
Hari demi hari berlalu, Binar dan Bian semakin dekat setelah Bian mengantarkan Binar ke stasiun semenjak itu pula komunikasi mereka semakin sering tidak pernah sekalipun mereka meninggalkan untuk bertukar pesan sekedar menanyakan kabar atau kegiatan yang mereka jalani.
Neta pun sudah kembali dengan aktifitas nya di perusahaan, ia sudah merasa tenang meninggalkan si kembar di rumah bersama Sasa, dalam beberapa minggu ini Neta selalu memantau Sasa dalam cara pengasuhan kepada Si Kembar, ternyata Sasa cukup telaten dalam mengurus Si Kembar.
Pagi ini Neta seperti biasa akan berangkat ke perusahaan, Dika suaminya sudah berangkat ke kantor setelah shalat subuh tadi, karena ia akan mengikuti seminar yang dilaksanakan diluar kota mewakili komandan nya.
" Sa.. Sasa.. " Neta mencari-cari pengasuh anak nya.
Ia berjalan menuju pintu belakang rumah melalui dapur, ia hanya melihat Mbok Sum sedang mencuci piring dan terdengar mesin cuci menyala.
" Mbok.. lihat Sasa ? " tanya Neta.
" Eh Mbak Neta, mhh.. biasanya jam segini sudah dikamar si kembar Mbak " jawab Mbok Sum.
" Nah itu dia Mbok, Si kembar masih tidur, tapi Sasa gak ada " susul Neta.
" Kalau begitu, coba dikamarnya Mbak " ucap Mbok Sum.
" Oh iya betul juga, saya kesana deh " Neta berjalan meninggalkan Mbok Sum menuju kamar Sasa.
" Sa..Sasa.. " Neta mengetuk pintu kamar Sasa namun tidak ada jawaban, akhirnya Neta membuka kamar Sasa, tidak ada Sasa disana.
" Ck.. kemana sih ? " Neta bergumam, saat Neta akan kembali menutup pintu, pandangan nya tertuju pada salah satu benda di meja rias Sasa.
Neta berjalan masuk menuju meja rias yang berada di sudut kamar, ia memperhatikan skin care, parfum dan beberapa body care lainnya yang tersusun rapi di meja rias.
" Ya ampun.. ini parfum mahal, pantesan masuk kamar ini wangi banget, aku aja mikir dua kali buat beli parfum ini, Sasa kok bisa punya ya.. kalau pun dia nabung, bisa berapa belas tahun dia harus kerja, apalagi gaji pengasuh kan ya segitu.. " gumam Neta, lalu ia menyimpan kembali parfum ke tempatnya.
Neta terus memperhatikan semua skincare yang dimiliki oleh Sasa.
__ADS_1
" Aku harus cari tahu siapa Sasa sebenarnya, pasti dia bukan orang sembarangan " lalu Neta berjalan kembali ke gantungan baju ia melihat merek baju Sasa yang tergantung.
" Brand mahal dan terkenal .. bener-bener aku harus cari tahu " Gumam Neta.
...****************...
Disudut rumah Neta.
Sasa : " Iya Mah "
Bu Santi : " Kamu dimana Sa.. Mama cari-cari kamu, Mama bolak balik ke apartemen kamu, tapi kamu gak ada disana, sekarang Mama minta kamu pulang Nak, tolong kirim alamat kamu, Mama dan Kak Inggit jemput kamu ya "
Sasa : " Mah.. tenang ya, aku gak apa-apa kok, aku sekarang diluar kota Mah.. orang suruhan Papa masih selalu menerorku mereka masih selalu menguntitku bahkan di apartemen, maka dari itu aku sedikit menjauh dulu, bukan untuk menjauh dari Mama tapi aku lebih baik seperti ini dulu "
Bu Santi : " Sayang mau sampai kapan kamu kabur-kaburan seperti ini ? "
Sasa : " Sampai Papa berhenti untuk menjodohkanku dengan anak rekan bisnis nya "
Sasa : " Mhh.. tapi Sasa belum yakin Mah.. biarkan Sasa seperti ini dulu "
Bu Santi : " Bagaimana hidup kamu disana ? Semua fasilitas sudah Papa cabut kan, bahkan kartu kredit dan debet mu sudah Papa blokir "
Sasa : " tenang saja Ma, aku masih punya tabungan dan sekarang akupun bekerja "
Bu Santi : " Kamu bekerja apa ? jangan bekerja macam-macam Nak ibu mohon "
Sasa : " Maksud Mama.. insyaallah ini pekerjaan aku halal Mah.. Ma udah dulu ya nanti bos ku marah nih aku kerja dulu ya.. salam untuk Kak Inggit "
Bu Santi : " Iya sayang.. kamu jaga diri baik-baik "
__ADS_1
Klik telepon ditutup.
Sasa menghela nafas panjang, sebetulnya ia sangat rindu kepada Ibunya hanya karena permasalahan ia tidak ingin dijodohkan oleh Ayahnya, ia menjadi kabur-kaburan seperti ini.
Flashback On
" Nggak Pa.. pokonya nggak ! " Sasa sedikit berteriak lalu berdiri dari duduknya.
" Sasa.. jangan lancang kamu kepada orangtua ! " ucap Pak Gabor, Ayah Sasa.
" Pah.. Sasa mohon batalkan perjodohan ini, Sasa menolak Sasa tidak ingin di jodohkan ! " balas Sasa.
" Apa salahnya, ini anak rekan bisnis Papa.. dia juga sudah memiliki perusahaan, tidak khawatir jika kamu menikah dengan dia " susul Pak Gabor.
" Tetep nggak mau ! " Sasa berlari ke kamar meninggalkan Ayah dan Ibunya.
" Sa.. Sasa.. " Panggil Bu Santi namun tidak Sasa gubris.
Flashback off
Sasa sekilas membayangkan kejadian sebelum ia nekat untuk kabur dari rumah. Ia teringat meninggalkan Si Kembar di kamarnya, saat mereka masih tertidur tadi.
" Ya ampun kembar, Bu Neta pasti nyari-nyari nih " Sasa langsung bergegas untuk melihat Si Kembar namun sebelumnya ia akan menyimpan dulu ponsel mahalnya di kamar, khawatir Neta curiga kepadanya.
Saat Sasa sudah sampai di depan pintu kamar Neta pun keluar dari kamar Sasa mereka berdua berpapasan dan saling kaget.
" Astagfirullah Sa.. "
" Astagfirullah Bu.. "
__ADS_1
Sasa dan Neta berpandangan.