Diam Diam Jatuh Cinta

Diam Diam Jatuh Cinta
BAB 86


__ADS_3

Hari demi hari dilalui oleh Dika dan Neta, mereka melakukan aktifitas nya masing-masing. Dika sibuk dengan pekerjaan nya Neta pun sibuk diperusahaan. Mereka berdua hanya bertemu sore hari bahkan malam hingga pagi. Lalu berpisah lagi dengan aktifitas masing-masing.


Neta sedang memeriksa beberapa laporan perusahaan, entah mengapa hari ini ia merasa sangat tidak bersemangat padahal laporan yang harus ia koreksi cukup banyak.


Neta menyenderkan punggungnya ke senderan kursi, ia sedikit memijit keningnya. Dan memijit tengkuknya.


" Kayanya aku gak enak badan nih " gumam Neta.


Ia langsung menghubungi bagian pantry untuk meminta teh tawar hangat.


Tidak lama OB bagian pantry datang dengan satu gelas teh tawar hangat yang diminta oleh Neta.


" Permisi Bu "


" Oh ya simpan di meja ya, terima kasih "


" Sama-sama Bu Neta, saya permisi "


Neta hanya tersenyum sekilas. Selepas kepergian OB Neta langsung meminum teh hangat nya. Sedikit menghangatkan tubuhnya.


Neta kembali menyenderkan punggung dan kepalanya ke senderan kursi. Ia mulai merasakan sedikit pening di kepalanya, ia memejamkan matanya dan tanpa terasa ia pun tertidur.


Dilain tempat Dika sedang berada dikantornya, sesuai jadwal memang hari ini ia bebas tugas, karena di kantor pun sedang tidak banyak pekerjaan yang ia tangani, ia berniat untuk datang mengunjungi Neta ke perusahaan ia tidak akan menghubungi Neta terlebih dahulu, ia ingin membuat kejutan kepadanya istrinya.


Saat ia bersiap-siap pintu ruangannya diketuk.


" Ijin Bang "


" Kenapa Gin ? " tanya Dika kepada Gino juniornya, Gino satu angkatan dengan Aldo sedangkan Dika satu angkatan dengan Kevin.


" Ijin Bang ada kiriman makanan "


" Kiriman makanan ? " tanya Dika.


" Siap betul Bang "


" Oke makasih "


Dika keluar menyusul Gino yang sudah keluar ruangan lebih dulu. Di meja luar ruangan Dika sudah ada Kevin, Aldo, Gino, seniornya Alfarezy dan beberapa anggota lain.


" Dika.. makanan nih, kiriman " Kevin kepada Dika.


" Dari siapa ? " tanya Dika.


" Dari penggemar " ucap Alfarezy senior Dika.


" Haa... Duh makan aja deh.. saya gak bisa makan makanan yang gak tau dari siapa, bukan nya nolak rejeki nih ya " ucap Dika.


" Yakin gak mau nih ? " tanya Kevin.


" Lagian gak tau dari siapa " jawab Dika.


" Buka dulu buka " ucap Alfarezy.


" Buka dulu aja Bang " ucap Aldo.


" Yang buka harus dimakan ya, nanti mubazir " ucap Dika.


Mereka membuka makanan itu, beberapa box nasi pecel dan beberapa teman nasi.


" Ya udah makan aja " ucap Dika.


" Eh sebentar dulu tadi yang nerima ini siapa di penjagaan? " tanya Aldo.


" Coba tanya Do " Kevin meminta Aldo


Tidak lama Aldo datang kembali dari pos penjagaan.


" Gimana ? " tanya Dika.


" Ijin Bang perempuan Bang, dia titip pesan katanya ini untuk Pak Mahardika dan dia juga mengucapkan terima kasih sudah menolongnya, gitu Bang " ucap Aldo.


" Nah... kan cewek loh Dik " ucap Alfarezy.


" Hayo loh.. siapa tuh ? " ucap Kevin.

__ADS_1


Semua menggoda Dika, Dika hanya mengernyitkan dahinya lalu tertawa.


" Mungkin korban yang pernah kita tolong, sudah makan aja, ini rejeki, hmm ... ada bakwan nih, saya ambil bakwan nya aja, saya pergi dulu .. " ucap Dika sambil berlalu.


" Mau kemana ? " tanya Kevin.


" Ketemu istri " jawab Dika berlalu.


" Ckk... lagi bucin dia " ucap Kevin.


Teman-teman Dika hanya tertawa, mereka akhirnya menyantap makanan kiriman tadi.


...****************...


Dika sudah sampai di parkiran perusahaan, ia keluar mobil berjalan lewat samping perusahaan lalu masuk lewat pintu samping lobby berjalan menuju lift, kantor terasa sepi karena Karyawan sedang sibuk di ruangannya masing-masing.


Dika sampai dilantai 14 ia berjalan menuju meja Tio.


" Io.. " ucap Dika


" Mas Dika.. kok gak nagabarin ? " tanya Tio.


" Suttt.. Neta ada ? " tanya Dika.


" Ada Mas sepertinya, soalnya dari tadi pagi saya belum melihat Mbak Neta keluar ruangannya " jawab Tio.


" Oh gitu oke, saya kedalam dulu "


" Iya Mas silakan "


Dika menuju pintu ruangan istrinya, ia membuka perlahan.


" Tidak dikunci " batin Dika.


Lalu ia masuk perlahan, ia melihat Neta menyenderkan tubuh dan kepala nya ke kursi.


" Kenapa Neta ? dia tidur ? padahal tadi malem gak ngapa-ngapain kok dia bisa ketiduran di kantor ? " gumam Dika.


Ia melihat teh hangat di meja kerja istrinya, beberapa tumpukan file, dan file yang sedang Neta koreksi.


" Yang.. sayang.. " Dika memanggil.


Neta terbangun karena mendengar suara khas yang ia kenal, menoleh kearah suaminya, Neta langsung memeluk suaminya.


" Mas kesini kok gak bilang " tanya Neta.


" Kan kejutan "


" Emangnya kamu gak sibuk di kantor " tanya Neta lagi.


" Lagi gak sibuk, makanya aku kesini " jawab Dika.


Neta masih memeluk suaminya.


" Kamu kenapa ? kalo kamu lelah jangan maksain istirahat aja ya " ucap Dika.


Neta hanya mengangguk tanpa melihat suaminya.


" Kenapa sih Neta " batin Dika.


Dika lalu memegang tangan istrinya terasa berbeda, lalu ia memegang kening istrinya, tubuhnya terasa hangat.


" Sayang kamu sakit ? " tanya Dika mulai panik.


Neta masih terdiam lesu.


" Pulang yuu.. kita ke dokter ya "


" Aku paling masuk angin aja Mas "


" Iya tapi gak bisa didiemin dong " ucap Dika.


" Kerjaan aku masih banyak Mas "


" Gak usah mikirin kerjaan, kesehatan kamu dulu " ucap Dika lagi.

__ADS_1


Dika memapah istrinya duduk di sofa, ia melihat wajah istrinya memang sedikit pucat.


" Wajah kamu pucat loh, ayo pulang kita langsung ke rumah sakit ya.. " ucap Dika.


Neta sudah pasrah karena memang ia merasa tubuhnya sangat lemas, kepalanya terasa pening.


Dika merapikan perlengkapan Neta, ponsel dan semua barang-barang Neta ia masukan kedalam tas istrinya, lalu tas Neta ia pakai, Dika membawa Neta pulang, ia menitipkan perusahaan kepada Tio, karena Neta sedang sakit.


Neta sudah masuk kedalam mobil, Dika mulai menyalakan mesin mengemudikan mobilnya keluar perusahaan.


" Untung aku ke perusahaan, coba kalo hari ini aku gak ke perusahaan gimana kamu nanti sayang " Dika terus saja bergumam.


Neta sudah tidak menghiraukan ocehan Dika, ia langsung memejamkan matanya saat masuk mobil.


" Sayang ke rumah sakit ya, pokonya gak ada penolakan kamu harus diperiksa, aku gak mau kamu sakit " ucap Dika.


Neta tidak menjawab.


Tidak lama mereka berdua telah sampai di rumah sakit, Dika meminta bantuan petugas rumah sakit untuk membawa Neta menggunakan kursi roda.


Neta masuk ke ruang IGD, ia langsung diperiksa oleh dokter jaga disana, Neta banyak ditanya mengenai kesehatannya, dan dokter jaga menyimpulkan jika Neta harus dirujuk ke poli kebidanan dan kandungan.


Neta dibawa menggunakan kursi roda menuju poli kebidanan dan kandungan, Dika dan Neta belum sadar Poli kebidanan dan Kandungan itu poli apa.


Sesampainya di poli kebidanan dan kandungan, Neta dan Dika banyak melihat Ibu-ibu hamil yang akan diperiksa kandungannya.


" Sayang.. kok kamu dibawa kesini ? " tanya Dika.


" Hmm gak tau Mas, ikuti aja deh apa kata dokter "


" Hmm " Dika hanya mengangguk.


Dika dan Neta lama menunggu sampai akhirnya nama Neta dipanggil.


" Ibu Ganeta " ucap perawat.


" Mas aku dipanggil " Neta kepada suaminya.


" Oh ya.. " Dika mendorong istrinya menuju ruangan poli kandungan.


" Ibu Ganeta rujukan dari IGD ya.. " ucap perawat.


" Iya betul Sus "


" Silakan dokter sudah menunggu "


" Terima kasih "


Dika membawa Neta masuk kedalam ruang pemeriksaan poli disana ia sudah disambut oleh Dokter Ramzie selaku dokter kandungan.


( masih ingat siapa dokter Ramzie ? 😁😁 )


" Selamat siang Bu, Pak, ada keluhan apa ? Baru pertama kali kesini ya ? "tanya Dokter.


" Iya Dok "


" Oh ini rujukan dari IGD ya Bu, disini keluhannya pusing, lemas dan agak demam "


" Iya Dok "


" Hmm.. sebelumnya boleh tahu kapan terakhir mentruasi? " tanya Dokter.


" Terkahir menstruasi sekitar 2 bulan yang lalu dok " ucap Neta mengingat.


Dika memperhatikan pertanyaan Dokter kepada istrinya.


" Tanggal pastinya saya lupa " ucap Neta lagi.


" Hmm.. oke kalau begitu.. mari saya periksa dulu "


Neta yang dibantu perawatan merebahkan tubuhnya di bed pemeriksaan.. dokter mulai menggerakkan alat usg ke perut Neta. Dika yang masih bertanya-tanya ada penyakit apa pada diri istrinya sehingga harus diperiksa seperti itu.


Ia sudah berfikir jika terjadi apa-apa pada diri Neta, ia akan berusaha semaksimal mungkin agar istrinya bisa sehat seperti sediakala, tidak peduli pengobatan nya keluar negeri sekalipun.


Saat melihat layar monitor dokter terhenyak kaget. Dika dan Neta pun merasa cemas karena ekpresi Dokter Ramzie saat memeriksa Neta.

__ADS_1


__ADS_2