
Hari demi hari berlalu, Dika sudah kembali dengan aktifitas pekerjaan nya, sedangkan Neta sudah tidak diperbolehkan untuk bekerja ke perusahaan oleh Dika, karena semakin hari perut Neta semakin membesar, membuat ia sedikit kepayahan.
Neta sedang duduk di sofa kamarnya, memperhatikan suaminya yang sedang bersiap-siap untuk kembali bekerja. Dika sedang menggunakan kemeja nya mengancingkan lengan bajunya, sesekali melihat ke arah istrinya.
" Kenapa ngeliatin ? " tanya Dika.
" Dihh GR .. " jawab Neta.
Dika hanya tersenyum sekilas, menyemprotkan parfum ke tubuhnya lalu berjalan, duduk tepat di samping istrinya.
" Aku berangkat ya " ucap Dika.
Neta mengendus-endus baju suaminya.
" Wangi banget " balas Neta.
" Ya kan kamu tahu aku pake parfum barusan " jawab Dika.
" Biasanya gak sewangi ini " ucap Neta lagi.
" Ya Allah.. biasanya emang aku gimana Yang.. " balas Dika.
Neta hanya menggelengkan kepalanya sedikit menekukkan wajahnya.
Dika memperhatikan wajah istrinya.
" Mas.. aku kan udah gak boleh ke perusahaan nih, kamu di rumah dong sehari lagi aja " ucap Neta memelas.
Dika hanya tertawa renyah.
" Aku kan udah beberapa hari di rumah, pekerjaan ku pasti udah numpuk di kantor " balas Dika.
" Hmm.. " kembali menekukkan wajahnya.
" Jangan gitu dong sayang.. " Dika kepada Neta.
__ADS_1
Neta hanya terdiam, Dika langsung memeluk tubuh istrinya, lalu Neta membalas pelukan itu, entah mengapa hanya pelukan Dika saat ini yang membuat Neta tenang dan nyaman.
Neta merasa sangat berat jika Dika kembali bekerja, bukan tanpa alasan, kejadian demi kejadian yang menimpa Dika membuat Neta sedikit trauma, walaupun ia sudah menyadari jika itu memang pekerjaan suaminya.
Disaat yang bersamaan dering telepon dari ponsel Dika terdengar, Dika langsung melepaskan pelukannya untuk mengambil ponselnya yang ada di atas nakas.
" Sayang.. sebentar ya.. aku angkat telepon dulu " ucap Dika seraya bangun dari duduknya.
Neta hanya mengangguk sekilas, ia memperhatikan suaminya mengangkat telepon.
Dika : " Ya Bang.. "
Kantor : " hdhdzzmdjudndh$&$:&$ "
Dika : " Siap Bang "
Kantor : " vzghh_#_&$-@- "
Dika : " Siap Bang kalau begitu kita kembali lakukan pengejaran "
" Sayang.. aku berangkat ya " ucap Dika.
" Mas.. kamu mau penangkapan lagi ? " tanya Neta.
Dika hanya tersenyum.
" Mas jawab ! " ucap Neta.
" Belum pasti sayang " balas Dika.
" Itu tadi kamu telepon nya " susul Neta.
" Iya, itu maksudnya orang kantor konsultasi dulu, ada yang yang melapor karena rumahnya di bobol maling, dari sketsa wajahnya dan lain sebagainya maling nya sudah diketahui keberadaannya, ya kalo sudah diketahui tugas kita menangkap pencuri itu kan ? " Dika menjelaskan.
" Iya.. tapi Mas.. "
__ADS_1
" Sayang.. tenang ya.. jangan berpikir yang macem-macem oke.. justru dengan kamu seperti ini, aku yang khawatir sama kamu, khawatir sama anak-anak kita yang ada dikandungan kamu " ucap Dika.
" Kamu gak pernah ngerti perasaan aku ! kamu kerja gak tau waktu, disaat ada berita tentangmu yang membuat aku menjadi stress ! " ucap Neta berjalan menuju balkon kamar, ia duduk di kursi balkon sedikit merasakan tegang pada perutnya.
Dika yang melihat sikap Neta tidak seperti biasanya, menjadi heran sendiri, tapi ia pun harus berhati-hati dalam berucap kepada Neta, karena Neta sedang hamil mood nya sangat berubah-ubah, jika salah berbicara saja bisa membuat Neta Badmood yang sangat lama.
Dika langsung menghampiri istrinya yang sedang duduk di balkon, mengelus-elus perutnya dan terlihat sedang mengatur nafasnya.
" Sayang.. kamu kenapa ? apa yang kamu rasain ? " ucap Dika sedikit panik.
Neta tidak menggubris nya, Dika memegang perut istrinya, terasa sedikit tegang tidak seperti biasanya, Dika bingung ia harus bagaimana disaat seperti ini Neta tidak akan bisa berbicara dengan santai, ia tahu sifat dan karakter istrinya ditambah mood ibu hamil yang berubah-ubah.
Dika menghela nafas dalam, ia mencoba untuk berbicara baik-baik kepada istrinya. Dika duduk tepat di samping istrinya, meraih tangan Neta untuk ia genggam.
" Sayang.. aku ngerti perasaan kamu, aku tahu itu, yang aku butuhin sekarang support, dukungan dan doa dari kamu Yang.. " ucap Dika lembut.
Neta tetap terdiam menyimak apa yang suaminya ucapkan.
" Tolong sayang.. jangan seperti ini, ini bukan Neta istriku yang aku kenal, Neta istriku dia sangat mengerti akan pekerjaanku " ucap Dika lagi.
Neta menatap wajah suaminya, ia pun merasa iba, benar apa yang dikatakan suaminya, hanya dukungan dan doa yang ia butuhkan sekarang, bukankan saat menikah dulu ia sudah diberitahu jika menjadi seorang istri abdi negara itu seperti apa, beberapa kemungkinan bisa saja terjadi bukan ?
Neta langsung memeluk tubuh suaminya.
" Maafin aku " ucap Neta lirih.
" Aku yang harus nya minta maaf, aku tahu di saat-saat seperti ini, aku seharusnya selalu ada disamping kamu, menemani kamu, menikmati perjalan kehamilan kamu, maafin aku ya sayang " Dika membalas pelukan istrinya lalu mencium kening istrinya.
Disaat yang bersamaan terasa tendangan dari dalam perut Neta membuat ia melepaskan pelukannya.
" aduh " ucap Neta.
" Kenapa ? " tanya Dika.
" Anak kamu nendang " jawab Neta tertawa kecil disusul oleh tawa Dika.
__ADS_1