Diam Diam Jatuh Cinta

Diam Diam Jatuh Cinta
BAB 192


__ADS_3

Sasa masih melihat Neta merapikan mainan si kembar, setelah kembali melihat si kembar yang sudah tertidur lelap, Sasa mendekati Neta, ia merasa tidak enak juga jika Neta merapikan mainan si kembar sendiri, bagaimana pun ia disini bekerja untuk Neta.


" Bu saya bantu " ucap Sasa.


Neta menoleh hanya tersenyum. Ini kesempatan Neta untuk bertanya kepada Sasa pikirnya.


" Sa, kamu dirumah tinggal dengan siapa ? " tanya Neta memulai pembicaraan.


" Saya Bu, saya tinggal dengan orangtua saya Bu " jawab Sasa.


" Hmmm.. " Neta mengangguk kembali fokus pada mainan si kembar.


" Aduh semoga pertanyaan Bu Neta gak aneh-aneh, Ya Allah jangan sampe keceplosan " batin Sasa.


" Oya, kamu berapa bersaudara ? " tanya Neta lagi.


" Saya anak kedua dari dua Bu " jawab Sasa.


" Hmm.. jadi kamu punya kakak ? " tanya Neta.


" I..iya Bu, tapi dia sudah menikah, sudah memiliki anak juga, melihat Nathan mengingatkan saya dengan keponakan saya Bu " jawab Sasa berbicara mengalir tanpa ia sadari, Neta sudah dapat membaca dari setiap jawaban Sasa, jawaban yang tertata dan mengalir tanpa bohong.


" Jadi kamu biasa mengasuh keponakan mu ? " tanya Neta lagi.


" Iya Bu, saya biasa, karena keponakan saya selalu menunggu saya jika saya pulang kuliah dulu.. " Sasa langsung membelalakan matanya, ia mengatakan kata kuliah lalu ia menutup mulut dengan kedua tangan nya.


Neta menoleh ke arah Sasa dan hanya tersenyum.


" Kenapa ? Sini yuk.. ada yang mau saya bicarain sama kamu " Neta mengajak Sasa duduk di sofa kamar.


" Eu..ee.. i..iya Bu " Sasa semakin tidak karuan, ia merasa mengapa ia tidak bisa mengontrol ucapan nya.


" Duh Sasa.. keceplosan Kan.. matilah aku.. apa yang mau dibicarain sama Bu Neta " batin Sasa.


Neta duduk di sofa disusul oleh Sasa duduk di bawah nya.


" Hey.. duduk disini, sebelah saya " ucap Neta menarik tangan Sasa.

__ADS_1


Sasa mengikuti perintah Neta, namun dengan perasaan campur aduk.


" Sini dong duduk, biasanya juga kamu duduk sebelah saya, biasa nya kamu suka cerewet deh Sa, nyeritain si kembar tapi kenapa sekarang kok kaya banyak pikiran gitu " ucap Neta ia mencoba untuk memberi waktu kepada Sasa, apakah Sasa akan jujur kepadanya atau tetap pada pendiriannya sebelum Neta bertanya langsung perihal latar belakang Sasa.


" Euuh.. nggak kok Bu, saya gak apa-apa, perasaan ibu aja " ucap Sasa.


" Hmm.. yaa.. mungkin ini perasaan saya aja ya Sa, soalnya perasaan saya mengatakan kalo kamu itu sebetulnya sedang berbohong ke saya " balas Neta.


" Maksud Ibu ? " Sasa mendongak kan wajahnya.


" Sa.. sepintar-pintarnya kamu menutupi jati diri kamu, pasti akan ketahuan juga, dari awal saya sudah curiga sama kamu, tapi saya juga menepis anggapan saya ke kamu, seolah ini baik-baik aja, tapi pada kenyataannya ini tidak baik-baik saja Sa, Saya harap kamu jujur ya Sa, demi kebaikan kita loh.. anak-anak sudah sangat dekat dengan kamu, saya gak mau kalau tiba-tiba kamu meninggalkan kami " ucap Neta membuat Sasa berpikir.


Sasa terdiam cukup lama, mencerna ucapan Neta. Neta pun dengan sabar menunggu Sasa berbicara jujur kepadanya.


Sasa menghela nafas panjang, akhirnya ia mau berbicara yang sebenarnya kepada Neta.


" Bu, sebelumnya saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Ibu dan keluarga, Ibu sudah sangat baik kepada Saya, mungkin apa yang ibu pikirkan tentang saya itu benar adanya Bu " Sasa mulai menerawang jauh ia menceritakan awal mula ia bisa melamar ke agen penyalur pengasuh.


Neta memperhatikan apa yang dibicarakan oleh Sasa.


" Sa.. mau kemana kamu Sa ? " tanya Ibu Sasa.


" Ma, lebih baik aku pergi dulu dari sini Bu, insyaallah aku akan baik-baik saja " jawab Sasa mengambil koper berisi baju dan perlengkapan nya.


" Sa.. Sasa.. " Ibu Sasa sedikit berteriak.


" Biarkan dia pergi Ma ! Anak tidak tahu diuntung, sudah bagus dia akan dinikahkan dengan anak rekan bisnis Papa, dia malah menolak dan memilih pergi dari rumah, biarkan saja semua fasilitas untuknya akan Papa cabut, Papa ingin tahu sampai kapan ia akan bertahan ! " ucap Pak Gabor Ayah Sasa.


" Tapi Pa, kemana Papa memaksa, biarkan anak kita memiliki pilihannya sendiri, Sasa belum selesai kuliah Pah " balas Ibu Sasa.


" Hanya tinggal menyusun skripsi kan ? tidak masalah ! " susul pak Gabor.


Sasa berlalu pergi meninggalkan kedua orangtuanya yang sedang adu mulut mempertahankan argumentasi masing-masing.


Sasa yang sebelumnya telah memesan taksi online langsung pergi menuju stasiun kereta, ia tidak tahu akan kemana, sesampainya di stasiun kereta Sasa berniat untuk mengambil uangnya di dalam mesin atm, namun ternyata semua kartu debet dan kredit nya tidak dapat digunakan, sudah di blokir oleh Ayahnya.


Sasa sudah tidak bisa kembali ke apartemen miliknya karena ia pasti akan terus di teror oleh Ayahnya begitupun jika ia ikut menginap di rumah teman-teman nya, Ayah nya akan terus mengerahkan seluruh orang suruhan nya untuk meneror Sasa agar Sasa kembali pulang dan menerima perjodohan.

__ADS_1


Ia melihat isi dompet nya hanya tersisa 5 lembar uang berwarna merah, namun dengan tekad dan keyakinan ia langsung membeli tiket kereta hari itu juga untuk pergi keluar kota.


Sesampainya di kota tujuan Sasa berjalan menyusuri pinggiran kota sampai akhirnya ia berhenti di salah satu rumah yang bertuliskan Agen Penyalur Baby Sitter.


Flashback off


Neta masih terus menyimak apa yang di ceritakan oleh Sasa, Neta memaklumi dan mengerti apa yang di rasakan oleh Sasa saat ini.


" Hmm.. begitu ceritanya, tapi Sa.. tidak ada pembenaran atas apa yang kamu lakukan, kasian Kedua orang tua kamu Sa " ucap Neta.


" Saya sangat merindukan Mama saya Bu " Sasa menjatuhkan air matanya.


Neta dengan sigap langsung memeluk Sasa.


" Ya.. jadi sekarang bagaimana ? saya juga tidak ingin mempekerjakan seseorang yang sebetulnya dia tidak menginginkan pekerjaan ini Sa " ucap Neta.


" Bu, tolong bantu saya Bu, saya masih belum percaya dengan apa yang sudah Mama bicarakan tentang Papa, saya mohon untuk saya tetap disini Bu, tolong saya.. " Sasa memohon.


Neta menghela nafas panjang sedikit memijat-mijat pelipis nya.


" Ayah mu memiliki perusahaan ? apa namanya ? " tanya Neta.


" Perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan Ibu " jawab Sasa.


Degggg....


" Golden Global Company ? " tanya Neta lagi.


" I...iyaa Bu " jawab Sasa.


" Ya Tuhan... " Neta menutup wajah dengan kedua tangannya.


" Bu, saya sudah jujur tentang jati diri saya, saya mohon Bu, untuk tetap disini dulu dan jangan ibu katakan saya ada bersama Ibu kepada Papa saya nantinya jika perusahaan Ibu dan perusahaan Papa saya bekerja sama " ucap Sasa.


Neta kembali melihat wajah Sasa, ia pun merasa iba kepada Sasa namun apa ini tidak akan menjadi masalah kedepannya.


" Sa.. saya diskusikan dulu dengan suami saya ya, semoga suami saya punya solusi terbaik untuk kita, udah sekarang kamu istirahat saya juga akan istirahat, kamu tenang aja jangan banyak pikiran " ucap Neta berlalu meninggalkan Sasa di kamar si kembar.

__ADS_1


__ADS_2