
Neta, Dika kedua orangtuanya juga Bian sedang makan bersama. Makanan yang telah ia beli tadi dari restoran langganan perusahaan nya.
" Net.. kamu masak semua ini ? " tanya Ibu.
" Hmm.. nggak Bu, aku tadi beli " jawab Neta.
" Hemm Ibu kira, kamu masak nya kapan sedangkan tadi Ibu telepon kamu masih di kantor kan ? " ucap Ibu seraya tersenyum.
" Iya Bu, tadi Nika langsung pesan makanannya, sesaat setelah Ibu telepon " balas Nika.
" Padahal tidak usah repot-repot Nik, kita tahu kesibukan kamu, kesibukan Dika, kami hanya kangen kalian dan Si kembar " susul Ayah.
" Hmm.. tidak apa-apa Yah, justru kami ingin sekali menjamu Ayah dan Ibu " ucap Dika.
Ayah dan Ibu hanya tersenyum mendengar ucapan anak dan menantunya.
Bian yang sedari tadi asyik menikmati makannya, ia teringat dengan gadis muda yang sebelah rumah tadi, ia berniat menanyakan kepada Neta.
" Mbak.. " ucap Bian.
" Hmm.. " Neta mendongkakan wajahnya ke arah Bian.
" Mmh.. itu tadi waktu aku mau masuk ke rumah, ada cewek di sebelah rumah Mbak, itu siapa ya ? " tanya Bian memberanikan diri.
Dika dan kedua orangtuanya langsung melihat ke arah Bian.
" Cewek ? " tanya Neta.
" Iya cewek, aku baru liat setiap beberapa kali kesini gak pernah aku liat ada orang di rumah itu " jawab Bian.
" Hmm.. itu " Dika menimpali.
Neta langsung melihat ke arah suaminya.
" Itu siapa ? " Bian berbinar.
" Dia anak yang punya rumah Ian " ucap Dika datar.
" Yang mana sih Mas ? " tanya Neta.
__ADS_1
" Itu Yang.. kamu inget gak waktu dikasih oleh-oleh dari Yogyakarta, nah anak ibu itu " jawab Dika.
" Oh.. " Neta kembali melanjutkan makan nya.
" Hmm.. masih sekolah Mas ? " Bian terus saja bertanya-tanya sedangkan Neta sedikit mulai tidak tertarik membahasnya.
" Masih kuliah kalo gak salah, saya juga jarang ketemu sih Ian kayanya memang kuliah nya gak disini " ucap Dika.
" Hmm.. pantesan aku jarang liat kalo kesini, tau gitu tadi aku sekalian kenalan aja ya " balas Bian.
" Nah itu masalahnya " susul Dika sambil tertawa kecil.
Neta melirik ke arah suaminya, Dika langsung berubah kembali fokus pada makanan nya.
Ayah dan Ibu hanya memperhatikan anak dan menantunya berbincang.
" Mbak.. Mbak kenapa sih gak bilang ke aku, kalo di rumah sebelah ada cewek " ucap Bian.
" Hmmm.. gak penting " balas Neta.
" Yah.. Mbak kok gitu, aku bukan anak SMP lagi yang kalo nanya-nanyain cewek Mbak suka marah ke aku, sekolah dulu yang bener, dapet kerja dulu yang bener, Mbak pasti gitu kan ngomongnya, nah sekarang aku kan udah kerja nih, kenalin dong Mbak " ucap Bian menggoda Neta.
" Iya nanti kalo Mbak inget " balas Neta.
Neta langsung membelalakkan matanya ke arah Bian lalu Dika.
" Ng..ngak.. nggak.. iya nanti aku yang bantuin gak usah Mas Dika " ucap Neta disusul tawa kedua orangtuanya, juga Bian dan Dika.
Dika hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Neta.
" Nah gitu dong Mbak.. aku tunggu loh Mbak.. ya.. ya... " Bian dengan gaya jahilnya.
" Hmm.. " Neta kembali menyuapkan nasi ke mulutnya.
Mereka kembali menyelesaikan makan nya, sambil bercengkrama dengan kedua orangtua Neta, seperti biasa Bian selalu menggoda kakak nya.
" Mhh.. Mas kata nya kemaren ada yang merajuk ya.. ? " ucap Bian.
" Hemm... mmm... " Dika tersenyum menggoda Neta.
__ADS_1
Neta menatap Dika dan Bian. Bian yang tahu kakak nya mulai kesal, pura-pura kembali fokus dengan makanan di piring nya. Bian tahu jika Neta merajuk karena ia melihat mobil Dika menurunkan seorang wanita muda di halte tempo hari. Dika memberitahu Bian, jika sewaktu-waktu Neta menanyakan hal itu kepada Bian.
" Bian.. jangan goda terus kakak kamu, ayo habis kan makan nya " ucap Ibu.
" Iya Bu " Bian kembali menyuapkan nasi ke mulutnya.
" Begitulah Nak Dika, Neta sama Bian itu ya begitu " ucap Ayah.
" Tidak apa-apa Yah justru saya menginginkan mempunyai saudara kandung, tapi ya.. ternyata saya di takdirkan menjadi anak tunggal, jadi ya saya beruntung menikahi Neta jadi saya punya adik " ucap Dika.
Ayah dan Ibu hanya tersenyum mendengar ucapan menantu laki-laki nya.
Mereka menyelesaikan makannya, Neta yang dibantu Ibu merapikan meja makan, membawa piring dan gelas bekas makan mereka.
Ayah kembali ke ruang tengah untuk bermain bersama cucu-cucunya, Neta mencegah Ibu yang sudah mengambil piring untuk di cuci.
" Bu, gak usah.. ada Mbok Sum " ucap Neta.
" Gak apa-apa Net "
" Udah Bu gak usah, di rumah juga kan Ibu dibantu Bi Lilis " ucap Neta lagi.
" Iya deh " Ibu tersenyum kembali menyimpan piring yang akan ia cuci lalu mencuci tangannya.
Ibu kembali berjalan menghampiri Ayah yang sedang bermain bersama Nala dan Nathan. Sedangkan Dika dan Bian duduk tidak jauh dari Ayah dan Ibu, Neta menghampiri Bian dan Dika lalu duduk tepat di sebelah Bian.
Saat Neta baru saja duduk, Bian langsung menepuk pundak kakaknya.
" Mbak... ! "
" Hmm.. apa ? " tanya Neta.
" Mbak, aku pastiin Mas Dika gak akan macem-macem dia suami yang baik banget.. dimana-mana dia selalu inget sama Mbak, apa-apa yang dipikirin nya pasti Mbak sama Si Kembar, jadi gak mungkin lah Mas Dika bawa-bawa cewek lain apalagi pake mobilnya " ucap Bian hiperbola.
" Hmm... bohong banget ! " balas Neta.
" Yah... dibilangin gak percaya " susul Bian.
" Punya suami sama Adek sama aja ! " Neta beranjak dari duduknya menghampiri kedua orangtuanya yang sedang bermain bersama Si Kembar.
__ADS_1
Bian yang melihat sikap kakak nya menjadi tertawa sendiri, Dika pun hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.
" Udah Ian gak usah digoda terus kakak kamu, nanti Mas gak dapat jatah " Dika tertawa disusul oleh tawa dari Bian.