
Setelah adzan Maghrib berkumandang, Dika mengajak Neta, Bian dan Binar untuk shalat begitupun Mbok Sum ikut serta, Neta biasa membiarkan Nala dan Nathan di Stroller nya, asal disimpan cemilan atau mainan kesukaannya mereka tidak akan menangis justru akan anteng bermain.
Setelah selesai melaksanakan ibadah shalat, mereka kembali berkumpul di ruang tengah, tidak lama terdengar ponsel Binar berdering, terlihat nama Ibu nya memanggil di layar ponsel Binar, ia meminta ijin kepada Neta untuk mengangkat teleponnya.
Binar : " Ya, Bu.. "
Ibu : " Kamu dimana ? Rumah kok masih gelap, Ibu sudah sampai rumah "
Binar : " Oh.. ya Bu, Binar segera pulang "
Binar langsung mematikan sambungan teleponnya. Dengan jalan yang masih terpincang-pincang Binar meraih tas nya lalu berpamit kepada sang pemilik rumah.
" Mbak Neta, Pak Dika, Mas Bian, saya pamit, terima kasih banyak sudah menolong saya.. terima kasih banyak.. halo adik kembar, tante pamit pulang yaa.. " ucap Binar pamit sambil menghampiri Nala dan Nathan yang sedang bermain.
" Loh.. mau pulang sekarang ? Ibu mu sudah pulang ? " tanya Neta.
" I..iya Mbak.. terima kasih banyak sekali lagi saya sudah merepotkan " jawab Binar.
" Nggak kok santai aja, lagian juga kita kan tetanggaan, kamu kalo ada apa-apa kesini aja " ucap Neta sudah mulai cair kepada Binar.
" Iiya Mbak terima kasih banyak.. saya permisi.. Assalamu'alaikum " Binar berjalan menuju pintu samping rumah dimana tadi ia masuk melalui pintu itu.
Dika yang melihat Bian terdiam di posisinya, langsung menepuk bahu adik iparnya itu.
" Ian anterin sana " ucap Dika.
Bian langsung menoleh ke arah Neta. Neta mengerti ia langsung mengangguk tanda setuju.
__ADS_1
Bian bergegas mengejar Binar.
" Bin, tunggu.. " ucap Bian seraya setengah berlari ke luar rumah.
" Kenapa Mas ? ada apa ? " tanya Binar membalikkan badannya.
" Euhh.. aku anter ya.. " ucap Bian.
" Mmh.. gak usah Mas gak apa-apa orang deket kok kesebelah " Binar tersenyum.
" Gak apa-apa.. ayo silakan " Bian mempersilakan Binar untuk jalan lebih dulu.
Bian memperhatikan jalan Binar yang masih terlihat menahan sakit di kakinya, ia sangat ingin membantunya berjalan namun ia masih canggung dan ia tahu Binar pasti akan menolaknya, sehingga Bian cukup memperhatikan setiap langkah dari kaki Binar.
Sesampainya di depan pintu gerbang rumah Binar, lampu rumah sudah menyala, Binar tahu mungkin orangtuanya sudah masuk kedalam rumah, karena mereka pun memiliki kunci cadangan rumah, sehingga bisa masuk rumah tanpa menunggu kunci yang dipegang oleh Binar.
Bian mengantarkan Binar sampai pintu utama rumah, ia ingin memastikan jika Binar sudah masuk kedalam rumah. Saat Binar akan membuka pintu rumah, ternyata Ibu nya sudah membuka pintu terlebih dahulu.
" Wa'alaikumusalam.. dari mana kamu ? motor mu ada, tapi kamu dari mana ? " tanya Ibu.
Binar langsung menceritakan apa yang terjadi kepadanya sore tadi.
" Jadi.. Mas Bian ini yang bantu aku Bu " ucap Binar.
" Oh.. oke.. terima kasih sudah membantu anak saya daan... Binar Ibu tunggu di dalam " ucap Ibu Binar lalu kembali masuk kedalam rumah.
Belum juga Bian berkata apa-apa, Ibu Binar sudah masuk kedalam rumah. Binar merasa tidak enak dengan sikap sang Ibu kepada Bian, tapi mau bagaimana memang karakter ibunya seperti itu apalagi kepada seseorang yang belum ia kenal.
__ADS_1
" Mas.. euh... terima kasih ya.. mmh.. ma..maaf juga atas sikap Ibu " ucap Binar pelan.
" O..oh.. gak apa-apa " Bian sedikit tersenyum dipaksakan ia pun menjadi canggung.
" Binaarrr... " Ibu memanggil Binar dari dalam.
" Mas .. saya kedalam ya.. " ucap Binar.
Bian hanya mengangguk.
" Oya.. Bin.. Binar tunggu " ucap Bian.
" Kenapa Mas ? " Binar sambil sedikit gelisah.
" Boleh minta nomor ponsel kamu ? " tanya Bian.
" Oh ya.. boleh.. 081 ... " jawab Binar belum selesai menyebutkan nomor ponsel Bian teringat jika ia menyimpan ponselnya di rumah.
" Aduh... ponselku di rumah " balas Bian sambil menepok sedikit jidat nya.
" Ya udah nomor ponsel Mas Bian mana, nanti saya kirim pesan ya " ucap Binar mengeluarkan ponselnya.
Bian dengan spontan langsung menyebutkan nomor ponselnya.
" Oke saya save, saya masuk dulu, nanti saya kirim pesan ya.. " ucap Binar bergegas masuk kedalam rumah.
Bian hanya mengangguk, lalu ia pun kembali pulang ke rumah kakak iparnya.
__ADS_1
Dalam perjalan pulang ia pun memikirkan sikap Ibu Binar tadi.
Sepertinya perjuanganku baru akan dimulai.