaga saja " ucapnya.
" Oke.. dobrak saja " ucap Dika lagi, lalu ia memberikan kode kepada anggota untuk mengamankan 2 penjaga itu.
Saat anggota akan mendobrak pintu ruangan, pintu itu dibuka oleh penjaga dari dalam, mereka mendengar ribut-ribut diluar sehingga penasaran dengan apa yang terjadi.
" Angkat tangan dan jangan bergerak !! " ucap Dika lalu masuk kedalam ruangan yang diikuti oleh Kevin dan beberapa anggota lain.
__ADS_1
Saat Dika, Kevin dan anggota lain masuk disana ia melihat hampir sekitar 30 orang wanita dan beberapa orang anak yang disekap. Mereka mulai di bebaskan yang dibantu oleh beberapa anggota sesuai perintah Dika.
Para penjaga sudah dapat dilumpuhkan namun beberapa pelaku otak dari perdagangan manusia ini keluar dari dalam rumah.
" O..oh.. sungguh hebat sekali.. prestasi yang sangat membanggakan " salah satu pelaku datang menghampiri Dika dan Kevin sambil bertepuk tangan.
" Menyerahlah.. ini sudah waktunya " ucap Dika.
" Hahahaha tidak semudah itu, kalian ingin mengagalkan misiku, kalian perlu tahu tugasku untuk mensejahterakan mereka, mereka hidup dibawah garis kemiskinan, makan sekarang besok lusa belum tentu, tidak seperti anda-anda semua, makan enak, tidur nikmat, jika terjadi sesuatu langsung angkat senjata " ucap pelaku.
" Bagaimana pun apa yang kamu lakukan itu melanggar hukum " balas Dika.
" Persetan dengan hukum ! "
" Ayolah, menyerahlah.. lagi pula rumah ini sudah di kepung " ucap Kevin.
Dika dan Kevin masih melakukan negosiasi. Namun para pelaku tetap keukeuh tidak ingin menyerahkan diri bahkan salah satu dari mereka mengeluarkan satu orang wanita muda dan satu anak kecil yang mereka sekap di dalam.
" Pak tolong saya Pak " ucap wanita itu menangis ia ditodongkan senjata tajam di lehernya. Begitupun anak kecil tadi ia terus saja menangis.
" Jangan mendekat, jika coba-coba mendekat 2 orang ini tidak akan selamat " ucap pelaku.
" Pak.. tolong Pak " ucap wanita muda itu.
" Baik.. tolong lepaskan wanita dan anak itu ! " balas Dika.
" Tidak semudah itu ! Jika kamu ingin sanderaan kami dibebaskan, kita harus membuat kesepakatan, bebaskan kami dan anak-anak buah kami, lalu kami akan membebaskan semua sanderaan kami " ucap Pelaku.
Dika dan Kevin saling berpandangan, tidak lama dari belakang ada salah satu pelaku yang terlepas dari pengamanan anggota membawa balok kayu untuk di pukulkan kepada Kevin dan Dika.
Kevin yang melihat dengan sigap memberitahu Dika lalu mereka langsung membalikkan badannya.
" Dik awas.. " Kevin sedikit mendorong Dika sehingga membuat senjata yang Dika pegang jatuh tepat di depan kaki pelaku.
" Shiitttt " ucap Kevin ia merasa bersalah namun ia pun tidak ingin jika Dika dipukul oleh balok kayu yang di pegang pelaku.
__ADS_1
" Hahaha sudahlah Bapak polisi yang terhormat tidak perlu lagi bernegosiasi denganku, senjata mu pun sudah berpindah kepada ku " ucap pelaku mengambil senjata Dika yang tepat jatuh di hadapannya.
Dika sudah mulai geram, bagaimana pun dalam pikirannya misi ini harus berhasil, mereka tidak boleh kalah dengan penjahat seperti ini. Dika akan mencoba kembali mengambil senjatanya namun pelaku menembakkan senjatanya ke arah langit-langit rumah.
" Diam di tempat, tidak perlu sok sok an ya kalian !! " ucap pelaku itu berbalik menodongkan pistol ke arah Dika dan Kevin.
Para anggota yang lain sudah bersiap untuk membantu komandannya, namun Dika memberikan kode untuk tetap diam dulu ditempat karena Dika tidak ingin ada korban baik dari anggota maupun dari sanderaan, jadi Dika lebih memilih jalan untuk bernegosiasi, anggota masih menunggu aba-aba dari Dika walaupun mereka sudah ingin melawan rasanya.
Disaat yang bersamaan anak kecil tadi menggigit tangan pelaku, ia berhasil lari mendekat kearah Dika namun dengan sigap pelaku menembakkan pistolnya ke kaki anak itu, membuat Dika semakin geram dan akhirnya terjadi lah baku hantam, seluruh anggota yang berada di belakang Dika langsung menyerang.
Satu anggota membantu anak itu membawanya ke mobil, sedangkan Dika dan Kevin masih terus berusaha menaklukkan para penjahat itu. Satu orang wanita masih dalam sanderaan mereka, kericuhan tidak dapat dicegah.
...****************...
Dilain tempat Neta masih mencoba menghubungi suaminya. Namun tidak juga diangkat oleh Dika.
" Mas Dika .. kenapa gak ngabarin aku, dia bilang mau ngabarin terus.. ck... " Neta salah tingkah ia tidak bisa duduk dengan tenang.
" Mas angkat dong teleponnya Mas " Neta masih mencoba menghubungi suaminya.
Tuuutttt... Tuttt.... telepon yang ada tuju tidak dapat menerima .......
" Mas Dikaaaa....... " gumam Neta kesal.
Neta terus menghubungi Dika namun tidak ada jawaban, pesan pun beberapa kali ia kirim.
Neta merebahkan tubuhnya diatas kasur menatap langit-langit kamarnya.
" Kenapa aku sekhawatir ini.. selamatkan suamiku Ya Allah " tidak terasa bulir bening membasahi pipinya, ia segera menyeka kasar pipinya.
" Aku jangan berpikiran yang tidak-tidak Mas Dika pasti baik-baik saja " batin Neta.
Ia masih tetap mencoba menghubungi suaminya, ia hanya ingin kabar dari suaminya saat ini, Neta masih terus mondar mandir dikamarnya, hingga larut malam belum ada kabar apapun dari suaminya semakin membuat Neta menjadi khawatir.
" Mas ini sudah jam 1 malem loh Mas.. kamu kemana ? kamu sehat kan ? kamu aman kan Mas ? kamu udah makan kan ? aku khawatir loh sama kamu, katanya kamu mau ngabarin aku terus, aku nunggu kamu Mas.. !! " Neta masih saja berbicara sendiri ke hadapan ponsel yang ia pegang, ia berharap Dika segera membaca pesannya.
__ADS_1
Neta pun tidak bisa tidur malam ini karena ia masih menunggu kabar dari suaminya, padahal besok pagi ia rencananya akan kembali bekerja ke perusahaan.