Diam Diam Jatuh Cinta

Diam Diam Jatuh Cinta
BAB 62


__ADS_3

Perusahaan MGM Grup


" Pokonya kalo nanti kita dapet cuti, destinasi wisata lokal yang harus masuk list sih Labuan Bajo dan Raja Ampat itu menurut aku " Neta kepada ketiga sahabatnya.


" Kapan dong kapan yaa.. next kita anggarkan untuk liburan " ucap Indri.


" Kita sih oke Ndri, gimana bu bos ? " balas Ramon.


" Jangan aku.. sumpah gak berani kalo harus minta ijin nya " Indri angkat tangan, ia dan Ramon melirik ke arah Sofia.


" Oh tentu tidak.. jangan aku juga " Sofia duduk di tempatnya.


Neta memerhatikan tingkah sahabatnya hanya bisa tertawa.


" Hmm.. nanti aku minta ijin, itupun kalo di ijinin hehehe " ucap Neta.


" Eh sebentar ada pesan masuk, aku liat dulu " Neta membuka ponselnya.


Kerja.. jangan ngerumpi aja sayang


" Hah.. " Neta langsung menyimpan ponselnya diatas meja, ia langsung melihat ke langit-langit ruangannya membuat ketiga sahabatnya kaget dan heran.


" Kenapa ? "


" Ada apa Net ? "


Indri, Ramon dan Sofia mendekati Neta kembali, Indri penasaran ia melihat ponsel Neta yang masih menyala lalu membaca isi pesannya.


" Ya ampun.. Nah loh " Indri langsung buru-buru di kursi kerjanya ia mulai fokus pada komputer.


Ramon dan Sofia pun kaget membaca pesan di ponsel Neta, mereka berdua pun kembali duduk di kursi kerjanya.


" Jadi selama ini, kita di pantau Pak Dika ? " ucap Ramon.


" Iya bener.. dia tau dong daritadi kita ngerumpi aja " balas Indri.


" Kok aku baru tahu kalo cctv di ruangan ini bisa connect ke Pak Dika ? " susul Neta.


" Kamu istrinya aja baru tahu apalagi kita dan aku pikir cuma di ruangan Pak Tio aja " ucap Indri lagi.


" Udah-udah ayo kerja .. jangan sampe kita diintipin lagi sama Pak Dika kalo kita lagi ngerumpi di jam kerja hehehe " ucap Sofia.


...****************...


Ruangan Presdir MGM Grup


" Bagaimana Io menurut kamu ? apakah Neta kita pindahkan saja ke bagian Audit Internal perusahaan ? " tanya Pak Arman kepada Tio.


" Kalau saya bagaimana baik nya saja Pak, kelangsungan karyawan disini juga bergantung kepada hak prerogatif dari pemilik perusahaan itu sendiri " ucap Tio.


" Hmmm.. Ya.. "


" Bagaimana dengan Mas Dika ? Apa dia menyetujui Pak ? " tanya Tio.


" Saya belum memastikan lagi, tapi.. Dika sih pasti setuju saja" jawab Pak Arman


" Hmm ya Pak, untuk Mbak Neta sendiri bagaimana ? " tanya Tio lagi.

__ADS_1


" Saya belum berbicara lagi, mungkin nanti saya akan coba komunikasi kan dulu dengan suaminya " ucap Pak Arman.


Tidak lama ponsel Tio berdering. Resepsionis menelepon nya.


Anisa : Siang Pak Tio, maaf ada pimpinan perusahaan Sandyakala Corp disini apakah Pak Arman ada di tempat ? "


Tio : " Langsung saja ke ruangan Presdir lantai 14 "


Anisa : " Baik Pak "


Klik telepon ditutup.


" Siapa Io .. ? " tanya Pak Arman


" Anisa menghubungi jika pimpinan Sandyakala Corp sudah ada di bawah Pak " ucap Tio.


" Oh ya.. kamu tunggu diluar, antarkan beliau kesini "


" Siap Pak, kalau begitu saya permisi dulu "


" Ya.. "


Tio keluar ruangan Pak Arman, ia menunggu Pak Aksa pimpinan perusahaan Sandyakala Corp, karena hari ini dijadwalkan akan ada meeting antara pimpinan Sandyakala Corp dan pimpinan MGM Grup perihal pembangunan perumahan bersubsidi untuk masyarakat menengah kebawah, agar mereka dapat memiliki rumah yang layak huni.


Tidak lama, terdengar pintu lift terbuka, Pak Aksa dan sekretaris pribadinya sudah sampai di lantai 14, Tio langsung menyambutnya.


" Selamat siang Pak Aksa, Pak Gerry " ucap Tio.


" Siang Pak Tio "


" Bapak sudah ditunggu di rungan Pak Arman, silakan "


" Terima kasih "


" Pak.. pimpinan perusahaan Sandyakala Corp sudah tiba " ucap Tio.


" Ya.. silakan masuk "


" Selamat siang Pak Arman " Aksa menyodorkan tangan untuk bersalaman.


" Siang, silakan duduk.. silakan " Pak Arman mempersilakan.


" Terima kasih "


" Terima kasih "


" Terima kasih juga untuk kehadirannya ya Pak Aksa, Pak Gerry "


" Sama-sama Pak, santai saja lagipula tadi saya sedang memantau pembangunan hotel, saya teringat ada janji bertemu Pak Arman, maka dari itu saya dan Gerry langsung kesini " ucap Aksa.


" Ya.. " Pak Arman tersenyum.


" Oya.. untuk Dika, dia disini juga kan ? " tanya Aksa.


" Dia hanya sesekali kesini, karena kesibukan pekerjaannya, maklum lah sedang banyak menangani kasus " jawab Pak Arman.


" Hmm.. Ya.. ya.. tadinya saya ingin bertemu dengan pengantin baru " Aksa sedikit tertawa yang disusul.oleh Pak Arman.

__ADS_1


" Mungkin nanti bisa dijadwalkan lagi " ucap Pak Arman.


Pak Arman dan Aksa mulai membicarakan perihal pembangunan perumahan bersubsidi untuk kerjasama mereka, banyak pertimbangan yang mereka utarakan, kedua perusahaan sedang menyamakan visi dan misi dalam pembangunan kerja sama ini.


Disaat yang bersamaan, ada seseorang yang tiba-tiba masuk ke ruangan Pak Arman tanpa permisi. Pintu ruangan terbuka, berdiri sosok pria dengan stelan jas rapi juga dengan wajah penuh amarah, membuat Pak Arman, Aksa dan Gerry menjadi kaget.


Tio tergopoh-gopoh ikut masuk kedalam ruangan.


" Mo..mohon maaf Pak .. Pak Robby menerobos masuk saja, padahal sudah saya jelaskan jika Bapak sedang ada tamu " ucap Tio sedikit takut karena khawatir Pak Arman akan marah.


" Ya sudah tidak apa-apa, kamu kembali ke ruangan kamu "


" Baik Pak permisi "


Tio menutup pintu kembali ke ruangannya.


" Maaf Pak Aksa, Pak Gerry tunggu sebentar " ucap Pak Arman.


" Silakan " Aksa yang terlihat masih bingung.


" Bagaimana ada yang bisa saya bantu ? " tanya Pak Arman.


" Tidak perlu basa basi ya Arman ! "


" Tenang dulu, berbicaralah baik-baik, kita berbicara di raung meeting ya, ada pimpinan Sandyakala Corp disini " ucap Pak Arman mengatur suaranya.


" Saya tidak peduli ! lebih baik mereka tahu jika perusahaan yang Anda pimpin itu seperti apa "


Aksa dan Gerry menjadi tidak enak hati. Ia memberikan kode kepada Gerry untuk keluar dari ruangan terlebih dahulu.


" Pak Arman mohon maaf, saya dan Pak Aksa lebih baik ijin keluar dulu " ucap Gerry .


" Oh ya silakan, mohon maaf Pak Aksa "


Aksa tersenyum " tidak apa-apa saya permisi dulu " .


Aksa dan Gerry keluar ruangan Pak Arman. Diluar ruangan Tio yang melihat Aksa dan Gerry keluar menjadi heran.


" Kenapa Pak ? " tanya Tio.


" Hmm.. Entahlah.. " Aksa kepada Tio.


" Pak Aksa mohon maaf, jika bapak akan menunggu silakan di ruang meeting saja "


" Hmm nanti saya kesini lagi saja, Gerry jadwalkan lagi ya " ucap Aksa.


" Mohon maaf Pak Aksa yang sebesar-besarnya, ini diluar kendali saya " ucap Tio.


" Tidak apa-apa, saya dan Gerry permisi yaa "


" Baik Pak Aksa, mohon maaf sekali lagi "


Aksa hanya tersenyum, lalu berjalan disusul oleh Gerry diantarkan oleh Tio.


" Pak Gerry apakah Pak Aksa tidak apa-apa ? " bisik Tio.


" Tidak.. insyaallah Pak Aksa orang yang mengerti, tenang saja " jawab Gerry.

__ADS_1


" Ya.. baik " Tio mengangguk.


Aksa dan Gerry diantarkan sampai masuk lift, Tio kembali lagi ke meja kerjanya dengan beberapa pertanyaan di benaknya, disatu sisi ia khawatir dengan keadaan bosnya, disisi lain ia bingung, untuk masuk ke ruangan bos nya atau tidak.


__ADS_2