
Neta masih bingung dengan sikap Dika, Dika masih terus memperhatikan istrinya, sedangkan Neta sendiri masih berdiri tepat dihadapan Dika.
" Mas.. kenapa sih ? suka tiba-tiba aneh " ucap Neta.
" Aku tanya sekali lagi, kamu mau kemana ? " tanya Dika.
" Aku mau ke perusahaan bareng kamu kan sayang " Neta melembutkan suara nya, berusaha untuk bersabar.
" Kaya gitu bibir kamu kalo ke perusahaan ? biar apa ? biar banyak yang lirik gitu iya.. ? " ucap Dika ketus.
Neta mengerti mengapa suaminya menjadi aneh, ia tersenyum kecil.
" Kenapa senyum-senyum ? " tanya Dika masih dengan nada ketus.
" Ya udah aku ganti lipstik nya ya " Neta mengambil tisu untuk menghapus lipstiknya.
" Pake yang biasa aja, yang biasa kamu pake Yang.. " ucap Dika lagi.
" Iya.. " Neta tidak ingin berdebat dengan suaminya.
" Lagian kamu pake lipstik sampe merona gitu buat siapa ? " Dika masih menggerutu.
" Ya buat kamu Mas, aku juga pergi nya kan sama kamu " ucap Neta namun tidak ada balasan dari Dika.
Neta kembali memoles bibir nya dengan lipstik yang tidak terlalu terang, walaupun cocok saja di kulit Neta yang sudah cerah namun dalam hatinya tetap ia ingin menggunakan lipstik yang agak terang sehingga membuat wajahnya lebih terlihat segar dan cerah.
Namun ternyata Dika kurang menyukainya, tidak ingin berdebat Neta menuruti apa yang diinginkan oleh suaminya. Dika masih memerhatikan penampilan istrinya.
__ADS_1
" Udah... Ayo Mas " Neta tersenyum mengajak suaminya.
" Tunggu sebentar " Dika memanggil Neta yang sudah berjalan beberapa langkah.
" Kenapa Mas ? " Neta menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya.
Dika menghampiri Neta, ia membetulkan jilbab yang Neta kenakan.
" Ini rambut kamu keluar satu " ucap Dika tersenyum, mengecup pipi istrinya sekilas.
Neta hanya tersenyum dengan perlakuan suaminya. Neta sudah terbiasa dengan sikap Dika yang kadang-kadang manis semanis madu atau bahkan sebaliknya yang kadang-kadang sedingin kulkas, ketus, menyebalkan sampai menyeramkan.
Mereka berdua turun berjalan menuju meja makan untuk sarapan terlebih dahulu, setelah sarapan pagi, Neta dan Dika berpamit kepada Mbok Sum dan menitipkan Si Kembar ke Kiki, lalu mereka pergi menuju perusahaan.
...****************...
" Pagi Mas Dika Mbak Neta " ucap Tio.
" Pagi Pak Dika, Bu Neta " ucap Lisa.
" Pagi " balas Neta.
Dika hanya mengangguk memberikan kode kepada Tio dan Lisa untuk ikut lalu masuk menuju ruangan Neta.
" Tio.. eeuu.. saya minta tolong, kabari semua karyawan berkumpul di Aula, kecuali 2 orang satpam yang berjaga di depan perusahaan " ucap Dika.
" Baik Mas, saya permisi " ucap Tio.
__ADS_1
" Ya.. "
" Dan kamu Lisa bantu Tio ya " ucap Dika lagi.
" Baik Pak, permisi " balas Lisa
Tinggal Dika dan Neta yang berada di ruangan, Neta duduk di Sofa begitupun Dika.
Ia sesekali melihat foto-foto perusahaan yang terpajang di salah satu sudut ruangan, foto-foto dari awal perusahaan dibangun, sampai perusahaan di pimpin oleh Neta sekarang.
" Hmm.. bagaimana pun aku akan menjaga perusahaan ini agar tetap berdiri " ucap Dika.
Neta menoleh ke arah suaminya lalu tersenyum mengusap-usap pundak Dika.
" Sayang.. bantu aku ya " ucap Dika kepada Neta.
" Hmm " Neta mengangguk tersenyum.
Tidak lama pintu ruangan Neta di ketuk, Tio masuk lalu memberitahu Dika dan Neta jika karyawan hampir seluruhnya sudah berada di Aula.
" Oke Io.. saya dan istri saya sebentar lagi menuju Aula, makasih ya " ucap Dika.
" Sama-sama Mas Dika " Tio kembali menutup pintu ruangan lalu kembali ke meja kerjanya.
" 10 menit lagi aja deh, kita tunggu kumpul semua " ucap Dika.
" Iya Mas .. " Neta berjalan menuju meja nya, melihat beberapa berkas yang tertumpuk di meja kerjanya.
__ADS_1